Jalannya peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia gelaran DLH Kutim. Foto: Fuji/ Dewi/Pro Kutim
SANGATTA SELATAN – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Lingkugan Hidup (DLH) memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2026 dengan mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” yang dipusatkan di Lapangan Kantor Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, Jumat (26/6/2026) pagi. Kegiatan tersebut dirangkai dengan aksi bersih-bersih lingkungan, peluncuran gerakan peduli lingkungan, serta penanaman pohon sebagai bentuk komitmen bersama menjaga kelestarian alam.
Kegiatan ini dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua Komisi C DPRD Kutim, kepala perangkat daerah, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kutim, camat, kepala desa, pimpinan instansi vertikal, perwakilan perusahaan, organisasi masyarakat, komunitas lingkungan, ASN, hingga pelajar.
Camat Sangatta Selatan Dewi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Pemerintah Kabupaten Kutim dan DLH yang menunjuk Kecamatan Sangatta Selatan, khususnya Desa Sangkima, sebagai tuan rumah peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun ini.
“Kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan, mengurangi dampak perubahan iklim, serta memperluas tutupan hijau di wilayah Kecamatan Sangatta Selatan,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama, peluncuran program gerakan kebersihan lingkungan, aksi gotong royong, dan bersih-bersih di sepanjang kawasan Jalan Laban Pasar serta lingkungan sekitar. Selain itu, dilakukan penanaman pohon secara simbolis sebanyak 100 bibit dengan berbagai jenis tanaman, seperti ulin, meranti, mangga, nangka, salam, kayu putih, dan gaharu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Aji Wijaya Effendi, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026 sebagai momentum memperkuat kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup yang dirangkai dengan aksi bersih-bersih lingkungan di Kecamatan Sangatta Selatan, khususnya Desa Sangkima.
Dalam sambutannya, Aji menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kecamatan Sangatta Selatan, Pemerintah Desa Sangkima, pihak swasta, komunitas lingkungan, serta masyarakat yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, Hari Lingkungan Hidup bukan hanya kegiatan seremonial tahunan, tetapi menjadi pengingat untuk melakukan aksi nyata dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
“Lingkungan yang bersih dan lestari merupakan warisan berharga yang harus dijaga bersama, baik untuk generasi saat ini maupun generasi yang akan datang,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi awal penguatan gerakan kepedulian lingkungan, dimulai dari tingkat desa hingga kecamatan, sehingga tercipta lingkungan yang aman, sehat, bersih, dan indah.
Aji juga memohon arahan Bupati Kutim agar upaya pelestarian lingkungan dapat terus ditingkatkan melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat.
Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Republik Indonesia, Moh Jumhur Hidayat ditegaskan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat kesadaran dan tanggung jawab bersama terhadap bumi.
Tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” menjadi ajakan agar seluruh elemen masyarakat melakukan tindakan nyata menghadapi tantangan perubahan iklim, degradasi keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
“Dunia saat ini menghadapi tiga krisis planet, yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran. Ketiganya saling berkaitan dan mengancam kehidupan manusia,” demikian pesan yang disampaikan.
Dalam sambutan tersebut juga disampaikan bahwa Indonesia memiliki komitmen dalam pengendalian perubahan iklim melalui berbagai strategi pembangunan rendah karbon. Sebagai negara kepulauan, Indonesia menjadi salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, banjir, longsor, dan kekeringan.
Selain perubahan iklim, persoalan sampah menjadi perhatian serius. Pengelolaan sampah yang belum optimal dinilai dapat memicu pencemaran dan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Karena itu, masyarakat diajak membangun kebiasaan memilah sampah dari sumbernya serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Pertobatan ekologis” menjadi salah satu pesan utama dalam peringatan tersebut, yakni ajakan untuk memperbaiki cara manusia berinteraksi dengan alam melalui perubahan perilaku dan aksi nyata menjaga lingkungan.
Sementara itu dalam arahannya, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan bahwa Kalimantan Timur telah memberikan kontribusi dalam upaya pengurangan emisi karbon. Upaya menjaga hutan dan ekosistem menjadi bagian penting dalam mempertahankan kualitas lingkungan serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, dunia usaha juga memiliki peran strategis dalam menjaga lingkungan, termasuk melalui kegiatan penghijauan dan pemulihan kawasan yang terdampak aktivitas industri.
“Perusahaan harus terus menjaga ekosistem dan hutan. Pengelolaan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha,” katanya.
Bupati juga mengapresiasi keberadaan komunitas peduli lingkungan yang bergerak dalam pengelolaan sampah, termasuk bank sampah, pengolahan plastik, serta produksi pupuk organik dan kompos.
Ia mendorong agar komunitas tersebut terus dikembangkan sehingga sampah tidak hanya menjadi limbah, tetapi dapat menjadi sumber ekonomi sekaligus mendukung kebutuhan penghijauan di wilayah Kutai Timur.
“Jika sampah dapat dikelola dengan baik, jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir bisa berkurang. Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi pupuk, sementara sampah plastik dapat diolah kembali,” ujarnya.
Melalui peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pemerintah Kabupaten Kutim berharap gerakan peduli lingkungan dapat menjadi budaya masyarakat, dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.
Dengan semangat “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, seluruh pihak diajak mengambil peran nyata dalam menjaga bumi agar tetap bersih, sehat, dan lestari bagi generasi saat ini maupun yang akan datang.(kopi15/kopi13/kopi3)





























