Beranda Kutai Timur Shafa Pandya, Talenta Muda Kutim Segera Beraksi di Panggung Asia

Shafa Pandya, Talenta Muda Kutim Segera Beraksi di Panggung Asia

127 views
0

Shafa Pandya, atlet voli Kutim yang bersiap menembus panggung Asia. Foto: Rusliansyah/Pro Kutim

SANGATTA — Dari sudut Kabupaten Kutai Timur (Kutim) muncul seorang pemuda dengan tinggi badan mencapai 190 sentimeter yang siap menggebrak kancah bola voli internasional. Muhammad Shafa Pandya (17), siswa kelas 2 SMK Hasanuddin, kini tengah bersiap membawa nama Indonesia dalam ajang bergengsi Asian Volleyball Championship (AVC) yang akan dihelat di Pontianak.

Bagi Shafa, voli bukan sekadar olahraga, melainkan warisan yang mengalir dalam darahnya. Lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, ia tumbuh dalam lingkungan atlet. Kedua orang tuanya, Roni Agung Riyadi dan Deasy Saptarina Dewi, adalah mantan atlet voli yang menjadi mentor pertamanya.

“Awalnya karena orang tua juga atlet voli, jadi saya ikut latihan sejak kecil,” ujar Shafa saat berkunjung ke Kantor Bupati Kutim untuk memohon doa restu, Selasa (29/4/2026).

Langkah Shafa menuju panggung Asia bukanlah hasil instan. Ia mulai menekuni olahraga ini secara serius sejak tingkat akhir sekolah menengah pertama (SMP). Kariernya menanjak dari level daerah saat mewakili Kutai Timur di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda), hingga puncaknya menembus kompetisi kasta tertinggi nasional, Proliga 2026.

Bersama klub Garuda Jaya, pemain muda ini membuktikan kualitasnya dengan membantu tim menduduki peringkat keempat di musim debutnya. Pengalaman di liga profesional tersebut menjadi modal berharga sebelum ia mengenakan seragam Merah Putih di level junior.

Di balik prestasinya, Shafa menjalani rutinitas yang sangat ketat. Tiga hari dalam sepekan ia habiskan di ruang pusat kebugaran untuk mengasah fisik, sementara sisa hari lainnya difokuskan pada pematangan teknik dan tanding.

Komitmen ini menuntut pengorbanan besar, termasuk dalam hal pendidikan. Demi bergabung dengan klub Umika Bekasi dan menjalani latihan intensif, Shafa harus mengikuti proses belajar secara daring (online). Namun, dengan dukungan dari pihak sekolah dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim, ia tetap mampu menjaga keseimbangan antara prestasi atletik dan kewajiban akademis.

Tantangan terbesar bagi atlet muda sepertinya bukan hanya lawan di lapangan, melainkan rasa jenuh akibat jadwal yang padat.

“Tantangan terbesar itu rasa bosan karena latihan setiap hari. Biasanya saya atasi dengan refreshing, jalan-jalan, atau kulineran,” katanya dengan nada rendah hati.

Keberhasilan Shafa tak lepas dari pengawasan ketat kedua orang tuanya. Sang ibu, Deasy Saptarina Dewi, mengungkapkan bahwa pendampingan atlet muda memerlukan kedisiplinan yang dimulai dari rumah, termasuk kontrol terhadap penggunaan gawai agar fokus tidak terpecah.

“Kami memberikan ruang agar dia bisa menjaga stamina latihannya. Kami juga memastikan asupan gizinya terpenuhi,” tutur Deasy.

Kini, dari Sangatta, Shafa menatap panggung Asia dengan asa besar. Ajang AVC menjadi langkah awal baginya untuk membuktikan bahwa putra daerah mampu bersaing di level benua sekaligus menjadi tumpuan masa depan bola voli Indonesia.

“Harapannya bisa tampil maksimal dan dapat pengalaman yang bagus. Semoga ke depannya bisa ikut berkontribusi untuk generasi timnas yang lebih baik,” pungkas Shafa.(kopi8/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini