Beranda Kutai Timur Guru Kutim Menang di Panggung Literasi Nasional

Guru Kutim Menang di Panggung Literasi Nasional

67 views
0

Sahari saat menerima penghargaan dari Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman saat Hardiknas 2025. Foto: Dok Pro Kutim 

SANGATTA – Dari sebuah ruang kelas di pinggiran Sangatta Utara, upaya sunyi membangun budaya literasi berbuah pengakuan nasional. Sahari Nor Wakhid, guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, kembali menorehkan capaian bergengsi dalam Festival Literasi Nasional (FLN) yang diselenggarakan Nyalanesia di Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada 22-24 Mei 2026.

Dalam perhelatan literasi tahunan itu, Sahari meraih Juara 1 Adi Acarya Awards kategori Karya Terbaik serta Juara 3 kategori Produktivitas Berkarya. Raihan tersebut sekaligus melanjutkan rekam jejak prestasinya setelah pada tahun sebelumnya ia meraih Juara 2 tingkat nasional dalam kompetisi serupa.

Pencapaian itu tidak hadir dalam sekejap. Di balik penghargaan yang diterimanya, tersimpan ketekunan panjang seorang pendidik yang menempatkan literasi bukan hanya sebagai keterampilan membaca dan menulis, melainkan juga jalan pengabdian.

Festival Literasi Nasional sendiri merupakan agenda tahunan yang dirancang untuk memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan. Program tersebut diawali melalui pendampingan dan mentoring di sekolah-sekolah, kemudian berlanjut pada proses penerbitan karya dalam berbagai kategori, mulai dari siswa, guru, hingga institusi sekolah.

Bagi Sahari, kemenangan bukan muara utama dari proses berkarya. Ia memandang setiap tulisan memiliki jalan hidupnya masing-masing.

“Setiap karya akan menemukan takdirnya sendiri. Bisa saja hanya dibaca, menjadi pencerahan bagi orang lain, atau bahkan diapresiasi sebagai karya terbaik. Tugas saya sebagai guru dan sebagai manusia adalah terus berkarya,” ujarnya.

Kalimat itu mencerminkan cara pandangnya terhadap dunia literasi: tekun, lirih, namun ajek (tetap dan tidak berubah). Di tengah rutinitas mengajar, ia terus memelihara disiplin menulis sebagai bagian dari pengembangan diri sekaligus tanggung jawab moral seorang pendidik.

Ia mengaku menjadikan kompetisi literasi sebagai tolok ukur untuk menilai kualitas serta konsistensi diri dalam menulis. Karena itu, ia menetapkan target pribadi untuk menerbitkan sedikitnya dua buku setiap tahun. Target tersebut bukan sekadar angka, melainkan penanda kesungguhan menjaga keberlanjutan tradisi membaca dan menulis di tengah derasnya arus digital.

Di luar tugasnya sebagai guru, Sahari juga aktif menghidupkan ekosistem belajar di Kabupaten Kutai Timur. Ia dipercaya menjadi Ketua Komunitas Belajar ETAM Kutim periode 2023-2026. Selain itu, ia kerap dilibatkan sebagai juri tingkat kabupaten dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

Perjalanan Sahari menunjukkan bahwa budaya literasi tidak tumbuh dari gegap gempita sesaat. Ia lahir dari ketelatenan, kedigdayaan niat, dan kemauan untuk terus belajar. Dari ruang-ruang belajar sederhana di Sangatta Utara, seorang guru mampu menembus panggung nasional, membawa nama Kutim dikenal lebih luas dalam jagat pendidikan dan literasi.

Di tengah kekhawatiran menurunnya minat baca generasi muda, capaian tersebut menjadi penanda bahwa sekolah masih dapat menjadi tapal (batas penanda) harapan. Bahwa di tangan guru yang tekun, literasi tidak hanya menjadi kegiatan akademik, melainkan juga ikhtiar membangun peradaban kecil yang kelak bertumbuh di tengah masyarakat.

(kopi5/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini