Bupati Ardiansyah Sulaiman saat melakukan panen semangka di lahan Poktan Harapan Jaya sekaligus audiensi bersama Poktan Wahana Kencana. Foto: Irfan/Pro Kutim
KAUBUN – Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, mendorong transformasi besar-besaran di sektor pertanian dengan menargetkan pembukaan 20 ribu hektare lahan padi. Ambisi ini disampaikan Bupati saat melakukan kunjungan kerja usai melakukan panen buah semangka bersama Kelompok Tani (Poktan) Harapan Jaya dan audiensi bersama Poktan Desa Bumi Rapak di Kecamatan Kaubun, Jumat (16/1/2026) siang, sebagai langkah strategis melampaui capaian swasembada pangan kabupaten tetangga.
Bupati Ardiansyah Sulaiman yang didampingi Anggota DPRD Kutim Ardiansyah dan sejumlah jajaran perwakilan Forkopimcam Kaubun menegaskan bahwa Kutim memiliki potensi lahan yang jauh lebih luas dibandingkan Kutai Kartanegara (Kukar) yang saat ini memiliki sekitar 21 ribu hektare lahan padi. Ia meminta dinas terkait terutama Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim segera melakukan inventarisasi potensi lahan di seluruh desa, baik untuk kategori sawah maupun padi kering.

Dalam arahannya, Bupati memetakan pembagian lahan strategis. Dari total 100 ribu hektare potensi yang ada, 20 ribu hektare akan difokuskan untuk tanaman padi, sementara 80 ribu hektare sisanya dialokasikan untuk sektor hortikultura, perkebunan, hingga peternakan.
“Kukar itu total tanaman padi sawah dan keringnya ada 21 ribu hektare. Kita ini luar biasa luasnya, namun belum memenuhi itu. Saya minta tahun ini segera inventarisasi dan komunikasikan dengan semua desa mengenai potensi yang ada,” ujar Bupati Ardiansyah.
Optimisme Bupati didorong oleh munculnya gelombang petani muda atau milenial di Kutim contohnya saja bentukan DPD KNPI Kutim dalam Kelompak Tani Muda (KTM). Menurutnya, citra pertanian kini telah berubah menjadi sektor yang sangat menjanjikan secara finansial. Ia mencontohkan bagaimana petani kini lebih mudah mendapatkan penghasilan melalui komoditas sayuran dibandingkan sawit yang memerlukan masa tunggu lama.

“Petani milenial sekarang harus siap turun ke lapangan karena pendapatannya sangat menjanjikan. Dengan dukungan teknologi dan mesin, pengerjaan lahan luas bisa dilakukan dengan tenaga kerja yang lebih efisien,” tambahnya.
Selain dukungan teknis, Bupati bergerak cepat dalam hal permodalan dan bantuan ternak dengan menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kutim. Bupati Ardiansyah mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalin komunikasi langsung dengan Ketua Baznas Kutim Masnif Sofwan untuk penyaluran bantuan ternak domba.
Langkah memilih Baznas diambil karena proses birokrasinya yang dinilai lebih taktis dibandingkan mekanisme anggaran pemerintah yang harus menunggu perubahan anggaran atau tahun depan.
“Saya baru saja telepon Ketua Baznas, beliau siap mengirim 100 ekor domba lagi. Saya minta kelompok tani segera siapkan data dan kandangnya. Mengapa lewat Baznas? Karena lebih cepat responnya,” jelas Bupati.
Namun, ia mengingatkan bahwa bantuan melalui Baznas dikhususkan bagi masyarakat yang masuk dalam kriteria penerima zakat (mustahik). Program ini diharapkan menjadi pemicu kemandirian ekonomi bagi keluarga prasejahtera melalui sektor peternakan.

Bupati Ardiansyah juga berbagi pengalaman pribadinya dalam mengelola pertanian terpadu (integrated farming) di lahan dua hektare yang mengombinasikan sapi, bebek, ayam, angsa, hingga pisang. Meski sempat terdampak banjir, model ini terbukti mampu memberikan hasil yang beragam.
Menutup arahannya, Bupati mengapresiasi tokoh petani lokal seperti Muhammad Zainal yang telah menjadi ikon petani Kutim dan aktif membagikan ilmu melalui sekolah lapangan.
Ia berharap semangat “Komite Tani Muda” yang digelorakan bersama KNPI dan STIPER dapat terus menyebar ke seluruh kecamatan untuk memastikan kedaulatan pangan Kutim di masa depan.(kopi13)




































