Beranda Kutai Timur Mengelola Harmoni Industri Sawit di Kutim melalui Dialog FPKS

Mengelola Harmoni Industri Sawit di Kutim melalui Dialog FPKS

24 views
0

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi saat memberikan arahan dalam undangan silaturahmi dan Bukber FPKS. Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA – Sektor perkebunan kelapa sawit tetap menjadi penopang utama stabilitas ekonomi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Di tengah dinamika harga global dan tantangan regulasi lahan, penguatan silaturahmi antara petani swadaya, perusahaan, dan pemerintah daerah menjadi instrumen penting untuk meredam potensi konflik industrial serta sosial.

Semangat kolaborasi ini mengemuka dalam silaturahmi sekaligus acara buka puasa bersama (Bukber) yang digelar DPD Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) Kutim di Cafe Kongko Jalan Dayung, Kamis (5/3/2026) sore. Selain menjadi ajang konsolidasi, kegiatan ini diisi dengan pemberian santunan kepada sejumlah 35 anak yatim yang berasal dari lingkungan rukun tetangga (RT) binaan para pengurus forum di wilayah tersebut. Hadir dalam kegiatan ini Pembina FPKS Kutim Mahyudin, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi dan undangan yang hadir.

Ketua FPKS Kutim Nasaruddin, menegaskan bahwa kehadiran forum ini bertujuan untuk menjembatani komunikasi antara petani mandiri dan perusahaan perkebunan. Menurut dia, pengenalan secara personal antara pelaku usaha dan petani dapat meminimalisir perselisihan di lapangan.

“Kami ingin menjalin silaturahmi agar hubungan berjalan baik. Hal ini penting untuk meminimalisir pertengkaran antara petani swadaya dengan perusahaan. Jika sudah saling kenal, koordinasi untuk penyelesaian masalah akan jauh lebih mudah,” singkat pria yang akrab disapa Unding tersebut.

Sementara itu, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengapresiasi peran FPKS dalam menjaga kondusivitas daerah. Ia mencatat, sejak kehadiran forum petani, konflik agraria maupun sengketa harga antara masyarakat dan perusahaan menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Mahyunadi juga menyoroti peran strategis sektor sawit sebagai bantalan ekonomi. Di saat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta pertumbuhan ekonomi daerah diprediksi mengalami tantangan tahun depan, sektor perkebunan diharapkan mampu menjadi motor penggerak untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Kita berharap Forum Petani Kelapa Sawit bisa menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi. Terlebih dengan kondisi geopolitik global yang dinamis, sawit memiliki peluang besar sebagai solusi energi dunia yang akan berdampak pada keuntungan maksimal bagi petani,” tutur Mahyunadi.

Meski prospek ekonomi cukup cerah, pemerintah daerah tetap mengingatkan para petani untuk tetap waspada dalam melakukan ekspansi lahan. Salah satu isu krusial yang masih dihadapi adalah penanaman sawit di dalam kawasan hutan atau taman nasional.

Mahyunadi menjelaskan, pemerintah terus berupaya memperjuangkan nasib petani yang kebunnya teridentifikasi masuk dalam kawasan hutan melalui mekanisme regulasi pemerintah pusat. Ia menekankan bahwa mediasi akan selalu dikedepankan untuk mencari solusi terbaik bagi semua pihak.

“Sebagai pihak yang lama berkecimpung dalam menangani masalah sawit, saya berkomitmen agar tidak terjadi benturan di lapangan antara operator perusahaan dengan petani. Jika ada masalah yang timbul, segera sampaikan. Kami siap memfasilitasi mediasi,” tegasnya.

Kegiatan yang berlangsung hangat ini ditutup dengan penyerahan paket bantuan tali asih dan paket Ramadan kepada anak yatim sebagai wujud kepedulian sosial para petani sawit terhadap masyarakat sekitar. Sinergi ini diharapkan terus memperkokoh posisi Kutim sebagai lumbung sawit nasional yang tetap mengedepankan keharmonisan sosial.(kopi13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini