Beranda Kutai Timur Ritual Belian Kutai Pantun Erau Embuang, Menjaga Keseimbangan Semesta di Marukangan

Ritual Belian Kutai Pantun Erau Embuang, Menjaga Keseimbangan Semesta di Marukangan

25 views
0

Jalannya prosesi Ritual Belian Kutai Pantun Erau Embuang yang dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman.Foto: Irfan/Pro Kutim

SANDARAN – Detak gendang tradisional bersahut-sahutan memecah keheningan pagi di Balai Adat Desa Marukangan, Kecamatan Sandaran, Kamis (6/8/2026). Di dalam balai yang dipadati warga berbusana adat khas Kutai, prosesi sakral Belian Kutai Pantun Erau Embuang Panas Pelas berlangsung khidmat.

Ritual tahunan ini bukan sekadar seremonial budaya, melainkan wujud nyata keimanan masyarakat lokal dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Kegiatan ini pun disaksikan langsung oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Plt Camat Sandaran Mulyadi, Kepala Desa Marukangan Endi Haryanto, Ketua Pemangku Adat Kutai Kasmo dan Ketua Panitia Awang.

Pelaksanaan Erau Embuang Panas di Marukangan tahun ini menyedot perhatian luas dari berbagai lapisan masyarakat. Ritual pelas atau penyucian kampung ini diyakini sebagai penolak bala serta penetralisir energi negatif yang dapat mengganggu ketenteraman warga desa. Di tengah deru modernisasi dan masifnya aktivitas industri di wilayah pesisir Kutim masyarakat adat Desa Marukangan tetap teguh melestarikan warisan leluhur yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Prosesi inti Belian dipimpin oleh pemuka adat setempat yang membacakan pantun-pantun sakral serta mantra penolak bala. Setiap bait yang dilantunkan mengandung permohonan keselamatan, kesuburan tanah, serta perlindungan bagi segenap warga desa dari segala bentuk marabahaya.

Bagi masyarakat Kutai, pantun bukan sekadar sarana komunikasi lisan atau hiburan semata, melainkan medium spiritual untuk berkomunikasi dengan alam semesta. Alunan irama musik tradisional yang mengiringi jalannya ritual menciptakan suasana magis yang mendalam. Para tetua adat tampak khusyuk mengikuti setiap tahapan prosesi, mulai dari penyucian ruang balai adat hingga puncaknya pada ritual “embuang panas” atau membuang unsur-unsur panas yang melambangkan sengketa dan mara bahaya agar lenyap dari kampung.

Kehadiran para tokoh masyarakat dan pemuda dalam acara ini menunjukkan adanya estafet pelestarian budaya yang berjalan dengan baik. Generasi muda Desa Marukangan tampak antusias menyaksikan jalannya ritual dari dekat, menyerap nilai-nilai luhur tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan keharmonisan sosial.

“Kecamatan Sandaran yang berbatasan langsung dengan laut lepas menyimpan kekayaan budaya pesisir yang begitu khas. Pelaksanaan Erau di wilayah ini menjadi salah satu benteng pertahanan terakhir dalam menjaga identitas kultural masyarakat Kutai di tengah dinamika zaman yang kian cepat berubah,” sebut Ketua Panitia Awang.

Selanjutnya, para tokoh adat berharap pemerintah daerah dapat terus memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi semacam ini. Sebab, di balik kemajuan infrastruktur dan pembangunan ekonomi, keberadaan tradisi adat adalah jangkar moral yang mengikat solidaritas warga.

“Ritual Belian Kutai Pantun Erau Embuang Panas Pelas di Marukangan membuktikan bahwa kebudayaan lokal tidak pernah surut, melainkan terus berdenyut sebagai ruh kehidupan masyarakat yang arif dan bermartabat,” tutupnya.(kopi13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini