Beranda Kutai Timur Nada Lama Semangat Baru, Tarsul Hadir Lagi di Panggung FPB Kutim

Nada Lama Semangat Baru, Tarsul Hadir Lagi di Panggung FPB Kutim

48 views
0

Fauzi dan Alya tampil degan Tarsul yang memukau. Foto: Zaki/Pro Kutim

SANGATTA – Keindahan sastra lisan dan musik tradisional Kutai menjadi sorotan utama pada penutupan Festival Pesona Budaya (FPB) Kutai Timur (Kutim) 2025 yang diselenggarakan Minggu (23/11/2025) di Lapagan Alun-alun Bukit Pelangi. Kesenian klasik Tarsul berhasil memukau pengunjung yang hadir sebagai wadah memperkuat identitas budaya daerah.

Dalam laporan awal kegiatan, Tarsul diumumkan sebagai salah satu penampil utama, dibawakan oleh talenta muda Kutim, yaitu Zahud Fauzi Abror dan Nur Alya Anugerah Putri. Kehadiran Tarsul dalam event sebesar FPB ini menunjukkan komitmen Pemkab Kutim untuk terus mengangkat dan melestarikan seni pertunjukan yang terancam tergerus zaman.

Tarsul adalah kesenian khas Suku Kutai yang menggabungkan unsur musik dan sastra lisan. Biasanya dibawakan oleh dua orang atau lebih, Tarsul menyampaikan cerita, nasihat, atau pantun yang dibalut dengan irama musik tradisional.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman secara khusus menyoroti nilai penting kesenian ini.

“Salah satu yang memang tadi kita tampilkan terkait dengan budaya Tarsul, yang merupakan budaya klasik kesenian Kutai,” ungkap Bupati dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa budaya klasik seperti Tarsul mencerminkan kehidupan pada saat komunitas ada dan daerah itu tumbuh, menjadikannya warisan yang tak ternilai.

Melihat potensi dan pentingnya Tarsul, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim telah menyiapkan langkah nyata untuk memastikan kesenian ini terus berlanjut.

Kepala Disdikbud, Mulyono, melaporkan bahwa Tarsul menjadi salah satu fokus dalam program pelatihan di tahun 2026.

“Untuk tahun 2026 ini sudah kita plotingkan untuk kegiatan pelatihan khususnya kepada para pelatih kesenian-kesenian tradisional seperti kesenian Cepen, Tingkilan, maupun juga Tarsul,” jelas Kadisdikbud Mulyono.

Program pelatihan pelatih ini bertujuan untuk menciptakan pendidik seni yang terstandarisasi dan berkompetensi, yang nantinya akan bertugas memberikan sumbangsih besar bagi pembinaan generasi muda di bidang kesenian tradisional Kutai.

Penampilan Tarsul oleh Zahud dan Nur Alya di malam penutupan tidak hanya menjadi hiburan yang merdu, tetapi juga menjadi penanda bahwa semangat pelestarian seni klasik Kutim akan terus digalakkan oleh Pemerintah Daerah, memastikan Tarsul tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.(kopi5/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini