Beranda Kutai Timur Soal Tarif PDAM Yang Bakal Naik – Bupati: Pastikan Tidak Memberatkan Warga

Soal Tarif PDAM Yang Bakal Naik – Bupati: Pastikan Tidak Memberatkan Warga

61 views
0

SANGATTA- Rencana kenaikan tarif air di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang bakal dinaikkan oleh PDAM Tirta Tuah Benua akhir 2017 diharapkan tidak memberatkan warga. Hal itu disampaikan oleh Bupati Kutim Ismunandar saat memimpin rapat kerja Coffe Morning, di Ruang Meranti, Sekretariat Kabupaten, Senin (7/8) kemarin.

Mengawali arahannya, sebelumnya Bupati meminta kepada jajaran PDAM Kutim untuk menyampaikan rencana pemberlakukan tarif baru kepada para Camat, sehingga sosialisasinya bisa lebih cepat. Dengan tujuan menjelaskan dasar kenaikan tariff dimaksud. Selain itu masyarakat juga jadi tahu perbandingan tarif yang baru dengan lama.
“Jangan sampai dinilai memberatkan warga. Tarif baru nilai jualnya tidak memberatkan,” tegasnya.

Seperti telah di informasikan pada pemberitaan sebelumnya, tarif PDAM Kutim naik sesuai instruksi pemerintah pusat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum. Serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 71 Tahun 2016 tentang Perhitungan dan Penetapan Tarif Air Minum. Maka kenaikan tarif akan diberlakukan dengan dua tahapan. Tahap pertama pada Desember 2017 dan tahap kedua Januari 2018. Tahap 1 rata-rata 30 persen dan Tahap 2 sebesar 50 persen. Kenaikan tarif juga terbagi mulai kelompok I hingga IV.

Dirut PDAM Tirta Tuah Benua Kutim Aji Mirni Mawarni menjelaskan pemberlakuan tarif baru ini selain untuk mendukung peningkatan pelayanan di seluruh wilayah Kutim dengan 18 Kecamatan, 137 Desa ditambah 2 Kelurahan. Sekaligus menindaklanjuti instruksi dari Pemerintah Pusat bahwa PDAM selain menggerakkan aspek sosial juga dituntut profit. Untuk itulah PDAM Kutim akan melakukan kenarikan tarif air dengan harapan operasional, distribusi dan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. Paling penting kedepan PDAM bisa berjalan tanpa bergantung pada subsidi dari pemerintah daerah.

“Biaya operasional di Kutim tinggi berdasakan luas wilayah dan geografis dimana warga desa terpencar jauh. Tapi harga tetap lebih murah sepuluh kali lipat. Perbandingan warga membeli tandon air 1200 liter seharga Rp 60 – Rp 70ribu, Kalau di kita cukup Rp 5000 untuk satu M3 (meter kubik) atau setara 1000 liter,” ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk sosialisasinya selain telah bekerjasama dengan media cetak maupun elektronik. Diumumkan lewat pamflet. Khusus di Kecamatan, PDAM telah menyerahkan pada Kepala Unit dan Kepala Cabang. Mereka sudah bergerak door to door,” sebutnya. (hms7)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here