Beranda Kutai Timur Sangkulirang-Mangkalihat Dipacu Raih Status Geopark Nasional

Sangkulirang-Mangkalihat Dipacu Raih Status Geopark Nasional

147 views
0

Pelaksana Tugas Kepala Dispar Kutim Akhmad Rifanie. Foto: Istimewa

SANGATTA – Upaya penetapan kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat sebagai Geopark Nasional terus menunjukkan perkembangan positif. Pemerintah daerah bersama berbagai pihak saat ini tengah mematangkan dokumen serta kesiapan kelembagaan guna mendukung proses penilaian di tingkat nasional.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kutai Timur (Dispar Kutim) Akhmad Rifanie menyampaikan, pengusulan kawasan tersebut sebagai Aspiring Geopark Nasional telah melalui sejumlah tahapan dan kini memasuki fase penguatan dokumen serta koordinasi lintas sektor.

“Proses pengusulan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat terus berjalan. Saat ini kami fokus menyempurnakan dokumen rencana induk sesuai masukan dari Bappenas selaku Sekretaris Komite Nasional Geopark Indonesia,” ujar Rifanie di Sangatta, Kamis (5/3/2026).

Kawasan yang diusulkan memiliki luas sekitar 22.398,35 kilometer persegi dan mencakup dua wilayah administrasi, yakni Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutim. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu bentang karst terbesar di Indonesia dengan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta nilai budaya yang tinggi.

Dalam pemetaan yang telah dilakukan, terdapat 26 situs warisan geologi yang menjadi dasar utama pengusulan geopark. Sebanyak 15 situs berada di Kabupaten Berau dan 11 situs lainnya berada di wilayah Kutim. Dari jumlah tersebut, delapan situs telah diakui memiliki nilai kepentingan nasional.

Selain kekayaan geologi, kawasan ini juga menyimpan potensi keragaman hayati yang signifikan. Tercatat ada 19 situs biodiversitas yang tersebar di dua wilayah tersebut, dengan rincian 15 situs berada di Berau dan empat situs lainnya berada di Kutim.

Aspek budaya juga menjadi bagian penting dalam penguatan nilai kawasan geopark. Sebanyak 15 situs keragaman budaya telah teridentifikasi, terdiri dari 12 situs di Kabupaten Berau dan tiga situs di Kutim.

Beberapa objek wisata alam di Kutim yang masuk dalam daftar situs warisan geologi antara lain Air Terjun Langga Duae, Air Terjun Tangga Bidadari, Gua Mengkuris, Gua Rimba, serta Liang Tewet yang dikenal memiliki lukisan prasejarah. Selain itu, terdapat pula situs biodiversitas seperti Hutan Lindung Gunung Beriun serta situs budaya di Desa Tepian Budaya.

Rifanie menjelaskan, saat ini pemerintah daerah tengah menyiapkan dokumen rencana induk pengembangan geopark agar sesuai dengan standar yang ditetapkan Komite Nasional Geopark Indonesia.

“Dokumen ini penting agar seluruh aspek, mulai dari konservasi, edukasi, hingga pengembangan pariwisata berkelanjutan, dapat terintegrasi dengan baik,” katanya.

Tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) lintas sektor yang akan diagendakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Forum tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi antarinstansi dalam mendukung pengelolaan kawasan karst secara berkelanjutan.

Salah satu tahapan krusial dalam proses pengusulan ini adalah verifikasi lapangan oleh Tim Verifikasi Geopark Nasional (TVGN). Pemerintah menargetkan proses verifikasi langsung ke kawasan Sangkulirang-Mangkalihat dapat dilaksanakan pada periode April hingga Juli 2026.

Di sisi lain, kesiapan kelembagaan juga terus diperkuat. Pemerintah Kabupaten Berau telah membentuk struktur pengelola geopark di tingkat kabupaten, sementara Pemerintah Kabupaten Kutim saat ini tengah mempersiapkan kelembagaan serupa guna memastikan koordinasi pengelolaan kawasan dapat berjalan efektif.

Sebagai bagian dari penguatan identitas geopark, logo resmi kawasan Sangkulirang-Mangkalihat juga telah diperkenalkan. Logo tersebut memuat unsur siluet lukisan tangan gua, tetesan air karst, bentang pegunungan, serta elemen daun hutan Kalimantan yang merepresentasikan kekayaan alam kawasan tersebut.

Sebagai bagian dari penguatan menuju penilaian geopark nasional, tim geopark Sangkulirang-Mangkalihat di Kutim juga menyiapkan berbagai langkah pendukung. Di antaranya membantu pengisian Form A atau Self Assessment, pembangunan pusat informasi geopark, peningkatan visibilitas melalui papan informasi di destinasi wisata, penyusunan buku saku dan buku geopark, penguatan sekolah Adiwiyata dengan sudut edukasi geopark, pengembangan geoproduk seperti kakao, makanan khas dan kerajinan tangan, serta penyediaan berbagai merchandise geopark seperti rompi, kaos, dan gantungan kunci sebagai identitas kawasan.

Rifanie berharap seluruh upaya tersebut dapat mempercepat penetapan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai bagian dari jaringan Geopark Nasional Indonesia sekaligus mendorong pelestarian kawasan karst yang memiliki nilai ekologis, ilmiah, dan budaya yang tinggi.(kopi14/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini