Beranda Kutai Timur APBD Kutim Tertekan, TPP ASN Terdampak Pemangkasan

APBD Kutim Tertekan, TPP ASN Terdampak Pemangkasan

2,462 views
0

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi saat menghadiri kegiatan Bukber KKSS Kutim. Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menghadapi tantangan fiskal yang berat pada tahun anggaran 2025. Penurunan signifikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) memaksa pemerintah daerah melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk pemotongan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) hingga 65 persen.

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi mengungkapkan bahwa meskipun APBD 2025 tercatat sebesar Rp 5,1 triliun, angka efektif yang dapat digunakan untuk pembangunan hanya berkisar di angka Rp 4,6 triliun. Hal ini dikarenakan sebagian alokasi harus digunakan untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran utang progres tahun sebelumnya.

“Kondisi ini membuat kita tertatih-tatih untuk menyelesaikan semua urusan program unggulan serta komitmen janji kepada seluruh masyarakat,” ujar Mahyunadi dalam kesempatan berbagi cerita saat menghadiri kegiatan undangan buka puasa bersama (Bukber) Keluarga Kerukunan Sulawesi Selatan (KKSS) di Cafe Teras Belad, Jumat (27/2/2026).

Penurunan ini terasa kontras jika dibandingkan dengan proyeksi awal atau periode sebelumnya yang sempat menyentuh angka Rp 10 triliun. Mahyunadi menjelaskan, hilangnya potensi anggaran lebih dari Rp 6 triliun dari asumsi awal saat penyusunan visi-misi berdampak langsung pada struktur belanja daerah.

Salah satu dampak yang paling dirasakan oleh aparatur sipil negara (ASN) adalah pemangkasan TPP ASN yakni PNS dan PPPK. Berdasarkan aturan perundangan, alokasi belanja pegawai dibatasi maksimal sebesar 30 persen dari total APBD.

“Jika APBD kita Rp 10 triliun, belanja pegawai bisa mencapai Rp 3 triliun. Namun, dengan APBD yang kini di angka Rp 5 triliun, maksimal belanja pegawai hanya Rp 1,7 triliun. Inilah yang menyebabkan TPP harus turun,” jelasnya.

Data menunjukkan, TPP yang semula berada di angka Rp 4,5 juta kini menyusut menjadi sekitar Rp 1,6 juta hingga Rp 1,8 juta. Pemotongan ini memicu keluhan di kalangan pegawai, mengingat banyak dari mereka yang mengandalkan TPP untuk biaya hidup sehari-hari karena gaji pokok telah dialokasikan untuk cicilan rumah atau kendaraan.

Meskipun ruang gerak fiskal sangat terbatas, Mahyunadi menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap berupaya menjaga keberlangsungan 50 program unggulan. Pemerintah memilih strategi pembangunan simultan meski dengan skala yang tidak terlalu masif.

“Kita tidak mau kalah akal. Walaupun pembangunan terasa lebih berat, minimal semua program tetap berjalan secara simultan meski tidak sebesar atau semasif yang direncanakan di awal,” pungkasnya.(kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini