Beranda Keagamaan Iman dan Keluarga Jadi Pesan dari Peresmian Pastori Elim Sangatta

Iman dan Keluarga Jadi Pesan dari Peresmian Pastori Elim Sangatta

349 views
0

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman didampingi beberapa pendeta dan Jemaat Elim Sangatta meresmikan rumah pastori pada rangkaian Syukuran Tahunan dan HUT ke-23 Jemaat Elim Sangatta, Sabtu (6/6/2026). (Vian/Pro Kutim).

SANGATTA – Lantunan puji-pujian mengalun mengisi setiap sudut Gereja Elim Sangatta pada Sabtu, (6/6/2026). Wajah-wajah penuh sukacita tampak berbaur dalam suasana syukur yang hangat ketika ratusan jemaat berkumpul memperingati Syukuran Tahunan, Peresmian Pastori, dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Jemaat Elim Sangatta.

Perayaan itu tidak hanya menjadi penanda bertambahnya usia pelayanan gereja, tetapi juga momentum yang sarat makna bagi perjalanan kehidupan rohani jemaat. Di tengah semarak ibadah syukur yang diisi puji-pujian, parade defile persembahan syukur dari lima sektor pelayanan, penampilan tari-tarian, hingga paduan suara, terselip pesan tentang pentingnya menjaga keteguhan iman dan keutuhan keluarga sebagai penyangga kehidupan masyarakat.

Puncak kegiatan ditandai dengan peresmian rumah pastori yang dilakukan oleh Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, bersama para pemimpin gereja. Pengguntingan pita menjadi simbol rampungnya sebuah ikhtiar panjang yang telah diperjuangkan jemaat selama dua tahun terakhir. Rumah pastori yang diresmikan tersebut memiliki luas sekitar 300 meter persegi. Pembangunannya menelan biaya sekitar Rp3 miliar yang dihimpun melalui persembahan khusus jemaat Elim Sangatta serta dukungan Pemkab Kutim.

Dalam sambutannya, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa peringatan HUT jemaat, syukuran tahunan, dan peresmian pastori tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan gerejawi, melainkan juga sebagai pengingat akan pentingnya membangun fondasi kehidupan yang kokoh melalui iman dan keluarga.

“Kalau kita ingin Kutim terus maju, maka fondasinya harus kuat. Fondasi itu adalah iman dan keluarga. Keluarga yang takut akan Tuhan akan melahirkan generasi yang kuat, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan zaman,” ujar Ardiansyah.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak semata bertumpu pada infrastruktur fisik ataupun pertumbuhan ekonomi. Di balik kemajuan sebuah daerah, terdapat ketahanan sosial yang lahir dari keluarga-keluarga yang harmonis dan memiliki pegangan nilai yang kuat. Pesan itu menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi yang bergerak begitu cepat. Ardiansyah mengingatkan bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, kini berhadapan dengan berbagai tantangan sosial yang kian rumit.

“Saat ini kita menghadapi banyak tantangan, mulai dari penyebaran informasi palsu atau hoaks di media sosial hingga bahaya narkoba,” katanya.

Karena itu peran gereja dan para hamba Tuhan sangat penting untuk membimbing umat, terutama anak-anak dan generasi muda agar tetap berada di jalan yang benar. Ia menambahkan, keluarga yang rukun dan dekat dengan nilai-nilai ketuhanan harus menjadi benteng utama dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif yang berkembang di tengah masyarakat.

“Keluarga yang harmonis dan dekat dengan Tuhan akan menjadi pegangan yang kuat bagi anak-anak kita dalam bergaul dan menentukan masa depan mereka,” tambahnya.

Sebelumnya, Pdt Elvis Saladan dalam khotbahnya menguraikan makna kehadiran pastori yang baru diresmikan. Setelah lebih dari tiga dekade melayani, ia memandang pastori bukan hanya bangunan tempat tinggal, melainkan bagian yang menyatu dengan pelayanan gereja.

“Pastori adalah bagian dari bait Allah. Di sanalah hamba Tuhan berdoa dan menaikkan syafaat bagi jemaat. Di sana juga tempat pendeta memikirkan pelayanan, mempersiapkan khotbah, merancang ibadah, memberikan pengajaran firman Tuhan, menerima jemaat yang datang untuk berkonsultasi, sekaligus menjadi tempat beristirahat setelah melayani,” katanya.

Bagi Pdt Elvis Saladan, keberadaan pastori merupakan wahana pelayanan yang memungkinkan seorang pelayan Tuhan menjalankan tugas penggembalaan dengan lebih baik. Karena itu, ia mengajak jemaat memandang bangunan tersebut sebagai bagian dari pelayanan yang harus dirawat dan dimanfaatkan untuk kepentingan umat.

“Ketika pastori dibangun dengan baik, sesungguhnya jemaat sedang menyediakan tempat yang layak bagi pelayanan Tuhan untuk terus bertumbuh dan menjangkau lebih banyak orang,” tutur Pdt Elvis Saladan yang telah 33 tahun melayani.

Rasa syukur yang sama juga disampaikan Ketua Panitia Syukuran Tahunan, Peresmian Pastori, dan HUT ke-23 Jemaat Elim Sangatta, Sesthy Bumbungan. Ia menyebut rampungnya pembangunan pastori sebagai buah dari kebersamaan yang dirawat dalam waktu panjang.

“Semua ini adalah bukti penyertaan Tuhan dan kebersamaan jemaat. Pembangunan pastori dapat selesai karena semangat gotong royong, kesetiaan jemaat memberi persembahan, serta dukungan dari berbagai pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Kutai Timur,” ungkap Sesthy.

Ia berharap keberadaan pastori yang baru dapat semakin menunjang pelayanan gereja dan menghadirkan ruang yang nyaman bagi para hamba Tuhan dalam menjalankan tugas penggembalaan. Dia menegaskan, peresmian pastori ini bukan akhir dari perjalanan, tetapi awal untuk meningkatkan pelayanan yang lebih baik lagi.

“Kami berharap Jemaat Elim Sangatta terus bertumbuh dalam iman, kasih, dan pelayanan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Perayaan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban itu menjadi ruang refleksi bagi seluruh jemaat. Di tengah gemuruh perubahan zaman, pesan yang mengemuka tetap sederhana namun mendasar, menjaga kehidupan rohani, merawat keharmonisan keluarga, dan menghadirkan nilai-nilai iman dalam keseharian. Dari sanalah, harapan akan lahirnya generasi yang berkarakter dan masyarakat yang tangguh terus dititipkan. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini