Manajemen DSN Group saat melakukan dialog bersama awak media di Kutim. Foto: Irfan/Pro Kutim
SANGATTA – Sinergi antara sektor industri dan media massa menjadi pilar penting dalam mengawal transparansi serta keberlanjutan pembangunan di daerah. Hal ini mengemuka dalam pertemuan hangat dalam agenda media gathering sekaligus buka puasa bersama (bukber) antara manajemen PT Dharma Satya Nusantara (DSN) Group dengan para jurnalis Kutim di D’Lounge Hotel Roya Victoria, Selasa (3/3/2026) sore.
CSR Dept Head Kaltim 3 PT DSN Group, FX Ari Setiawan bersama jajaran manajemen yang hadir, menegaskan bahwa media bukan sekadar penyampai informasi, melainkan mitra strategis yang menjadi barometer bagi perusahaan dalam menjalankan tata kelola yang baik. Ia mengapresiasi profesionalisme jurnalis di Kutim yang kini mayoritas telah mengantongi sertifikasi kompetensi.
“Kami sangat menghormati upaya PWI di Kutim yang mendorong jurnalis menjadi profesional melalui sertifikasi. Bagi kami, identitas profesi yang jelas merupakan ‘password’ untuk membangun komunikasi yang sehat dan relevan antara perusahaan dan publik,” ujar Ari sapaan akrabnya.

Dalam pertemuan tersebut, PT DSN Group memaparkan capaiannya yang berhasil masuk dalam jajaran Fortune Southeast Asia 500 (Fortune Asia Tenggara) pada tahun 2024 dan kembali masuk di tahun 2025. Predikat ini diraih atas penilaian tata kelola perusahaan yang berorientasi pada masa depan (sustainability). Ari menjelaskan, keberlanjutan perusahaan tidak hanya bertumpu pada profit, tetapi harus seimbang dengan aspek sosial dan lingkungan.
Saat ini, beberapa unit usaha di bawah naungan PT DSN telah memasuki siklus penanaman kembali (replanting). Dalam proses ini, perusahaan melibatkan masyarakat lokal sebagai mitra vendor, mulai dari tahap penumbangan hingga penanaman kembali.
“Kunci sebuah perusahaan bisa berlanjut terus-menerus adalah komitmen pada lingkungan dan masyarakat tempat kita hidup. Profit bukan satu-satunya yang utama,” tegas Ari.
Selain fokus pada sektor perkebunan kelapa sawit, PT DSN Group mulai menginisiasi diversifikasi ekonomi bagi warga sekitar guna mengurangi ketergantungan pada satu komoditas tunggal. Melalui pendampingan tenaga ahli, perusahaan mendorong masyarakat mengembangkan peternakan ayam petelur dan budidaya nanas.
Di Desa Sangkima dan Desa Karangan Dalam, misalnya, peternakan ayam petelur mulai dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan protein lokal yang selama ini masih dipasok dari luar daerah. Perusahaan tidak hanya memberikan bantuan permodalan, tetapi juga asistensi teknis agar unit usaha masyarakat dapat berdiri kokoh secara mandiri.

“Kita ingin masyarakat tidak hanya bergantung pada sawit. Kami dorong budidaya nanas hingga padi agar kebutuhan nutrisi dan vitamin warga bisa disokong dari lingkungan mereka sendiri,” katanya.
Tantangan interaksi antara aktivitas manusia dan satwa liar juga menjadi perhatian serius. Ari menyebutkan, perusahaan telah memperketat aturan keselamatan terkait keberadaan buaya di aliran sungai sekitar Bengalon dan Sangatta. Larangan memancing kini diberlakukan secara masif bagi karyawan sebagai bentuk mitigasi risiko.
“Kami menetapkan sanksi tegas bagi karyawan yang masih memancing di area rawan. Keselamatan adalah prioritas, dan kami harus memberikan contoh dari internal terlebih dahulu,” terang Ari.
Melalui komunikasi yang hangat dan terbuka dengan 16 media di Kutim, PT DSN Group berharap dapat terus tumbuh bersama masyarakat. Keterbukaan terhadap informasi, termasuk dalam situasi darurat atau insiden lapangan, dipandang sebagai langkah krusial untuk menjaga harmoni dan akuntabilitas perusahaan di mata publik.(kopi13/kopi3)

































