Beranda Kutai Timur Kutim Perkuat Deteksi HIV/AIDS, 285 Kasus Baru Ditemukan hingga Mei 

Kutim Perkuat Deteksi HIV/AIDS, 285 Kasus Baru Ditemukan hingga Mei 

9 views
0

Kadinkes Kutim dr Yuwana menyampaikan materi di Rapat Koprdinasi dan Evaluasi Penanggulangan HIV/AIDS Kutim. Foto: Lintang/Pro Kutim 

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat upaya penanggulangan HIV/AIDS melalui perluasan layanan deteksi dini dan pengobatan. Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim mencatat terdapat 285 kasus baru Orang dengan HIV (ODHIV) yang berhasil teridentifikasi.

Data tersebut dipaparkan Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati saat Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penanggulangan HIV/AIDS di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutim, Jumat (24/7/2026).

Menurut Yuwana, estimasi kelompok masyarakat yang berisiko terinfeksi HIV/AIDS di Kutim mencapai sekitar 23.000 orang. Namun baru sekitar 34 persen yang telah berhasil dijangkau melalui layanan skrining HIV/AIDS.

“Hingga Mei 2026 terdapat 285 kasus baru ODHIV yang berhasil ditemukan. Semakin banyak yang teridentifikasi, semakin besar peluang mereka mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan dapat ditekan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, layanan HIV/AIDS kini telah tersebar di 31 fasilitas kesehatan yang terdiri dari 21 puskesmas, tiga rumah sakit pemerintah, tujuh rumah sakit swasta dan satu klinik.

Meski demikian, capaian program HIV/AIDS Kutim masih menghadapi tantangan. Berdasarkan indikator global WHO, capaian Kutim hingga Mei 2026 baru mencapai sekitar 72 persen untuk ODHIV yang menjalani terapi Antiretroviral (ARV), 61 persen untuk pemeriksaan viral load dan 58 persen untuk pasien dengan viral load tersupresi.

“Artinya akses pengobatan sudah meningkat, namun pemeriksaan viral load dan kepatuhan pengobatan masih harus diperkuat agar target nasional dapat tercapai,” jelasnya.

Selain itu, Dinkes Kutim juga mencatat masih rendahnya cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi ODHIV yang baru mencapai sekitar 34 persen. Rendahnya capaian dipengaruhi keterbatasan stok obat, edukasi petugas, hingga rendahnya kesadaran pasien.

Yuwana menambahkan, berbagai tantangan lain masih dihadapi, mulai dari luasnya wilayah Kutim yang menyulitkan akses layanan kesehatan, tingginya stigma terhadap ODHIV, mobilitas pekerja lintas wilayah, hingga masih tingginya angka pasien yang putus berobat (lost to follow up).

Untuk itu, Dinkes telah menyiapkan sejumlah strategi, di antaranya memperluas layanan VCT dan pengobatan HIV/AIDS di seluruh fasilitas kesehatan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, memberdayakan peer educator di komunitas berisiko, hingga mengintegrasikan layanan HIV/AIDS dengan program kesehatan lainnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menegaskan penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan keterlibatan seluruh pihak karena jumlah kasus yang teridentifikasi diyakini masih jauh lebih sedikit dibanding kondisi sebenarnya.

“HIV ini seperti gunung es. Yang terlihat hanya sedikit, padahal di bawah permukaan masih banyak yang belum teridentifikasi. Karena itu kita harus melakukan pemetaan, deteksi dini dan pencegahan bersama-sama,” tegas Mahyunadi.

Melalui rapat koordinasi tersebut, pemerintah daerah berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari organisasi perangkat daerah, fasilitas kesehatan, dunia usaha hingga komunitas, dapat memperkuat sinergi dalam menekan laju penularan HIV/AIDS di Kutim. Dengan deteksi dini yang semakin luas, akses pengobatan yang merata, serta kolaborasi lintas sektor, target peningkatan kualitas layanan sekaligus pengendalian kasus HIV/AIDS diharapkan dapat tercapai.(kopi17/kopi13/kopi3) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini