Hermi sedang menggendong Gwyneth, bayi lima bulannya. Foto Bagus/Pro Kutim
SANGATTA – Senyum bahagia tidak lepas dari wajah Hermi (44). Sembari menimang buah hatinya yang baru berusia lima bulan, Gwyneth, warga Desa Singa Gembara ini tak henti-hentinya memandangi sebuah bangunan baru yang berdiri kokoh di Jalan Desa Singa Gembara.
Bagi Hermi dan para ibu lainnya di desa tersebut, Jumat (12/6/2025) menjadi hari yang bersejarah. Hari itu adalah babak baru bagi kesehatan anak-anak mereka seiring diresmikan dan diserahterimakannya Gedung Posyandu Kamasean.
“Sangat senang dengan adanya Posyandu Kamasean di Desa Singa Gembara ini. Sekarang kami punya tempat yang layak dan nyaman untuk memeriksakan anak,” ungkap Hermi penuh syukur.

Perjuangan warga desa untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar sebelumnya penuh dengan keterbatasan. Kepala Desa Singa Gembara, Hariani Kassa, menceritakan bahwa posyandu ini sudah berdiri sejak tahun 2014. Namun, selama belasan tahun, kegiatannya selalu menumpang di gedung atau rumah warga sekitar.
Kini, melalui program yang berjalan sesuai petunjuk operasional dan didukung dana RT, mereka akhirnya memiliki gedung sendiri. Dampaknya pun langsung terasa nyata. Pada hari peresmiannya, posyandu ini langsung diserbu warga dengan mencatat 104 kunjungan, yang terdiri dari 48 balita, 39 warga usia produktif, 9 bayi, 4 lansia, 4 ibu hamil.
Kemegahan gedung baru ini tidak lepas dari kontribusi nyata dunia usaha. Superintendent Community Health & Education PT Kaltim Prima Coal (KPC), Febriana Kurnia Sari, menegaskan bahwa fasilitas ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendukung sektor kesehatan dan pendidikan di Kutim.
“Kita akan membantu di beberapa wilayah yang membutuhkan infrastruktur kesehatan dan pendidikan. Kami juga membantu pengadaan jamban gratis, penanganan gizi buruk (stunting), serta melakukan monitoring berkala. Kami berharap fasilitas ini bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Febriana.

Senada Ketua TP-PKK Kutim, Siti Robiah Ardiansyah, menjelaskan bahwa bangunan yang diserahkan oleh KPC ini bukan sekadar posyandu biasa, melainkan Posyandu Transformasi yang sudah mempertimbangkan 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM).
“Masih banyak posyandu yang belum memiliki tempat sendiri. Untuk memaksimalkan fungsinya, kita harus memperbanyak kunjungan warga. Sebab, posyandu adalah garda terdepan tempat untuk deteksi dini stunting,” tegas Siti Robiah.
Semenatara itu, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi yang hadir meresmikan gedung tersebut, memberikan apresiasi tinggi dan menyebut Posyandu Kamasean sebagai salah satu “buah tangan” terbaik dari CSR PT KPC untuk masyarakat Kutim.
Masalah gizi buruk memang menjadi perhatian utama. Mahyunadi, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kutim, sempat melontarkan analogi menarik mengenai pentingnya fisik dan gizi anak-anak sejak dini.
“Timnas Indonesia sekarang banyak orang Belanda keturunan Indonesia. Karena fisik orang Indonesia kecil, mungkin salah satunya karena gizi yang belum maksimal,” ujarnya seloroh namun penuh otokritik.

Di Kutim, tantangan ini nyata dengan adanya sekitar 8.000 anak yang terdampak stunting. Pemerintah daerah pun memiliki target besar dalam RPJMD untuk menurunkan angka stunting dari 20,6 persen di tahun 2025 menjadi 19,24 persen pada tahun 2029.
“Masalah gizi buruk bisa diberikan stimulan untuk memperbaiki. Kami sangat berharap data dari posyandu terkait stunting ini bisa selalu update,” pungkas Mahyunadi.
Sesuai namanya, “Kamasean” yang dalam bahasa Toraja berarti kasih sayang, posyandu baru ini diharapkan menjadi tempat bernaungnya kasih sayang untuk tumbuh kembang generasi masa depan Kutim yang lebih sehat dan kuat.(kopi5/kopi13/kopi3)
































