Beranda Kutai Timur Suara dari Pedalaman, Ini Aspirasi Masyarakat Basap ke Pemkab Kutim

Suara dari Pedalaman, Ini Aspirasi Masyarakat Basap ke Pemkab Kutim

302
0

Pertemuan masyarakat Suku Darat Basap bersama Bupati Ardiansyah Sulaiman. Foto: Hasyim/Rosma Pro Kutim

SANGATTA – Di balik keheningan Ruang Arau, Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim), Selasa (28/10/2025), terpatri percakapan yang mengandung harapan dan kejujuran. Sejumlah tokoh adat Suku Darat Basap dari Kecamatan Kaliorang datang membawa pesan, dari tanah leluhur yang mulai kehilangan suara. Mereka menatap Bupati Kutim H Ardiansyah Sulaiman dengan mata yang memendam banyak cerita. Tentang keterasingan, tentang kehidupan yang kian menepi dari perhatian.

Kehadiran masyarakat adat tersebut difasilitasi oleh Lembaga Adat Istiadat Masyarakat Suku Darat Basap. Mereka tidak sekadar memperkenalkan budaya, melainkan membawa sederet aspirasi dan kegelisahan yang selama ini terpendam di wilayah pedalaman.

Ridwan, anggota Dewan Adat Istiadat Suku Darat Basap, membuka percakapan dengan suara tenang namun dalam.

“Kami hidup dengan kondisi serba terbatas. Air bersih sangat sulit didapat. Selama puluhan tahun kami hanya menggunakan air sumur yang kualitasnya kurang baik. Hutan di sekitar tempat tinggal kami juga sudah banyak hilang,” tuturnya lirih.

Ia melanjutkan bahwa berbagai fasilitas publik di wilayah mereka masih jauh dari layak. Mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, hingga sarana ibadah.

“SDM kami juga masih terbatas, dengan fasilitas kesehatan yang minim,” tambahnya, menandaskan realitas yang mereka hadapi saban hari.

Nada serupa datang dari Lamat, Ketua Seksi Adat dan Kebudayaan Lembaga Adat Basap. Ia menegaskan pentingnya menjaga nyala tradisi leluhur yang mulai memudar di tengah gempuran modernitas.

“Upacara adat Basap harus tetap dilanjutkan agar anak cucu tahu asal-usul dan menghargai leluhur mereka. Namun selama ini belum ada pembinaan atau dukungan untuk pelestarian budaya,” ujarnya.

Lamat kemudian menyinggung warisan khas suku Basap berupa baju kebesaran dari kulit kayu jongkok, simbol kebanggaan yang kini nyaris hanya tersisa dalam ingatan.

“Kami berharap ada pelatihan pembuatan baju dari kulit kayu jongkok agar tradisi ini tidak punah,” katanya penuh harap.

Dari sisi pendidikan, Asmuni, anggota Dewan Adat lainnya, menyuarakan keresahan serupa.

“Sekolah memang ada, tapi gurunya tidak ada. Banyak anak-anak Basap yang akhirnya putus sekolah karena tidak ada guru yang menetap,” ungkapnya.

Keterbatasan ini, katanya, membuat mereka sulit berkembang. Generasi muda Basap seolah terhenti di persimpangan antara mimpi dan kenyataan.

Di tengah suara adat itu, hadir Ervita Dwi Astuti bersama suaminya, Bahrun Wardoyo, relawan yang telah lama mendampingi masyarakat Basap.

“Kami hanya ingin mereka bisa hidup lebih sejahtera. Mereka tidak menuntut banyak, hanya ingin diperhatikan. Walaupun kami tidak sedarah, tapi saya sudah menganggap mereka seperti keluarga,” kata Ervita menuturkan dengan nada bergetar, sambil menahan air mata.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyimak dengan seksama. Ia menyampaikan apresiasi atas kejujuran dan keberanian masyarakat adat menyuarakan haknya.

“Pemerintah akan menindaklanjuti dengan membuat kajian terkait rencana pembentukan Kampung Adat Orang Darat Basap. Kita akan lihat kebutuhan lahan pertanian, kebun, tempat tinggal, hingga fasilitas pendidikan dan kesehatan,” tegasnya.

Ardiansyah menilai, pembentukan kampung adat tak hanya menjadi upaya pelestarian budaya, tetapi juga wadah pemberdayaan ekonomi dan pengembangan wisata berbasis budaya. Ia juga memastikan, pemerintah daerah akan memberikan legitimasi hukum kepada Lembaga Adat Basap setelah kajian tuntas dilakukan.

Pertemuan itu berakhir dengan kehangatan dan simbol persaudaraan. Di wajah-wajah masyarakat Basap tersirat rasa lega, seolah untuk pertama kalinya suara mereka benar-benar didengar.

Dari pedalaman Kaliorang, suara kecil itu kini menggema hingga pusat pemerintahan. Suara yang tidak menuntut banyak, hanya memohon agar tanah dan tradisi mereka tidak lagi terpinggirkan oleh zaman.
(kopi8/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini