Beranda Kutai Timur Dinkes Kutim Perkuat Deteksi dan Tambah Alat Pemeriksaan TBC 

Dinkes Kutim Perkuat Deteksi dan Tambah Alat Pemeriksaan TBC 

37 views
0

Kadinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati saat menyampaikan sambutan di Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TBC). Foto: Lintang/Pro Kutim 

SANGATTA – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi salah satu daerah dengan beban kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di Kalimantan Timur. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Kutim memperkuat upaya penanggulangan melalui peningkatan deteksi dini, penambahan sarana pemeriksaan, hingga penguatan kolaborasi lintas sektor untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030.

Hal itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Kabupaten Kutim yang digelar di Ruang Damar, Gedung Serba Guna (GSG) Bukit Pelangi, Kamis (23/7/2026).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan berdasarkan WHO Global Tuberculosis Report, Indonesia kini menempati peringkat kedua dunia dengan beban kasus TBC tertinggi setelah India. Diperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TBC setiap tahun dengan sekitar 125 ribu kematian.

Sementara itu, Kalimantan Timur masuk dalam 18 provinsi penyumbang terbesar kasus TBC nasional. Di tingkat provinsi, Kutim berada di peringkat keempat bersama Kota Balikpapan dengan jumlah kasus TBC terbanyak di antara 10 kabupaten/kota.

“Angka-angka tersebut hendaknya tidak hanya menjadi statistik. Di balik setiap kasus terdapat seseorang yang membutuhkan pelayanan kesehatan, dukungan keluarga, dan kepedulian masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan eliminasi TBC tidak hanya ditentukan oleh layanan kesehatan, tetapi juga komitmen dan kolaborasi seluruh sektor pembangunan di Kabupaten Kutai Timur,” ujar Yuwana.

Untuk memperkuat penanggulangan TBC, Dinas Kesehatan terus menjalankan berbagai strategi, mulai dari penemuan kasus secara aktif (active case finding), memperluas investigasi kontak keluarga pasien, memperkuat kapasitas pelayanan di 21 puskesmas dan 10 rumah sakit, meningkatkan akses pemeriksaan laboratorium, hingga menjamin ketersediaan obat anti-TBC.

Yuwana mengungkapkan, saat ini Kutim telah memiliki lima unit alat Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk pemeriksaan TBC dan tahun ini akan ditambah dua unit lagi melalui APBD yang ditempatkan di puskesmas rujukan. Selain itu, pemerintah daerah juga mengadakan dua unit portable X-ray untuk RSUD Kudungga dan RSUD Sangkulirang. Sementara dari Kementerian Kesehatan, Kutim akan menerima hibah 17 unit alat MPOCT yang memungkinkan pemeriksaan TBC dilakukan melalui sampel usap lidah tanpa menggunakan dahak.

Menanggapi tingginya angka kasus tersebut, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menegaskan penanggulangan TBC tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Menurutnya, keberhasilan eliminasi TBC bergantung pada komitmen seluruh pemangku kepentingan.

“Kita harus mempunyai kesepakatan dan komitmen bersama lintas sektor. Dari PPTI, Dinas Kesehatan, perusahaan, perangkat daerah (PD), organisasi masyarakat, lembaga keagamaan, semuanya harus bergerak bersama,” tegas Ardiansyah.

Ia juga menyoroti pentingnya pelaporan kasus secara cepat agar pasien segera memperoleh penanganan. Menurutnya, keterlambatan pelaporan dapat memperbesar risiko penularan di masyarakat.

Tak hanya itu, Ardiansyah meminta perusahaan memberikan dukungan kepada pekerja yang sedang menjalani pengobatan TBC agar tidak menghentikan terapi sebelum dinyatakan sembuh.

“Kalau mereka berhenti berobat lalu pulang kampung, mereka bisa menularkan 15 sampai 20 orang lagi. Karena itu perusahaan harus ikut bertanggung jawab,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Yuwana juga mengajak seluruh perangkat daerah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, media massa hingga perguruan tinggi untuk mengambil peran sesuai kewenangan masing-masing, mulai dari edukasi, penemuan kasus, pendampingan pasien hingga menghilangkan stigma terhadap penderita TBC.

Ia berharap forum koordinasi tersebut mampu menghasilkan langkah konkret melalui penguatan koordinasi lintas sektor, penyusunan rencana aksi bersama yang terukur, peningkatan pemantauan secara berkala, serta memperluas partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan TBC.

“Kami percaya Kabupaten Kutai Timur memiliki modal yang sangat kuat untuk mewujudkan target eliminasi TBC tahun 2030, didukung tenaga kesehatan yang berdedikasi, jejaring pelayanan kesehatan yang terus berkembang, serta 282 kader kesehatan binaan PPTI yang tersebar di 139 desa dan 20 kelurahan di 18 kecamatan,” pungkasnya.(kopi17/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini