Beranda Kutai Timur IPRO Jadi Senjata Kutim Memburu Investor Industri Sawit

IPRO Jadi Senjata Kutim Memburu Investor Industri Sawit

40 views
0

Kepala DPMPTSP Kutim Novian. Foto: Dok Pro Kutim

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah berupaya mengubah wajah ekonominya dari ketergantungan pada sektor ekstraktif menuju hilirisasi industri. Melalui program Investment Project Ready to Offer (IPRO), daerah ini secara agresif menawarkan peluang investasi pembangunan pabrik turunan kelapa sawit di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK).

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim, Novian Prananta, mengungkapkan bahwa IPRO menjadi instrumen strategis untuk memberikan kepastian bagi calon investor. Melalui skema ini, calon penanam modal tidak lagi perlu meraba-raba proyeksi bisnis, karena semua data teknis dan peluang telah dikemas secara matang.

“IPRO adalah upaya kami menyuguhkan proyek yang siap eksekusi, jelas, dan memiliki prospek menjanjikan. Kami ingin investor datang ke sini dengan gambaran yang utuh mengenai potensi hilirisasi, baik di sektor oleofood maupun oleochemical,” ujar Novian di Sangatta.

Di KEK MBTK, pemerintah daerah menyiapkan lahan seluas 509,496 hektare dengan status clear and clean. Untuk memikat minat investor di tengah persaingan kawasan industri yang ketat, Pemkab Kutim memberikan paket insentif berupa biaya sewa lahan yang kompetitif, bahkan dengan fasilitas masa bebas sewa hingga empat tahun.

Tak hanya urusan internal kawasan, pemerintah juga memastikan aksesibilitas menuju KEK MBTK terus dibenahi melalui sinkronisasi pembangunan jalan antara pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat. Hal ini menjadi krusial untuk menekan biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan utama di wilayah Timur Indonesia.

Dalam dokumen IPRO 2025 Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Kutim diposisikan sebagai hub strategis bagi industri oleokimia dan pangan. Targetnya jelas yaitu hilirisasi sawit tidak hanya mendongkrak nilai tambah produk, tetapi juga mengerek kesejahteraan petani dan memperkuat peran koperasi rakyat di hulu.

“Kami tidak ingin sekadar menjadi penyuplai bahan mentah. Dengan membangun industri turunan seperti minyak goreng dan biodiesel di sini, kita menciptakan nilai tambah yang besar, membuka lapangan kerja, dan mendorong ekonomi yang lebih ramah lingkungan,” tambah Novian.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya sistematis Kutim dalam melakukan diversifikasi ekonomi. Dengan keberhasilan menarik investor ke dalam ekosistem KEK MBTK, daerah ini berharap dapat melepaskan diri dari bayang-bayang fluktuasi harga komoditas pertambangan dan beralih ke industri pengolahan yang lebih berkelanjutan.(kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini