Siswa siswi TKIT Daarussalaam. Foto: Miftah/Pro Kutim
SANGATTA – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Daarussalaam tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan lingkungan belajar kepada peserta didik baru, tetapi juga momentum memperkuat komitmen terhadap pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini. Pada hari kedua pelaksanaan MPLS, Selasa (14/7/2026), tema “Hari Baru, Aman dan Nyaman di Sekolah” dipadukan dengan penguatan pendidikan karakter serta sosialisasi program Wajib Belajar 13 Tahun yang tengah dipersiapkan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Bunda PAUD Kabupaten Kutim Siti Robiah Ardiansyah, menegaskan bahwa keberhasilan program wajib belajar tidak dimulai ketika anak memasuki bangku sekolah dasar, melainkan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD). Menurutnya, jenjang PAUD menjadi pondasi utama dalam membentuk karakter, mental, spiritual, dan kemampuan sosial anak sebelum memasuki pendidikan formal.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah pusat telah mencanangkan program Wajib Belajar 13 Tahun, sehingga pendidikan usia dini memiliki posisi yang semakin strategis dalam menyiapkan generasi masa depan.

“Indonesia telah mencanangkan Wajib Belajar 13 Tahun. Proses itu harus ditanamkan sejak anak usia dini, karena di situlah fondasi pendidikan dibangun,” ujar Siti Robiah.
Menurutnya, usia 0 hingga 5 tahun merupakan golden age atau masa emas pertumbuhan anak. Pada fase tersebut perkembangan otak berlangsung sangat pesat sehingga berbagai nilai kehidupan yang ditanamkan akan menjadi bekal penting bagi masa depan mereka.
“Anak-anak usia dini merupakan masa golden age. Karena itu mereka harus diberikan pembekalan tentang akhlak yang mulia, karakter yang baik, dan lingkungan belajar yang positif. Dengan begitu mereka tumbuh menjadi anak yang kokoh secara mental, spiritual, dan memiliki karakter yang kuat,” tuturnya.
Siti Robiah mengapresiasi para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan anak sejak jenjang PAUD sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun. Menurutnya, pendidikan usia dini bukan sekadar mengenalkan baca tulis atau berhitung, melainkan membangun pondasi karakter yang akan menentukan keberhasilan anak pada jenjang pendidikan berikutnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Peran keluarga tetap menjadi faktor utama dalam membentuk kepribadian anak.
“Pendidikan ini bukan hanya tugas guru, tetapi tugas kita semua sebagai orang tua. Anak-anak harus dididik dengan kasih sayang, kesabaran, dan diberikan ruang untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menekankan pentingnya sinergi antara sekolah dan keluarga dalam mendampingi proses pendidikan anak sejak dini. Ia menilai, lingkungan sekolah yang aman dan nyaman harus diperkuat dengan pendampingan orang tua di rumah agar pembentukan karakter berlangsung secara berkelanjutan.
“Kepada orang tua, saya titip pesan agar terus memberikan arahan dan menjadi teladan bagi anak-anak. Dengan pendampingan yang baik, mereka akan memiliki bekal untuk meniti kehidupan melalui pendidikan hingga nantinya mampu berkontribusi di tengah masyarakat,” ujar Ardiansyah.

Bupati juga mengajak seluruh peserta didik untuk menjadikan MPLS sebagai awal perjalanan pendidikan yang penuh semangat. Menurutnya, masa pengenalan sekolah bukan sekadar mengenal ruang kelas dan guru, tetapi menjadi langkah awal membangun disiplin, rasa percaya diri, dan kecintaan terhadap proses belajar.
Komitmen terhadap penguatan pendidikan sejak usia dini tersebut juga sejalan dengan kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur yang tengah mempersiapkan implementasi Peraturan Bupati tentang Wajib Belajar 13 Tahun. Melalui pelaksanaan MPLS yang ramah anak dan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, serta keluarga, SIT Daarussalaam diharapkan mampu menjadi ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik. (kopi8/kopi13/kopi3)































