Beranda Kutai Timur Jadi ASN Bukan Sekadar Lulus Seleksi, Bupati Kutim Ingatkan Jaga Integritas, jangan...

Jadi ASN Bukan Sekadar Lulus Seleksi, Bupati Kutim Ingatkan Jaga Integritas, jangan “Baper”

98 views
0

Bupati Ardiansyah Sulaiman menyerahkan piagam penghargaan kepada CPNS dengan nilai sangat memuaskan saat penutupan Latsar CPNS Golongan III Angkatan I dan II Tahun 2026 di Kantor Bupati Kutai Timur. Foto: Alvian/Pro Kutim 

SANGATTA – Suasana Ruang Meranti di Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim), Jumat, (5/6/2026), dipenuhi wajah-wajah yang menandai berakhirnya satu fase penting dalam perjalanan mereka sebagai aparatur negara. Sebanyak 86 peserta Pelatihan Dasar (Latsar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan III Angkatan I dan II Tahun 2026 menuntaskan proses pembentukan kompetensi dan karakter yang menjadi gerbang awal memasuki dunia birokrasi.

Namun, bagi Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, keberhasilan melewati seleksi dan pelatihan bukanlah tujuan akhir. Justru dari titik itulah amanah besar sebagai pelayan masyarakat dimulai.

Dalam penutupan Latsar yang turut dihadiri Deputi Bidang Penyelenggaraan Pembinaan Kapasitas ASN Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Tri Widodo Wahyu Utomo secara daring, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kutim Misliansyah, serta sejumlah pejabat daerah, Ardiansyah mengingatkan para CPNS agar memaknai status ASN sebagai kehormatan yang harus dijaga dengan integritas dan pengabdian.

“Banggalah menjadi PNS. Kehadiran saudara sebagai ASN harus menjadi bukti dedikasi dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara,” ujar Ardiansyah.

Pesan tersebut bukan sekadar nasihat normatif. Di hadapan para peserta, ia membuka lembaran perjalanan hidupnya sendiri ketika mengikuti seleksi CPNS pada awal dekade 1990-an. Kala itu, Ardiansyah dinyatakan lulus pada dua formasi sekaligus, yakni sebagai guru Madrasah Aliyah Negeri di lingkungan Departemen Agama dan guru SMA di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kendati berhasil melewati seleksi, jalan menuju pengangkatan sebagai CPNS ternyata tidak berlangsung secepat yang dibayangkan.

“Saya lulus di dua instansi sekaligus. Waktu itu tidak ada macam-macam, tidak ada backing. Kalau memang lulus ya karena kemampuan sendiri. Tetapi setelah dinyatakan lulus, saya harus menunggu cukup lama sampai SK CPNS keluar,” kenangnya.

Masa penantian selama sekitar satu tahun itu tidak diisi dengan keluh kesah. Sebaliknya, ia memilih bekerja sebagai karyawan perusahaan tambang sembari menunggu Surat Keputusan pengangkatannya diterbitkan. Pengalaman tersebut, menurut Ardiansyah, menempa watak kemandirian yang telah ia pelajari sejak usia sekolah dasar.

“Saya sudah terbiasa hidup mandiri sejak SD. Ketika SK belum keluar, saya bekerja dulu sebagai karyawan tambang. Hidup sederhana dan menjalani apa yang ada. Yang penting tetap berusaha dan tidak bergantung pada orang lain,” tuturnya.

Dari pengalaman itu, ia memetik satu pelajaran penting, keberhasilan tidak lahir dari jalan pintas. Setiap capaian menuntut kesabaran, ketekunan, dan kejujuran dalam menjalani proses. Karena itu, para CPNS yang telah berhasil menembus tahapan seleksi yang kompetitif diminta untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Status sebagai ASN harus diwujudkan melalui profesionalisme, etos kerja, serta pelayanan publik yang berkualitas.

Ardiansyah juga menyoroti pentingnya menjaga harmoni dalam lingkungan kerja. Menurutnya, birokrasi yang sehat hanya dapat dibangun melalui kerja sama, saling menghormati, dan kemampuan mengendalikan ego pribadi.

“Jangan baper, jangan merajuk. Mari kita bekerja sama dengan baik. Jangan membuat titik noda di bejana yang putih. Jangan karena kepentingan pribadi kemudian merusak kepercayaan yang sudah diberikan kepada kita,” pesannya.

Penekanan mengenai integritas dan karakter ASN juga mengemuka dalam sambutan Deputi Bidang Penyelenggaraan Pembinaan Kapasitas ASN LAN RI Tri Widodo Wahyu Utomo. Ia menilai pelatihan dasar merupakan investasi jangka panjang dalam membangun birokrasi yang lebih adaptif terhadap tuntutan zaman. Menurut Tri Widodo, tantangan pelayanan publik yang masih dihadapi Indonesia menuntut hadirnya aparatur yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki watak pelayanan yang kuat.

Ia mengingatkan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto beberapa waktu lalu menyoroti masih adanya praktik birokrasi yang lamban dan berbelit-belit. Kondisi tersebut, kata dia, harus menjadi bahan perenungan bersama untuk menghadirkan tata kelola pemerintahan yang lebih efektif dan responsif.

“Kita harus memastikan Indonesia dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan memiliki sosok birokrasi baru yang lebih efisien, lebih modern, lebih kompeten, lebih berdampak, dan lebih berorientasi pada pelayanan. Kompetensi itu juga harus didukung oleh karakter, sikap perilaku, dan nilai-nilai dasar ASN yang kuat,” ujar Tri Widodo. Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara seketika. Oleh sebab itu, Latsar menjadi wahana strategis untuk menanamkan nilai-nilai dasar ASN sejak awal masa pengabdian.

“Dalam rangka menyiapkan birokrasi masa depan yang lebih kompeten, lebih berorientasi pelayanan, sekaligus memiliki karakter yang kuat, maka keberadaan Latsar menjadi sangat penting. Karena itu kami memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Timur yang menunjukkan komitmen luar biasa dalam pembangunan sumber daya manusia aparatur,” katanya.

Tri Widodo menambahkan, para CPNS yang saat ini menyelesaikan Latsar merupakan generasi baru birokrasi yang diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan dan pelayanan publik pada masa mendatang.

“Mereka inilah yang nantinya diharapkan menjadi solusi terhadap berbagai persoalan yang selama ini dihadapi. Karena itu proses pembentukan kompetensi dan karakter sejak awal menjadi sangat penting,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BKPSDM Kutim Misliansyah melaporkan bahwa dari 86 peserta Latsar CPNS Golongan III Angkatan I dan II Tahun 2026, sebanyak 85 peserta dinyatakan lulus. Adapun satu peserta lainnya masih ditunda kelulusannya berdasarkan rekomendasi tim penguji. Menurut Misliansyah, penundaan tersebut berkaitan dengan proyek aktualisasi yang menjadi salah satu komponen penilaian dalam Latsar. Tim penguji menilai masih terdapat sejumlah aspek yang perlu disempurnakan.

“Dari 86 peserta, 85 dinyatakan lulus. Satu peserta ditunda kelulusannya karena hasil aktualisasi yang disampaikan masih memerlukan penyempurnaan sesuai rekomendasi tim penguji,” jelas Misliansyah.

Peserta yang bersangkutan diberikan waktu dua minggu untuk melakukan perbaikan sesuai catatan yang telah diberikan. Kesempatan perbaikan diberikan selama dua minggu. Jika dalam jangka waktu tersebut peserta dapat memenuhi seluruh rekomendasi yang diberikan, maka yang bersangkutan dapat dinyatakan lulus. Namun apabila tidak dilakukan perbaikan sesuai ketentuan, maka peserta tersebut akan dinyatakan tidak lulus Latsar.

Penutupan Latsar itu pada akhirnya tidak hanya menandai berakhirnya sebuah pelatihan. Ia menjadi penanda awal perjalanan panjang para calon aparatur negara untuk membuktikan bahwa kehadiran birokrasi sejatinya bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Di tengah tuntutan masyarakat yang kian tinggi terhadap kualitas pelayanan publik, integritas, kompetensi, dan kematangan karakter menjadi bekal utama yang akan menentukan sejauh mana kepercayaan publik dapat terus dijaga. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini