Beranda Kutai Timur Kutim Jaga Pangan Lokal di Tengah Ekspansi Sawit dan Ancaman Banjir

Kutim Jaga Pangan Lokal di Tengah Ekspansi Sawit dan Ancaman Banjir

14 views
0

Bupati Ardiansyah Sulaiman memanen semangka bersama kelompok tani. Foto: Dewi Pro Kutim

TELUK PANDAN – Di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit yang kian mendominasi bentang darat Kutai Timur (Kutim), suara para petani hortikultura di Kecamatan Teluk Pandan masih bertahan, lirih tetapi teguh. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim pun menaruh perhatian terhadap denyut pertanian rakyat yang selama ini menjadi penyangga kebutuhan pangan harian masyarakat.

Pada Selasa, (26/5/2026), Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman melakukan kunjungan kerja ke Desa Persiapan Bukit Pandan Jaya, Kecamatan Teluk Pandan. Agenda itu bukan sekadar seremoni pemerintahan. Di sela penanaman melon secara simbolis dan panen semangka bersama kelompok tani, terselip kegelisahan panjang tentang masa depan lahan pertanian, ancaman banjir, hingga keberlangsungan pangan daerah. Kunjungan tersebut juga dirangkai dengan peninjauan bantuan rehabilitasi rumah layak huni dari Baznas serta dialog langsung bersama warga dan petani setempat.

Dalam suasana yang akrab, masyarakat menyampaikan persoalan yang selama ini mereka hadapi di lapangan. Ardiansyah mengatakan ketahanan pangan tidak boleh berhenti sebagai jargon administratif atau semboyan politik belaka. Menurut dia, ketahanan pangan harus hadir dalam bentuk perlindungan nyata terhadap petani, lahan produktif, serta keberlanjutan produksi pangan masyarakat.

“Ketahanan pangan ini harus kita tangkap bersama sebagai dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Indonesia pernah swasembada pangan tahun 1985 dan sekarang kembali mampu menghasilkan jutaan ton beras,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa sektor pangan, terutama hortikultura, memiliki kedudukan penting di tengah arus ekspansi komoditas perkebunan. Bagi Ardiansyah, pembangunan pangan bukan hanya berbicara tentang sawah dan beras, melainkan juga keberlangsungan tanaman buah dan sayur yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Karena itu, ia mengapresiasi kelompok tani di Teluk Pandan yang masih bertahan mengembangkan pertanian hortikultura di tengah kuatnya geliat industri sawit. Di antaranya Gapoktan Sawit Mandiri Sejahtera (SMS) yang membudidayakan melon serta Kelompok Tani Sinar Mentari yang mengembangkan semangka.

Di balik hasil panen tersebut, para petani menyimpan kecemasan yang tidak kecil. Ancaman banjir berulang menjadi persoalan yang terus menghantui musim tanam mereka. Lahan pertanian yang berada di sekitar aliran sungai kerap terendam ketika hujan deras mengguyur kawasan itu.

Ketua Gapoktan Sawit Mandiri Sejahtera, Sunyoto, mengungkapkan bahwa sebagian lahan mulai ditinggalkan karena genangan air yang semakin sering terjadi. Ia menyebut penyempitan alur sungai di kawasan RT 5 Teluk Pandan memperparah luapan air saat musim penghujan.

Kelompok tani, kata dia, berharap pemerintah melakukan normalisasi sungai agar banjir tidak terus merusak areal pertanian warga. Selain itu, mereka juga meminta dukungan sarana produksi pertanian guna menjaga produktivitas hasil panen.

Menanggapi keluhan tersebut, Ardiansyah menjelaskan bahwa sejak 2024 kewenangan pengadaan alat pertanian, bibit, hingga pupuk sebagian besar telah dialihkan ke pemerintah pusat. Pemerintah daerah kini lebih banyak berperan sebagai pengusul kebutuhan petani kepada kementerian terkait.

“Sekarang pemerintah daerah tidak bisa lagi membeli alat pertanian secara langsung. Semua harus diusulkan ke pusat, termasuk bibit dan pupuk,” katanya.

Ia juga menilai penanganan banjir tidak dapat dilakukan secara seragam. Pemerintah, menurut dia, harus terlebih dahulu membaca watak persoalan di lapangan sebelum menentukan langkah penanganan.

“Kalau sungainya meluap tentu normalisasi diperlukan. Tapi kalau air tertahan di lahan, maka irigasinya yang harus diperbaiki,” ujarnya.

Selain meninjau sektor pertanian, kunjungan kerja tersebut juga diisi dengan penyerahan bantuan rehabilitasi rumah layak huni dari Baznas kepada enam penerima manfaat. Rinciannya, empat unit bantuan kabupaten dan dua unit bantuan provinsi. Program itu, menurut Ardiansyah, menjadi bagian dari ikhtiar pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Pemkab Kutim saat ini menargetkan pembangunan 1.000 rumah baru dan 5.000 unit bedah rumah selama lima tahun masa pemerintahan.

Sementara itu, Camat Teluk Pandan, Anwar, mengatakan kunjungan tersebut memberi dorongan moral bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi ekonomi berbasis pertanian lokal.

“Kami berharap kegiatan ini semakin mempererat silaturahmi dan meningkatkan semangat gotong royong masyarakat,” ujarnya.

Menjelang siang, kegiatan berakhir dalam suasana guyub dan penuh percakapan ringan antara pemerintah, petani, serta warga desa. Di tengah kepungan sawit yang terus meluas, Teluk Pandan seakan mengirim pesan sederhana: ladang pangan rakyat masih ingin dipertahankan, selama ada ruang untuk dijaga bersama. (kopi15/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini