Kepala DPMPTSP Kutim Novian Prananta saat dilantik pada 18 Mei 2026 lalu.Foto: Dok Pro Kutim
SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah tancap gas memacu hilirisasi sektor perkebunan kelapa sawit. Dengan dukungan luas lahan mencapai 500.000 hektare, daerah ini membidik investasi pembangunan pabrik minyak goreng dan biodiesel senilai Rp 3 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim, Novian Prananta, mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah mematangkan strategi untuk menarik investor masuk ke sektor industri turunan sawit. Novian optimistis, ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi keunggulan komparatif yang sulit diabaikan.
“Bahan baku sudah sangat siap. Kami punya 38 pabrik Crude Palm Oil (CPO) yang beroperasi. Tugas kami sekarang adalah ‘menjemput bola’ dan meyakinkan investor bahwa Kutai Timur adalah tempat yang tepat untuk berinvestasi,” ujar Novian di Sangatta.
Kutim menempatkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) di Kecamatan Kaliorang sebagai jantung dari agenda hilirisasi ini. Lokasi KEK yang strategis di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) serta dukungan pelabuhan internasional diyakini mampu menekan biaya logistik, yang selama ini menjadi titik krusial bagi pelaku industri.
Selain mengandalkan lokasi strategis, Pemkab Kutim juga berupaya memberikan kenyamanan bagi para pemodal melalui jaminan regulasi. Salah satu instrumen penting yang telah disahkan adalah Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Industri Kabupaten (RPIK). Aturan ini menjadi acuan utama bagi pengembangan industri pengolahan sawit agar lebih terarah dan berkelanjutan.

Menurut Novian, pemerintah daerah menyadari bahwa tantangan terbesar bukan lagi pada ketersediaan komoditas, melainkan pada daya tarik iklim investasi. Oleh karena itu, berbagai skema promosi investasi dan pembenahan infrastruktur pendukung terus diprioritaskan.
“Regulasi sudah kami siapkan, pihak-pihak terkait juga dilibatkan. Kami ingin hilirisasi ini tidak sekadar membangun pabrik, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah bagi ekonomi daerah sekaligus menciptakan lapangan kerja yang luas,” tambahnya.
Target investasi senilai Rp 3 triliun ini diharapkan mampu mentransformasi wajah ekonomi Kutim. Jika terealisasi, kehadiran pabrik minyak goreng dan biodiesel di kawasan MBTK akan menggeser ketergantungan daerah dari penjualan komoditas mentah ke produk bernilai jual lebih tinggi.
Langkah Pemkab Kutim ini menjadi sinyal kuat upaya daerah dalam mendukung agenda nasional hilirisasi industri yang dicanangkan pemerintah pusat, guna memperkuat kemandirian pangan dan energi berbasis kelapa sawit di wilayah Kalimantan.(kopi13/kopi3)






























