Pengusaha Cake Nine C Kartina Yuni menjalankan usaha kulinernya. Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA – Berawal dari kebiasaan sederhana membuat camilan untuk buah hati di rumah, Kartina Yuni kini berhasil mengembangkan usaha kuliner Cake Nine C yang dikenal dengan aneka kue bercita rasa khas. Perjalanan panjangnya menjadi bukti bahwa ketekunan, kemauan belajar, dan konsistensi menjaga kualitas dapat mengubah hobi menjadi peluang usaha yang menjanjikan.
Kartina Yuni merupakan warga asli Sangatta yang lahir dan besar di daerah tersebut. Ia tinggal di Gang Permai Raya Nomor 1, RT 20 Sangatta Utara. Meski sempat menempuh pendidikan di luar daerah karena keterbatasan fasilitas sekolah kejuruan di Sangatta, kecintaannya terhadap kampung halaman tetap membawanya kembali dan berkontribusi melalui usaha yang ia bangun.
“Awalnya hanya membuat camilan untuk anak-anak di rumah. Kemudian saya coba membagikan hasilnya melalui media sosial. Dari situ teman-teman mulai tertarik dan memesan,” ungkap Kartina saat ditemui, Kamis (2/7/2026).
Perjalanan usaha Cake Nine C dimulai pada 2018. Dengan modal keterampilan yang terus diasah secara mandiri, Kartina belajar membuat berbagai jenis kue melalui video pembelajaran di YouTube serta buku resep. Perlahan, pesanan mulai berdatangan hingga usaha rumahan tersebut berkembang.

Nama Cake Nine C memiliki cerita tersendiri bagi Kartina. Nama tersebut terinspirasi dari sembilan buah hatinya yang seluruh namanya diawali huruf “C”. Baginya, nama itu bukan sekadar identitas usaha, tetapi juga simbol kebanggaan dan semangat dalam menjalani perjalanan sebagai seorang ibu sekaligus pelaku usaha.
“Nama Cake Nine C” saya ambil dari anak-anak saya yang berjumlah sembilan. Ini menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan memiliki cerita dan perjuangan,” ujarnya.
Dalam menjalankan usaha, Kartina mengutamakan kualitas rasa dan bahan baku. Ia meyakini bahwa cita rasa menjadi kunci utama agar pelanggan tetap kembali. Meski menawarkan harga yang tetap terjangkau, ia berusaha mempertahankan penggunaan bahan berkualitas.
“Kami menjaga rasa dan kualitas. Walaupun harganya ekonomis dan ramah di kantong, bahan tetap kami pilih yang baik dan berkualitas.” jelasnya.

Produk unggulan Cake Nine C yang banyak diminati pelanggan di antaranya brownies cake ultra serta berbagai jenis kue manis dan kue pasar. Sebelumnya, produksi dilakukan berdasarkan pesanan pelanggan. Namun dalam beberapa waktu terakhir, Kartina mulai mencoba sistem penjualan langsung sebagai langkah awal menuju rencana memiliki outlet sendiri.
Menghadapi persaingan usaha kuliner, Kartina memiliki strategi sederhana namun kuat, yakni menjaga rasa, memberikan harga yang bersahabat, serta membangun hubungan baik dengan pelanggan. Ia juga memberikan perhatian khusus kepada pelanggan lama melalui layanan tambahan maupun bonus tertentu.
“Yang paling penting pelanggan tetap percaya dengan rasa. Kalau rasa terjaga, mereka akan kembali,” katanya.
Dalam sehari-hari, tantangan terbesar yang dihadapi Cake Nine C adalah kebutuhan dekorasi kue dan ketersediaan bahan tertentu. Beberapa bahan pendukung dekorasi terkadang sulit diperoleh di daerah Sangatta, sehingga membutuhkan persiapan lebih awal, terutama untuk pesanan dengan desain khusus.

Meski demikian, tantangan tersebut tidak membuatnya berhenti. Kartina tetap menerima berbagai pesanan, mulai dari kue ulang tahun, pernikahan, hingga permintaan dengan desain khusus sesuai keinginan pelanggan.
“Kalau membuat kue pasti pernah mengalami kegagalan. Yang penting jangan menyerah, terus belajar, dan pantang mundur,” pesannya kepada masyarakat yang ingin memulai usaha kuliner.
Dari usaha kecil di rumah, Cake Nine C kini telah memiliki ratusan pelanggan. Perkembangannya menjadi gambaran bahwa usaha yang dibangun dengan kesabaran mampu tumbuh dan memberi manfaat.
Ke depan, Kartina berharap Cake Nine C dapat berkembang lebih besar, memiliki tempat usaha sendiri, serta melibatkan anak-anaknya sebagai bagian dari perjalanan bisnis keluarga tersebut.
Perjalanan seorang perempuan dalam membangun usaha sering kali lahir dari kisah yang penuh warna. Begitu pula dengan Kartina Yuni, pemilik usaha kue Cake Nine C, yang membuktikan bahwa rasa minder dapat berubah menjadi energi besar untuk menciptakan karya dan kemandirian.
Memiliki sembilan orang anak, Kartina mengaku pernah merasakan rasa malu dan kurang percaya diri. Namun, perasaan tersebut justru menjadi titik balik yang mendorongnya untuk bangkit dan membuktikan bahwa banyaknya tanggung jawab keluarga bukanlah penghalang untuk berkembang.
“Dulu sempat merasa minder karena punya sembilan anak. Tapi dari rasa itu saya berpikir bagaimana caranya agar saya bisa menjadi lebih baik, terus belajar, dan menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan,” ujar Kartina.
Berbekal tekad dan kemauan untuk mencoba, Kartina mulai merintis usaha di bidang kuliner, khususnya olahan kue. Dari langkah kecil tersebut, perlahan usaha yang dibangunnya mulai dikenal masyarakat. Cake Nine C tumbuh bukan hanya sebagai usaha rumahan, tetapi menjadi ladang kreativitas yang mampu menjangkau banyak pelanggan.
Bagi Kartina, setiap adonan yang dibuat bukan sekadar campuran bahan, melainkan simbol perjuangan. Ia mengibaratkan perjalanan usahanya seperti kue yang membutuhkan proses panjang sebelum menjadi sajian yang sempurna.
“Dalam membuat kue ada proses mengaduk, memanggang, dan menunggu sampai matang. Begitu juga kehidupan, semua butuh proses. Yang penting jangan menyerah,” ungkapnya.
Ketekunan dan konsistensi dalam menjaga kualitas produk menjadi kunci berkembangnya usaha tersebut. Kini Cake Nine C telah memiliki ratusan pelanggan yang mempercayai cita rasa dan hasil karyanya.

Kartina juga berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi perempuan lain, khususnya para ibu, agar tidak ragu mengembangkan potensi diri.
Menurutnya, keluarga bukanlah batas untuk berkarya, melainkan alasan untuk terus berjuang. Ia percaya setiap orang memiliki kesempatan untuk tumbuh selama mau belajar dan berusaha.
“Jangan melihat kekurangan sebagai penghalang. Kadang dari hal yang membuat kita merasa kecil, justru bisa lahir kekuatan besar,” tutup Kartina.
Kisah Kartina Yuni menjadi gambaran bahwa keberhasilan tidak selalu berawal dari kondisi sempurna. Terkadang, justru dari keraguan dan tantangan, lahir keberanian yang membawa seseorang menuju keberhasilan.
Kisah Kartina Yuni menjadi potret bahwa sebuah mimpi tidak selalu dimulai dengan langkah besar. Terkadang, ia tumbuh dari dapur sederhana, dari tangan yang tekun, dan dari keberanian untuk terus mencoba hingga menghasilkan karya yang dikenal banyak orang.(kopi 15/kopi13/kopi3)

































