Beranda Pemerintahan Hadiri Kuliah Umum dan Bedah Buku Aldera 1998 – Ardiansyah Ingatkan Mahasiswa...

Hadiri Kuliah Umum dan Bedah Buku Aldera 1998 – Ardiansyah Ingatkan Mahasiswa Jaga Tonggak Demokrasi

188 views
0

Bupati Kutai Timur (Kutim) H Ardiansyah Sulaiman menghadiri Acara bedah Buku Aldera Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999 di Gor 27 September Universitas Mulawarman, Selasa (28/2/2023). Foto: Basuki Isnawan Pro Kutim

SAMARINDA – Acara bedah Buku Aldera Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999 di Gor 27 September Universitas Mulawarman, Selasa (28/2/2023) lalu turut dihadiri Bupati Kutai Timur (Kutim) H Ardiansyah Sulaiman. Hadir pula sebagai pemateri talkshow, Dosen Fakultas Hukum Unmul, Herdiansyah Hamzah dan Dosen FISIP Unmul, Sri Murlianti. Acara tersebut juga dirangkai dengan penanaman pohon demokrasi di halaman Gor 27 September.

Buku Aldera (Aliansi Demokrasi Rakyat) adalah tulisan yang digagas dari Anggota VI Badan Pengawas Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) Pius Lustrilanang yang berkesempatan hadir sebagai keynote speaker. Dengan Tim Penulis buku yaitu Teddy Wibisana, Nanang Puja Laksana, dan Rahadi T. Wiratama. Buku ini menjadi menarik karena memberi kesaksian bagaimana Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999 meruntuhkan kediktatoran rezim Soeharto kala itu.

Bupati Kutim H Ardiansyah Sulaiman usai menghadiri kegiatan dimaksud mengatakan ia bangga bisa hadir dalam Kuliah Umum dan Bedah Buku Aldera. Karena mendapat motivasi dari hasil bedah buku oleh para akademisi.

“Intinya (buku) Aldera ini mengingatkan tentang peristiwa yang terjadi waktu itu dan sangat luar biasa. Khususnya 15 Februari 1974 silam. Para pemuda pro demokrasi bangkit melawan rezim otoriter,” kata Ardiansyah yang mengenakan kemeja batik warna biru.

Kemudian perlawanan rezim otoriter terjadi dan puncaknya pada 1998 terjadi reformasi. Ardiansyah menyebut para 1998 menjadi puncak kegiatan penegakkan demokrasi. Melalui buku Aldera, sudah seharusnya para mahasiswa sebagai penerus bangsa bisa memahami sejarah dimaksud sebagai proses reformasi.

“Untuk selanjutnya menjaga tonggak demokrasi tersebut agar semakin kokoh dan tak runtuh,” tegasnya.

Terakhir dikisahkan sedikit olehnya, dahulu, demokrasi di Indonesia berlangsung tertutup, sehingga tak bisa berjalan seutuhnya. Suara rakyat hanya dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Dia berharap hal tersebut tak terulang dan demokrasi di negara Indonesia bisa semakin baik dan dewasa. (kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini