Beranda Kutai Timur Dari Tambang ke Kandang – Mantan Karyawan Buktikan Peternakan Jadi Masa Depan...

Dari Tambang ke Kandang – Mantan Karyawan Buktikan Peternakan Jadi Masa Depan Ekonomi Pascapensiun

209 views
0

Sumar (53) Pemilik Raja Kambing Sangatta (RKS) dengan Barongsai, kambing jantan kesayangan. (Foto: Bagus Pro Kutim)

SANGATTA – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, denyut aktivitas di kandang milik Sumar (53) di kawasan Jalan H Nanang Kasim 2, Kanal 2, Sangatta Utara, tampak lebih riuh dibanding hari-hari biasa. Suara lenguhan sapi bersahut-sahutan dengan embikan kambing yang memenuhi peternakan Raja Kambing Sangatta (RKS), usaha yang kini perlahan tumbuh menjadi salah satu penyedia hewan kurban lokal di Kutai Timur (Kutim).

Di tengah meningkatnya kebutuhan hewan kurban, kisah Sumar menjadi potret tentang bagaimana sektor peternakan rakyat mulai menjelma sebagai ladang penghidupan baru yang menjanjikan, bahkan bagi pensiunan industri tambang. Pria yang puluhan tahun bekerja di PT Kaltim Prima Coal (KPC) itu mengaku penjualan hewan kurban tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan Iduladha tahun lalu. Lonjakan tersebut, menurut dia, bukan hanya dipengaruhi musim kurban, melainkan juga tumbuhnya keyakinan masyarakat terhadap peternak lokal.

“Alhamdulillah tahun ini penjualan sapi meningkat dua kali lipat. Sekarang sudah terjual 14 ekor, tahun lalu hanya 7 ekor,” ujar Sumar saat ditemui, Jumat pagi (29/5/2026).

Di peternakannya, sapi dijual mulai Rp17 juta hingga di atas Rp30 juta. Sementara kambing dipasarkan dengan kisaran harga Rp1 juta sampai Rp9 juta, bergantung pada ukuran serta mutu ternak. Namun geliat usaha itu tidak lahir secara serta-merta.

Sumar menuturkan, gagasan membangun peternakan telah ia rintis sejak 2021 sebagai ancang-ancang menghadapi masa purnatugas dari perusahaan tambang tempatnya bekerja. Selepas resmi pensiun pada 2024, ia memilih menumpukan seluruh perhatian pada usaha ternak yang kemudian berkembang dan diresmikan dengan nama Raja Kambing Sangatta pada 2026. Pilihan tersebut menjadi penanda bagaimana sektor peternakan rakyat dapat berkembang menjadi alternatif ekonomi yang berkelanjutan di daerah penyangga industri ekstraktif seperti Kutim.

Bagi Sumar, beternak bukan hanya ihwal menjajakan hewan kurban. Lebih jauh, usaha itu dipandang sebagai jalan membangun kemandirian ekonomi keluarga sekaligus membuka ruang usaha baru bagi masyarakat sekitar.

“Kalau ditekuni, peternakan ini sebenarnya sangat potensial. Apalagi kebutuhan daging dan pupuk organik terus ada,” katanya.

Pandangan itu tercermin dari pola usaha yang ia bangun. RKS tidak hanya menjual hewan kurban, tetapi juga menyediakan jasa perawatan hingga penyembelihan hewan pada momentum Iduladha. Layanan tersebut banyak diminati warga yang tidak memiliki lahan ataupun cukup waktu untuk memelihara hewan sebelum hari penyembelihan tiba.

Di sela kandang-kandang beratap seng itu, aktivitas peternakan juga berjalan dengan pola yang lebih terpadu. Limbah ternak tidak dibiarkan terbuang percuma. Kotoran kambing diolah kembali menjadi pupuk kompos organik yang kemudian dijual Rp25 ribu per karung.


Menurut Sumar, permintaan pupuk organik terus meningkat seiring bertambahnya masyarakat yang mulai beralih menggunakan media tanam ramah lingkungan.“Permintaan pupuk kompos sangat tinggi. Kadang kami kewalahan memenuhi pesanan,” ujarnya.

Di antara puluhan ternak yang dipelihara, seekor kambing pejantan bernama “Barongsai” menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung. Kambing berusia tiga tahun itu memiliki postur tambun dan kekar sehingga kerap menyita perhatian warga yang datang melihat-lihat hewan kurban.


Kehadiran “Barongsai” seolah menjadi penegas bahwa peternakan rakyat kini tidak lagi identik dengan usaha kecil yang berjalan seadanya. Dengan tata kelola yang lebih serius, sektor ini mulai menghadirkan nilai ekonomi baru yang bukan hanya menopang kebutuhan pangan, tetapi juga membuka peluang usaha yang ajek (tetap dan berkesinambungan) bagi masyarakat lokal.

Di tengah geliat daerah tambang yang selama ini menjadi penyangga utama ekonomi Kutim, kisah Sumar memperlihatkan bahwa kandang-kandang sederhana pun dapat menjadi ruang harapan baru. Dari sana, lahir ikhtiar tentang kemandirian, ketahanan pangan, dan denyut ekonomi rakyat yang tumbuh perlahan, namun pasti. (kopi5/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini