Beranda Kutai Timur Pangan Aman, Fondasi Generasi Emas Kutim

Pangan Aman, Fondasi Generasi Emas Kutim

16 views
0

Bupati Ardiansyah saat buka kegiatan Sosialisasi Keamanan Pangan. Foto : Nasruddin/Pro Kutim

SANGATTA – Derasnya arus modernisasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat, isu keamanan pangan kembali mengemuka sebagai salah satu ihwal (persoalan) mendasar yang menentukan kualitas kehidupan manusia. Kesadaran itulah yang menjadi latar penyelenggaraan Sosialisasi Keamanan Pangan yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) di Ruang Akasia, Gedung Serbaguna Bukit Pelangi, Rabu (24/6/2026).
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman itu bukan hanya menjadi forum penyampaian materi teknis, melainkan juga ruang pengingat bahwa pangan yang dikonsumsi setiap hari memiliki kaitan erat dengan masa depan kesehatan masyarakat dan kualitas generasi mendatang.

Dalam sambutannya, Ardiansyah menegaskan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun sumber daya manusia yang unggul. Menurut dia, kualitas pangan yang aman dan bergizi menjadi salah satu prasyarat penting dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

“Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang menentukan kualitas hidup masyarakat. Salah satu kata kunci Indonesia Emas 2045 adalah anak-anak Indonesia lahir, hidup dan berkembang dengan gizi yang baik,” ujar Ardiansyah.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan tidak semata-mata berbicara mengenai infrastruktur, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Di balik seluruh agenda pembangunan, terdapat kebutuhan yang lebih hakiki, yakni memastikan masyarakat memperoleh pangan yang aman untuk dikonsumsi sejak usia dini hingga dewasa.
Ardiansyah juga menyampaikan apresiasinya kepada Dinas Kesehatan Kutim yang telah menggagas kegiatan tersebut. Menurutnya, tantangan keamanan pangan saat ini semakin pelik dan beragam. Persoalan penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya, rendahnya standar higienitas dalam proses pengolahan makanan, hingga kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pangan sehat masih menjadi pekerjaan bersama yang harus dituntaskan.

“Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus berkomitmen mendukung pembinaan dan pengawasan keamanan pangan. Kami berharap Balai POM terus memberikan arahan kepada para pelaku usaha agar pangan yang beredar di masyarakat benar-benar aman dikonsumsi,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Ardiansyah mengingatkan masyarakat agar lebih arif dalam memilih makanan. Menurutnya, cita rasa tidak boleh menjadi satu-satunya pertimbangan ketika menentukan konsumsi sehari-hari. Kandungan gizi, mutu pangan, serta dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang perlu mendapat perhatian yang sama. Namun demikian, ia menegaskan bahwa keamanan pangan bukanlah tanggung jawab pemerintah semata. Seluruh mata rantai penyedia pangan memiliki kewajiban yang setara, mulai dari produsen, distributor, pelaku usaha, hingga konsumen sebagai pengguna akhir.

“Keamanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama, mulai dari produsen, distributor, pelaku usaha hingga konsumen. Konsumen juga harus bijak dalam mengonsumsi sesuatu, jangan asal konsumsi,” tegasnya.

Pesan tersebut menggambarkan bahwa sistem pangan yang aman hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak menjalankan perannya secara selaras. Produsen menjaga kualitas produk, pelaku usaha menerapkan standar pengolahan yang baik, sementara masyarakat meningkatkan literasi dalam memilih pangan yang layak konsumsi.

Pada kesempatan yang sama, Ardiansyah juga memberikan perhatian khusus kepada organisasi perempuan yang hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, perempuan memiliki kedudukan strategis sebagai penjaga ketahanan kesehatan keluarga. Dari dapur rumah tangga, keputusan mengenai makanan yang dikonsumsi anggota keluarga sebagian besar lahir.

“Peran perempuan sangat strategis dalam menjaga kesehatan keluarga. Saya berharap ibu-ibu yang hadir hari ini dapat menularkan informasi yang diperoleh kepada organisasi, keluarga, hingga masyarakat luas,” ujarnya.

Harapan itu sejalan dengan tujuan utama kegiatan, yakni membentuk jejaring agen edukasi yang mampu menyebarluaskan pemahaman mengenai pangan aman kepada masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh para peserta diharapkan tidak berhenti sebagai wawasan pribadi, melainkan menjadi suluh (penerang) yang menjangkau lingkungan sekitar.

“Pengetahuan yang diperoleh hendaknya tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi diteruskan kepada keluarga, tetangga, kelompok masyarakat, dan komunitas yang lebih luas. Pangan yang aman akan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif,” katanya.

Di penghujung sambutannya, Ardiansyah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kepedulian terhadap keamanan pangan sebagai bagian dari ikhtiar membangun masa depan bangsa.

“Marilah kita tingkatkan kepedulian terhadap keamanan pangan karena pangan yang aman adalah fondasi masyarakat yang sehat dan kuat,” ajaknya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah preventif untuk meningkatkan literasi keamanan pangan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan potensi pangan lokal.

“Kegiatan ini dilaksanakan sebagai langkah preventif atau pencegahan untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, serta mendukung percepatan penurunan angka stunting menuju Kutim Hebat 2045,” ujarnya.

Menurut Yuwana, sosialisasi tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai prinsip-prinsip keamanan pangan beserta regulasinya. Melalui pembekalan itu, para kader organisasi wanita diharapkan mampu mengenali pangan yang aman dan menerapkan tata cara pengolahan yang baik, baik di lingkup rumah tangga maupun usaha mikro.

“Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 130 peserta. Mereka terdiri dari unsur pengurus dan anggota organisasi wanita di Kutim, serta perwakilan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutim,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, Pemkab Kutim berharap gerakan keamanan pangan tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Edukasi yang tersampaikan di ruang pertemuan itu diharapkan menjelma menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat. Sebab, dari pangan yang aman lahir keluarga yang sehat, dari keluarga yang sehat tumbuh generasi yang tangguh, dan dari generasi yang tangguh bertumpu harapan menuju Indonesia Emas 2045. (kopi14/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini