Para generasi muda yang antusias mengikuti Latihan Seni Teater ke-2 yang digelar di Sekretariat OSB, Jalan Dayung 5B, Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara. Foto: Istimewa untuk Pro Kutim
SANGATTA – Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial yang kian cepat, ruang-ruang pembinaan seni budaya bagi generasi muda menjadi semakin penting. Bukan semata sebagai tempat mengasah keterampilan, melainkan juga sebagai wahana menumbuhkan karakter, merawat identitas, serta meneguhkan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa. Semangat itulah yang kembali dihidupkan Odah Seni Betuah (OSB) melalui Latihan Seni Teater ke-2 yang digelar di Sekretariat OSB, Jalan Dayung 5B, Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Jumat, (13/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan OSB dalam membina dan mengembangkan potensi generasi muda di bidang seni budaya. Sejumlah pemuda dan pemudi Kutim yang memiliki minat serta talenta di bidang kesenian hadir untuk mengikuti latihan sekaligus memperdalam pemahaman mengenai seni teater.
Dalam kesempatan itu, Ketua OSB, Padliyansyah, membagikan materi sekaligus pengalaman yang selama ini diperolehnya dalam dunia pertunjukan teater. Berbagai aspek dasar diperkenalkan kepada peserta, mulai dari pemahaman mengenai seni peran, penghayatan karakter, hingga pentingnya membangun kekompakan dalam sebuah pementasan.
Namun, latihan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Lebih dari itu, kegiatan dirancang sebagai ruang pembelajaran yang menanamkan beragam nilai kehidupan. Para peserta diajak memahami arti kerja sama, kedisiplinan, kreativitas, tanggung jawab, dan kepercayaan diri yang menjadi fondasi penting dalam proses berkesenian.
Suasana latihan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Kehadiran generasi muda dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa denyut kesenian di Kutim masih bergaung dan terus menemukan penerusnya. Di tengah perkembangan teknologi digital yang menawarkan beragam bentuk hiburan instan, minat kaum muda terhadap seni pertunjukan tetap bertahan dan bahkan tumbuh dalam wajah yang baru.
Fenomena tersebut menjadi isyarat bahwa seni budaya masih memiliki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat. Teater, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai sarana hiburan, tetapi juga medium pendidikan yang mengajarkan empati, kemampuan berkomunikasi, keberanian menyampaikan gagasan, serta kecakapan bekerja dalam satu irama kolektif. Melalui latihan rutin semacam ini, OSB berupaya membuka ruang bagi lahirnya generasi muda yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kesadaran budaya yang kuat. Sebab, pelestarian budaya tidak dapat bertumpu pada dokumentasi semata. Ia membutuhkan keterlibatan generasi penerus yang bersedia mengenali, mempelajari, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.
OSB sendiri hadir sebagai wadah pembinaan, pengembangan, sekaligus pelestarian seni budaya. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang bertujuan mencetak generasi muda yang kreatif, berkarakter, dan berbudaya. Harapan besar pun disematkan pada kegiatan ini. Selain menjadi sarana pengembangan bakat, latihan teater diharapkan mampu menginspirasi lebih banyak anak muda untuk berkarya dan berprestasi melalui jalur kebudayaan. Dengan demikian, seni tidak hanya menjadi ruang ekspresi, melainkan juga jalan pembentukan watak serta penguatan identitas kebangsaan.

Padliyansyah menegaskan bahwa pelestarian budaya harus dimulai dari tumbuhnya rasa memiliki di kalangan generasi muda.
“Budaya adalah jati diri bangsa. Ketika generasi muda mencintai budayanya, maka masa depan bangsa akan tetap terjaga,” ujar Padliyansyah.
Pernyataan itu menjadi penutup yang sarat makna. Sebab, di balik setiap latihan, dialog, dan gerak di atas panggung, tersimpan ikhtiar panjang untuk merawat akar kebudayaan. Dari sebuah sekretariat sederhana di Sangatta Utara, semangat menjaga identitas bangsa terus disemai. Pelan, tekun, dan penuh harapan. (kopi3)





























