Foto: ist
BENGALON – Deru kendaraan perlahan menipis ketika rombongan kendaraan dinas memasuki jalur baru di kawasan Muara Wahau. Jalan yang terbentang panjang itu bukan sekadar hamparan aspal di antara bekas bentang tambang, melainkan lintasan pengganti bagi ruas lama Jalan Nasional Simpang Perdau-Batu Ampar. Di sinilah proyek Muara Wahau Road Diversion (MWRD) sedang ditata, sebuah jalan baru yang dibangun oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) bersama kontraktor utamanya, PT Wijaya Karya (WIKA).
Rabu, (30/4/2026) Tim Panitia Khusus (Pansus) Pembahas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Tahun Anggaran 2025 datang meninjau langsung proyek tersebut. Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agus Aras, Sulasih, Muh Samsun, Abdul Giaz, dan Abdul Rahkman Bolong, turun ke lapangan untuk memantau perkembangan pembangunan jalan pengganti yang pengerjaannya dimulai sejak September 2024.

Kunjungan diawali dengan paparan ringkas di kantor External Relation KPC di Jalan dr Soetomo S11, Swarga Bara, Sangatta. Dalam ruang pertemuan itu hadir sejumlah pihak yang terlibat dalam proyek. Manager Civil and Project Planning Manager KPC Hindratmoko, Project Manager WIKA S Jamal, General Manager ESD KPC Wawan Setiawan, serta Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Kaltim Viasmuji Bitticaca.
Di hadapan rombongan Pansus, Hindratmoko memaparkan perkembangan proyek yang kini memasuki tahapan penting pengujian kelayakan. Jalan baru sepanjang 18,9 kilometer tersebut telah melalui proses audit keselamatan jalan oleh tim Audit Keselamatan Jalan (AKJ) Kaltim.
“Verifikasi kelayakan sudah dilaksanakan oleh tim AKJ beberapa waktu lalu. Itu sudah dilakukan. Ada beberapa poin yang telah dilengkapi, dan nanti akan dilakukan monitoring kembali oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kaltim pada Selasa, 5 Mei nanti,” ujarnya.

Paparan itu menjadi pengantar sebelum rombongan bergerak menuju lokasi proyek. Dari dekat, bentangan jalan baru itu tampak membelah kawasan pascatambang yang sebelumnya tidak rata. Kontur tanah yang semula bergelombang kini berubah menjadi jalur berkendara yang relatif halus dan stabil.
Transformasi itu dicapai melalui penerapan teknologi Cakar Ayam Modifikasi (CAM), sebuah metode konstruksi fondasi jalan yang dirancang untuk memperkuat struktur di tanah lunak atau tidak stabil. Teknik ini membuat jalur baru tersebut dapat berdiri kukuh di atas kawasan yang sebelumnya merupakan area tambang.
Bagi anggota Pansus, pengalaman melintasi jalur tersebut menjadi bukti langsung hasil pekerjaan di lapangan. Mereka merasakan sendiri kenyamanan lintasan yang kini menjadi alternatif bagi ruas lama. Apresiasi pun disampaikan kepada pihak KPC dan WIKA atas pembangunan jalan tersebut. Proyek MWRD dipandang bukan hanya sebagai kebutuhan teknis bagi perusahaan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperbaiki prasarana transportasi di wilayah Kaltim.
Jalan pengganti itu diharapkan kelak memperlancar mobilitas masyarakat, memperpendek waktu tempuh perjalanan, serta menjaga kesinambungan akses transportasi di jalur nasional Simpang Perdau-Batu Ampar.
Di tengah hamparan tanah bekas tambang yang perlahan berubah rupa, jalan baru itu menjadi penanda bahwa ruang yang pernah digali dapat kembali dimanfaatkan, bukan sekadar sebagai lintasan kendaraan, melainkan sebagai urat nadi baru bagi pergerakan orang dan barang di kawasan timur Kalimantan. (*/kopi3)






























