Beranda Kutai Timur Banjir Rendam Rawa Indah, BPBD Kutim Terus Monitor Kenaikan Air

Banjir Rendam Rawa Indah, BPBD Kutim Terus Monitor Kenaikan Air

29 views
0

Banjir mengenangi kawasan permukiman Rawa Indah Sangatta Utara. Foto: Istimewa

SANGATTA – Banjir kembali melanda permukiman warga di RT 11, Kelurahan Rawa Indah, Kecamatan Sangatta Utara, Kamis (5/2/2026). Genangan air mulai memasuki halaman rumah warga hingga menggenangi badan jalan utama kawasan Rawa Indah sejak pagi hari, setelah debit air sungai terus meningkat dan hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Rabu (3/2/2026) malam.

Berdasarkan pantauan Pro Kutim di lapangan, air mulai naik secara signifikan sejak dini hari. Intensitas hujan yang cukup tinggi membuat aliran sungai meluap, sehingga tidak mampu lagi menampung debit air. Akibatnya, air merembes ke permukiman warga yang berada di dataran rendah, khususnya di wilayah RT 11 yang selama ini memang rawan banjir saat curah hujan tinggi.

Beberapa warga mengaku banjir kali ini datang lebih cepat dibanding hari-hari sebelumnya. Genangan air terlihat mengisi halaman rumah, merendam sebagian pekarangan, serta mengganggu akses jalan lingkungan. Kendaraan roda dua dan roda empat mulai kesulitan melintas di beberapa titik karena tinggi genangan yang terus bertambah.

“Air mulai naik sejak subuh. Tadi malam hujan deras sekali, dan pagi ini air sudah masuk halaman rumah. Jalan juga sudah tergenang,” ujar Ikip salah seorang warga RT 11 Rawa Indah.

Selain curah hujan tinggi, naiknya debit air sungai menjadi faktor utama terjadinya banjir. Aliran air dari hulu yang terus meningkat menyebabkan luapan di beberapa titik bantaran sungai, sehingga air meluber ke kawasan permukiman. Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase lingkungan yang tidak mampu menampung volume air dalam waktu singkat.

Aktivitas warga pun mulai terganggu. Sebagian warga terpaksa menunda aktivitas keluar rumah, sementara lainnya mulai mengamankan barang-barang berharga dan perabotan rumah tangga ke tempat yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi jika ketinggian air terus bertambah.

Hingga Kamis pagi, belum ada laporan resmi terkait jumlah rumah terdampak secara pasti. Namun, genangan air telah terlihat di sejumlah titik strategis kawasan Rawa Indah, baik di lingkungan permukiman maupun ruas jalan yang menjadi akses utama warga.

Warga berharap adanya penanganan cepat dari pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun instansi teknis, untuk membantu penanganan banjir, termasuk normalisasi drainase dan pengawasan debit air sungai. Mereka juga berharap adanya langkah antisipatif jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir yang kerap terjadi setiap musim hujan.

“Kalau hujan deras dan air sungai naik, kami selalu was-was. Mudah-mudahan ada solusi jangka panjang supaya banjir tidak terus berulang,” tambah Riyanto.

Hingga berita ini diturunkan, kondisi cuaca di wilayah Sangatta Utara masih berawan dengan potensi hujan lanjutan. Warga diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan air susulan, terutama bagi permukiman yang berada di sekitar bantaran sungai dan wilayah dataran rendah.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus melakukan pemantauan intensif terhadap banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Sangatta, khususnya di area sekitar aliran sungai, permukiman warga, serta kawasan bekas galian tambang.

Dari siaran pers yang diterima Pro Kutim, Kepala BPBD Kutim, Sulastin, mengatakan bahwa pemerintah daerah telah menurunkan tim ke sejumlah titik rawan banjir untuk memantau perkembangan debit air secara langsung di lapangan.

“Kami sudah menugaskan tim di titik-titik banjir, baik di kawasan sungai maupun di area bekas galian tambang. Pemantauan dilakukan secara berkala karena ketinggian air bersifat fluktuatif, naik beberapa sentimeter, kemudian turun, dan naik lagi dalam siklus sekitar tiga jam,” ujar Sulastin, Kamis (5/2/2026).

Menurutnya, pemantauan berkelanjutan sangat penting untuk mengantisipasi potensi banjir susulan, mengingat intensitas hujan masih tergolong tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Selain di kawasan permukiman, banjir juga terjadi di wilayah pertambangan, khususnya di area jalan tambang dan bekas galian di kawasan mining Pama. Kondisi tersebut menyebabkan akses warga menjadi terganggu dan menyulitkan mobilitas masyarakat.

“Di daerah pertambangan, terutama di dalam tanggul bekas penampungan dan bekas galian, air cukup cepat menggenang. Ini memang menjadi titik rawan setiap musim hujan,” jelasnya.

Sulastin menegaskan bahwa BPBD Kutim telah berkoordinasi dengan tim relawan kecamatan dan unsur pemerintah setempat untuk melakukan pemantauan dan respons cepat di lapangan. Tim gabungan juga turun langsung untuk memastikan kondisi warga dan memetakan wilayah terdampak.

“Kami terus berkoordinasi dengan relawan kecamatan, aparat desa, serta tim lapangan. Beberapa wilayah memang sempat terendam, namun berdasarkan laporan, air rata-rata surut dalam waktu sekitar tiga jam. Meski begitu, kewaspadaan tetap kami tingkatkan,” katanya.

Terkait penyebab banjir, Sulastin menyebut curah hujan tinggi menjadi faktor utama yang diperparah oleh kondisi bekas galian tambang yang berfungsi seperti cekungan penampungan air.

“Ini merupakan banjir tahunan yang dipicu curah hujan tinggi dan kondisi bekas galian. Struktur tanah dan tanggul penampungan air di area tambang membuat air mudah menggenang, apalagi dengan kondisi iklim saat ini yang memang ekstrem,” ujarnya.

BPBD Kutim juga akan melakukan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pihak perusahaan tambang, untuk membahas langkah-langkah penanganan jangka pendek dan jangka panjang.

“Kami akan segera menghubungi pihak perusahaan terkait untuk membicarakan solusi penanganan banjir tahunan ini, terutama di kawasan bekas galian. Ini penting agar ke depan dampaknya tidak terus berulang dan merugikan masyarakat,” tegas Sulastin.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kutim telah mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, terutama bagi warga yang tinggal di bantaran sungai, dataran rendah, dan sekitar bekas galian tambang.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Curah hujan masih cukup tinggi, dan kondisi cuaca saat ini berpotensi memicu banjir susulan. Jika terjadi kenaikan air yang signifikan, segera laporkan ke aparat setempat atau BPBD,” pungkasnya.

Pemerintah daerah memastikan akan terus melakukan pemantauan situasi secara intensif dan memperkuat koordinasi lintas instansi demi menjamin keselamatan warga serta meminimalkan dampak banjir di wilayah Sangatta dan sekitarnya.(kopi15/kopi13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini