Beranda Keagamaan Ardiansyah Sulaiman Tegaskan Kutim Rumah Semua Umat Beragama

Ardiansyah Sulaiman Tegaskan Kutim Rumah Semua Umat Beragama

141 views
0

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman menghadiri Syukur Tahunan, Peresmian Pastori dan HUT ke-23 Jemaat Elim Sangatta. (Vian/Pro Kutim)

SANGATTA – Alunan puji-pujian, doa, dan ungkapan syukur membingkai perayaan Syukur Tahunan, peresmian pastori, serta Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Gereja Toraja Jemaat Elim Sangatta, Kamis (6/6/2026). Momentum yang berlangsung dalam suasana penuh sukacita itu tidak hanya menjadi penanda perjalanan pelayanan gereja selama lebih dari dua dasawarsa, melainkan juga menegaskan pentingnya merawat toleransi, memelihara persaudaraan, menguatkan ketahanan iman, dan menjaga kelestarian lingkungan.

Di tengah kebersamaan jemaat, tokoh agama, dan masyarakat yang hadir, Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman menyampaikan pesan mengenai arti kerukunan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Baginya, keberagaman bukanlah sekat yang memisahkan, melainkan anugerah yang dapat menjadi daya pengikat bagi pembangunan daerah. Dalam sambutannya, Ardiansyah menegaskan komitmen Pemkab Kutim untuk memberikan pengayoman kepada seluruh umat beragama sebagai bagian dari upaya menjaga harmoni sosial di daerah.

“Pemkab Kutim mengayomi semua agama yang ada. Setiap agama mengajarkan kebenaran dan nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan kemanusiaan. Karena itu, perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun daerah ini bersama-sama,” ujar Ardiansyah.

Berikutnya, kehidupan beragama yang rukun merupakan salah satu sendi utama yang menopang stabilitas sosial sekaligus memperkuat iklim pembangunan. Karena itu, ia berharap keberadaan pastori yang baru diresmikan dapat menunjang pelayanan gereja dan menjadi ruang pembinaan umat yang memberi maslahat bagi masyarakat luas.
Perayaan tersebut tidak hanya menghadirkan suasana syukur atas bertambahnya usia pelayanan Jemaat Elim Sangatta, tetapi juga menjadi ruang perenungan mengenai makna iman di tengah berbagai dinamika kehidupan.

Dalam khotbahnya, Pendeta Elvis Saladan mengajak jemaat menghayati tema “Bersyukur Dalam Segala Hal” yang diambil dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Tema itu, menurutnya, mengandung pesan mendalam tentang sikap hidup orang percaya dalam menghadapi setiap musim kehidupan.

“Rasul Paulus mengingatkan kita untuk terus bersyukur dalam segala hal. Artinya, apa pun keadaan yang kita alami, baik suka maupun duka, kita harus tetap menyatakan ketergantungan kita kepada Tuhan,” katanya.

Ia menuturkan bahwa rasa syukur tidak boleh hadir hanya ketika seseorang menikmati keberhasilan atau menerima kebahagiaan. Sebaliknya, syukur juga harus tetap dipelihara ketika berhadapan dengan pergumulan, kesulitan, bahkan dukacita. Sebab, orang beriman meyakini bahwa Tuhan tetap bekerja dalam setiap keadaan dan tetap memelihara umat-Nya.

Karena itu, syukur bukan hanya ekspresi saat menerima berkat, melainkan pengejawantahan iman dan kepercayaan kepada Tuhan yang senantiasa menyertai perjalanan hidup manusia.
Selain menyoroti kehidupan spiritual, Pdt Elvis juga mengangkat nilai-nilai budaya Toraja yang selama ini menjadi warisan sosial yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Ia menjelaskan bahwa tongkonan tidak hanya dimaknai sebagai rumah adat, tetapi juga lambang persekutuan, persaudaraan, dan ikatan kekeluargaan yang menyatukan masyarakat Toraja di berbagai tempat.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, perlu terus dirawat agar masyarakat mampu menyelesaikan berbagai persoalan melalui jalan dialog, musyawarah, dan semangat kekeluargaan.
Pesan lain yang turut mengemuka dalam khotbah itu adalah pentingnya menjaga lingkungan hidup. Mengacu pada konsep sangserekan dalam budaya Toraja, Pdt Elvis menjelaskan bahwa manusia dan alam memiliki hubungan yang erat serta tidak dapat dipisahkan.

“Kalau kita tidak bersahabat dengan alam, maka alam bisa menjadi malapetaka bagi manusia. Karena itu lingkungan harus dijaga sebagai sahabat kehidupan,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa berbagai persoalan ekologis yang terjadi saat ini, mulai dari deforestasi hingga meningkatnya bencana alam, menjadi isyarat bahwa pembangunan perlu berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang. Di sisi lain, peresmian pastori menjadi salah satu momen yang paling membahagiakan bagi Jemaat Elim Sangatta. Bangunan yang telah lama menjadi harapan bersama itu akhirnya dapat digunakan untuk mendukung pelayanan gereja dan pembinaan umat.

Pendeta Jemaat Elim Sangatta, Pdt Yohanis Sabang, mengungkapkan rasa syukur atas terwujudnya cita-cita yang selama ini diperjuangkan secara bersama-sama oleh jemaat.

“Puji Tuhan, hari ini kami sangat bersyukur karena pastori yang menjadi kerinduan jemaat akhirnya dapat diresmikan. Ini bukan hanya rumah untuk pendeta, tetapi rumah pelayanan yang akan mendukung pembinaan dan pelayanan kepada jemaat. Semua ini bisa terwujud karena pertolongan Tuhan, dukungan jemaat, dan kebersamaan yang terus terjaga,” ujarnya.

Bagi Jemaat Elim Sangatta, peresmian pastori bukan semata hadirnya sebuah bangunan fisik. Lebih daripada itu, pastori menjadi simbol ketekunan, gotong royong, dan kebersamaan yang dipelihara dalam perjalanan pelayanan selama bertahun-tahun.

Perayaan syukur tahunan, peresmian pastori, dan HUT ke-23 Jemaat Elim Sangatta pada akhirnya menjadi pengingat bahwa gereja tidak hanya dipanggil untuk mendirikan bangunan, tetapi juga menumbuhkan kehidupan iman, mempererat keluarga, mengokohkan persaudaraan, serta merawat lingkungan sebagai wujud tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama. Di tengah kemajemukan Kutim, pesan-pesan itu hadir sebagai peneguh bahwa kerukunan, kepedulian, dan kebersamaan tetap menjadi modal berharga dalam merawat kehidupan masyarakat yang harmonis. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini