Beranda Celebrity News Meneguk Air Sungai Marak yang Bisa Langsung Diminum, Berwarna Merah Pekat dari...

Meneguk Air Sungai Marak yang Bisa Langsung Diminum, Berwarna Merah Pekat dari Akar Pepohonan

516 views
0

Seorang pendaki gunung tengah mengambil air Sungai Marak yang khas berwarna merah mirip air teh yang ada di sepanjang jalur pendakian Gunung Beriun. (Foto: Pro Kutim)

KARANGAN – Gemericik air tak henti-hentinya mendendangkan suara alam nan syahdu, menyambut langkah rombongan Pendakian dan Pengibaran Bendera Merah Putih ” Merdeka dalam Jiwa” yang digagas oleh komunitas pecinta alam (KPA) Sangatta Backpacker beberapa waktu lalu dalam momen HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Alangkah indahnya. Suara itu bersumber pada aliran sungai yang sangat jernih, dengan sedikit bebatuan di dasarnya. Tidak seperti sungai pada umumnya, air yang deras mengalir itu berwarna merah. Menurut Guide (pemandu) dari Desa Karangan Dalam, Kecamatan Karangan yaitu Sumardi yang ikut dalam kegiatan ini mengutarakan jika sungai merah itu sudah ada sejak dulu.

“Karena warna air yang merah seperti air teh, sungai tersebut dinamai Sungai Marak atau sungai merah dalam bahasa Dayak Basap. Air berwarna merah ini berasal dari kontaminasi akar-akar pepohonan di hutan Gunung Beriun yang menjadi hulu sungai yang masih sangat lebat ciri khas hujan tropis di kalimantan. Kalau hanya karena serbuk tanaman, paling sekitar 5 meter sudah tidak jernih lagi. Ini berwarna merah hingga ke desa,” jelasnya.

Pemuda yang aktif di LSM Pemuda Karangan Peduli Bumi (PKPB) itu juga menuturkan juga heran ada empat sungai lain yang juga berhulu di Gunung Beriun, yaitu Sungai Nyuaring, Intai, Nabri, dan Pangean malah justru tidak berwarna merah.

“Jadi hanya di sepanjang jalur pendakian di Gunung Beriun ini kita bisa menemui air merah yang di Sungai Marak yang rasanya tawar dan aman langsung dikonsumsi. Air yang mengalir sejauh 9 kilometer ini pun satu-satunya yang dibutuhkan para pendaki selama ekspedisi untuk memenuhi logistik memasak selama di camp pendakian,” ucap lelaki yang masih punya darah Suku Badui, Banten tersebut.

Hingga kini Sungai Marak menjadi tumpuan bagi warga Kampung Baay yang muaranya berada di Desa Muara Bulan. Namun seiring perkembangannya, kelestarian Sungai Marak mulai terancam pasalnya ada aktivitas penebangan hutan resmi maupun ilegal di Gunung Beriun.

“Tugas kita sebagai penggiat alam untuk melindungi serta mengkampanyekan Gunung Beriun tetap lestari, jangan sampai terjadi kerusakan alam yang masih terjaga di gugusan kawasan pegunungan Karst Sangkulirang Mangkalihat,” bebernya.

Sementara itu, salah seorang dari alumni Siswa Pecinta Alam (Sispala) Kutim Jurni mengungkapkan jika dirinya baru pertama kali meneguk air Sungai Marak. Menurutnya pengalaman di Gunung Beriun limpahan airnya gampang ditemukan, namun tetap harus berhati-hati ketika melintas ketika mengambil air. Area batu dekat sungai cukup licin karena banyak ditumbuhi lumut. Tidak hanya itu di sekitar area Sungai Marak juga dipenuhi rimbunnya tanaman pakis yang cukup lebat.

“Airnya sangat segar dan dingin layaknya ketika mengambil minuman dari freezer. Air Sungai Marak salah satu sumber kehidupan dari kekayaan alam Gunung Beriun yang masih alami, tidak terkontaminasi dari zat-zat berbahaya. Untuk itu kita harus jaga keasrian air tetap terjaga agar bisa menghidupi potensi keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna di beriun,” ucapnya. (hms13)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here