Beranda Kutai Timur Panen Tomat Kandolo, Bukti Nyata Pembinaan Hortikultura Dorong Pendapatan Petani

Panen Tomat Kandolo, Bukti Nyata Pembinaan Hortikultura Dorong Pendapatan Petani

7302
0

Momen panen tomat di Desa Kandolo. Foto : Fuji/Alvian/Prokutim

TELUK PANDAN – Pagi di Desa Kandolo, Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur (Kutim), Rabu (21/1/2026), berdenyut dengan warna merah ranum. Di lahan pertanian milik Yudi, Jalan Pendidikan RT 07, tandan-tandan tomat bergelantungan, menjadi penanda kerja panjang yang berbuah nyata. Panen tomat yang dirangkai dengan pembinaan hortikultura itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan potret kecil dari ikhtiar membangun kemandirian ekonomi desa melalui pertanian.

Kegiatan yang digagas Kelompok Tani Sumber Urip tersebut menghadirkan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman langsung di tengah petak lahan. Kehadiran kepala daerah di ruang terbuka pertanian itu menjelma simbol keberpihakan. Pemerintah tidak berjarak dari lumpur dan peluh petani. Di antara barisan tanaman, dialog pun mengalir tentang teknik budidaya, produktivitas, hingga peluang pemasaran hasil panen.

Tomat dipilih bukan tanpa alasan. Komoditas hortikultura ini memiliki siklus tanam relatif singkat dengan daya serap pasar yang luas. Perputaran modalnya cepat, risikonya terukur, dan jika dikelola konsisten, mampu menjadi sandaran pendapatan keluarga tani. Dari lahan sederhana di Kandolo, potensi itu terbukti hadir dalam angka dan cerita.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengapresiasi ketekunan dan konsistensi Kelompok Tani Sumber Urip dalam mengembangkan hortikultura. Ia menegaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi poros penting penggerak ekonomi desa di Kutim.

“Pertanian hortikultura seperti tomat ini sangat potensial meningkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah hadir tidak hanya saat panen, tetapi juga melalui pembinaan, pendampingan, dan membuka akses dari hulu hingga hilir. Mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran,” ujar Ardiansyah.

Ia juga menggarisbawahi urgensi pertanian berkelanjutan, pemanfaatan teknologi tepat guna, inovasi budidaya, serta penguatan kelembagaan kelompok tani. Agar posisi tawar petani semakin kukuh di pasar.

Dari sisi teknis dan ekonomi, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kutim Dyah Ratnaningrum, memaparkan hitung-hitungan yang memberi gambaran konkret. Dalam satu periode panen tomat, hasil yang diperoleh petani bisa mencapai Rp 140 juta per hektare dengan biaya produksi sekitar Rp 25 juta.

“Jika dibagi dengan jumlah rata-rata petani bisa memperoleh penghasilan Rp 5 juta per satu kali periode panen,” ungkap Dyah.

Angka-angka tersebut bukan statistik dingin, melainkan cermin peluang. Bagi petani Kandolo, hasil panen ini menjadi bukti bahwa pembinaan yang konsisten dapat mengangkat nilai tambah kerja tani.

Ketua Kelompok Tani Sumber Urip, Arif Sugianto, menyampaikan apresiasi atas perhatian langsung dari pemerintah daerah.

“Kami berharap pembinaan seperti ini terus berlanjut, terutama dalam peningkatan keterampilan petani, bantuan sarana produksi, dan dukungan akses pemasaran. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, kami yakin petani Kandolo bisa lebih mandiri dan sejahtera. Meskipun regulasi tidak membolehkan pengadaan alat sistem pertanian, kami berharap ada bantuan alat angkut panen,” ungkapnya.

Saat ini, Kelompok Tani Sumber Urip mengelola lahan seluas 22,2 hektare dengan ragam komoditas. Seperti melon, semangka, cabai, dan tomat, yang dirawat bergantian sesuai musim. Keberhasilan panen tomat di Kandolo diharapkan menjadi teladan bagi desa-desa lain di Teluk Pandan, bahwa hortikultura, bila digarap sungguh-sungguh dan ditopang sinergi pemerintah, bukan hanya menjanjikan, tetapi juga memulihkan martabat kerja tani.

Melalui panen sederhana ini, Pemkab Kutim kembali menegaskan komitmennya mendampingi petani sebagai pilar ketahanan pangan daerah sekaligus penggerak utama ekonomi desa. Sebuah kerja sunyi yang bertumbuh dari tanah dan kesabaran. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini