Nona dan Arvina perwakilan Forum Anak menyampaikan aspirasi saat diwawancarai. Foto: Bagus/Pro Kutim
SANGATTA – Suasana di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim) pada Selasa (7/4/2026) pagi terasa berbeda dari biasanya. Di antara deretan pejabat berwenang dan perencana daerah yang tengah merumuskan arah kebijakan kabupaten untuk tahun 2027, hadir dua suara perempuan yang membawa perspektif segar namun sarat akan substansi.
Nona Anggun Okta Pramita, Wakil Ketua II Forum Anak Kabupaten Kutim, dan Arvina Rizky Amalia, Wakil Ketua I untuk periode 2025-2028, berdiri mewakili ribuan anak di Kutim. Siswi asal SMA Negeri 1 Sangatta Utara ini hadir bukan sekadar sebagai pelengkap undangan, melainkan membawa misi besar yakni memastikan bahwa pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) yang dicanangkan pemerintah benar-benar menyentuh akar rumput kehidupan anak.

Dalam penyampaiannya, Nona menyoroti ketimpangan fasilitas publik yang selama ini masih bersifat sentralistik. Ia mengungkapkan bahwa Taman Bermain Ramah Anak (TBRA) maupun pusat kreativitas saat ini masih terpusat di kawasan perkotaan seperti Bukit Pelangi, sementara anak-anak di desa-desa terpencil belum merasakan fasilitas serupa.
“Kami meminta pembangunan taman bermain atau pusat kreativitas anak itu dilakukan secara merata di setiap kecamatan atau desa,” tegas Nona, sembari menambahkan bahwa perbaikan fasilitas yang telah diusulkan sejak tahun lalu perlu segera direalisasikan.
Senada dengan hal tersebut, Arvina menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap nasib anak-anak disabilitas di Kutim yang menurutnya masih kurang mendapatkan perhatian. Ia menekankan pentingnya fasilitas khusus yang menjamin hak-hak mereka setara dengan anak-anak lainnya. Tak hanya itu, ia mengusulkan adanya layanan parenting bagi orang tua guna menciptakan lingkungan keluarga yang siap mendukung tumbuh kembang anak secara mental dan fisik.
Isu kesehatan mental juga menjadi poin krusial yang dibawa oleh perwakilan Forum Anak ini. Mengingat maraknya kasus perundungan (bullying), mereka mendesak pemerintah melalui OPD terkait untuk menggencarkan edukasi kesehatan mental bagi remaja. Bagi mereka, pembangunan SDM yang berdaya saing tidak akan terwujud jika generasi penerusnya tidak memiliki ketahanan mental yang kuat.
Selain itu, Forum Anak memberikan kritik tajam terhadap maraknya iklan rokok di jalanan Sangatta. Arvina menjelaskan bahwa keberadaan iklan-iklan tersebut menjadi indikator negatif yang menghambat Kutim dalam meningkatkan penilaian Kabupaten Layak Anak (KLA).

Sebelumnya, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap kehadiran dan masukan konstruktif dari unsur kelembagaan seperti Forum Anak. Bupati menegaskan bahwa tema pembangunan RKPD 2027 memang difokuskan pada penguatan SDM yang berdaya saing menuju kesejahteraan masyarakat.
Menutup aspirasinya, Nona mengingatkan bahwa meski hasil dari pemenuhan hak anak tidak terlihat secara fisik seketika seperti gedung atau jalan, dampaknya sangat vital bagi masa depan.
“Ini adalah investasi untuk bibit-bibit unggul Indonesia di masa depan menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Kehadiran Forum Anak dalam Musrenbang ini menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan bahwa rencana kerja pemerintah daerah bukan sekadar deretan angka anggaran, melainkan tentang bagaimana merajut masa depan yang lebih aman, inklusif, dan ramah bagi generasi pemilik masa depan Kutim.(kopi5/kopi13)































