Beranda Kutai Timur Di Bawah Terik Pagi Bhayangkara, Ada Harapan dari Siswa dan Relawan

Di Bawah Terik Pagi Bhayangkara, Ada Harapan dari Siswa dan Relawan

12 views
0

Saka Bhayangkara dan anggota PMI mengikuti Upacara HUT Bhayangkara ke-80. Foto: Maulana/Pro Kutim 

SANGATTA –  Matahari belum terlalu tinggi ketika barisan peserta mulai memenuhi halaman Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim), Rabu (1/7/2026). Seragam cokelat muda anggota Saka Bhayangkara berbaur dengan rompi relawan dan pakaian dinas para aparat yang berdiri rapi mengikuti Upacara Hari Bhayangkara ke-80.

Di antara barisan itu, sejumlah pelajar tampak sesekali saling melempar senyum untuk mengusir rasa gugup dan lelah berdiri di bawah terik matahari pagi. Disamping, para relawan dari Palang Merah Indonesia bersiaga seperti biasanya, namun siap bergerak jika sewaktu-waktu ada peserta upacara yang membutuhkan bantuan.

Suasana berlangsung tertib dan khidmat saat Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Aryanto, memasuki lapangan sebagai inspektur upacara. 

Tahun ini, Hari Bhayangkara mengusung tema “80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat.” Sebuah tema yang menegaskan bahwa seluruh pengabdian kepolisian pada akhirnya bermuara pada pelayanan, perlindungan, dan pengayoman bagi masyarakat.

Dalam amanat Presiden yang dibacakan Kapolres, Polri dituntut untuk terus bergerak dari pola kerja yang reaktif menuju institusi yang prediktif dan adaptif, mampu menjawab tantangan zaman mulai dari kejahatan siber hingga dinamika global yang terus berubah.

Namun bagi sebagian peserta upacara, makna “Polri untuk Masyarakat” bukan hanya kalimat dalam amanat resmi.

Bagi Khairul Huda, relawan PMI yang kerap turun langsung ke lapangan, tema tersebut terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari.

“Kalau kami di lapangan sering bersinggungan dengan polisi, terutama saat ada kejadian darurat atau penemuan mayat. Biasanya kami koordinasi dulu dan penanganannya cepat, responsif,” ujarnya.

Baginya, kesigapan aparat menjadi bagian penting dalam kerja-kerja kemanusiaan yang sering kali berpacu dengan waktu. Karena itu, ia berharap sinergi antara kepolisian dan para relawan terus diperkuat.

“Yang sekarang sudah baik, semoga ke depan bisa lebih baik lagi. Apalagi kalau ada kejadian malam hari, semoga semakin responsif,” katanya.

Tak jauh dari para relawan, sekelompok anggota Saka Bhayangkara tampak berbincang santai setelah upacara selesai. Bagi mereka, mengikuti peringatan Hari Bhayangkara bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan kesempatan melihat lebih dekat profesi yang selama ini identik dengan kedisiplinan dan pengabdian.

“Senang dan seru bisa ikut upacara hari ini,” ujar Putri Aulia Shifa, salah satu peserta yang akan memasuki kelas XII.

Di antara mereka bahkan ada yang mulai menimbang cita-cita menjadi anggota kepolisian di masa depan, meski masih diliputi keraguan khas anak muda yang sedang menentukan jalan hidupnya.

Namun para pelajar itu juga menyimpan harapan besar kepada institusi Polri.

“Harapannya polisi lebih mendengarkan masyarakat lagi,” kata Putri.

Sementara rekannya, Revita Cahya Pramesti, berharap kepolisian terus memperkuat integritas dan kejujuran dalam menjalankan tugas.

“Semoga ke depannya lebih baik lagi dan semakin jujur dalam menjalankan tugas,” ujarnya.

Harapan-harapan sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun justru dari sanalah ukuran keberhasilan sebuah institusi sering kali bermula. Ketika masyarakat merasa didengar, ketika bantuan datang tepat waktu, dan ketika kehadiran aparat benar-benar dirasakan di tengah kehidupan sehari-hari.

Di usia delapan dekade pengabdiannya, Hari Bhayangkara di Kutai Timur tidak hanya menjadi perayaan bagi institusi kepolisian. Di bawah terik matahari pagi itu, para siswa, relawan, dan masyarakat menitipkan satu pesan yang sama bahwa Polri yang dekat, cepat hadir, dan mau mendengar akan selalu menjadi Polri untuk masyarakat. (kopi8/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini