Beranda Kutai Timur Erau Adat Kutai Siap Digelar, Menjaga Warisan Leluhur di Kutim

Erau Adat Kutai Siap Digelar, Menjaga Warisan Leluhur di Kutim

89 views
0

Suasana Kegiatan penyerahan Sabda Pandita Ratu Oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Adji Muhammmad Arifin kepada Pemangku Adat Kutai di Kutim, H Kasmo Pital (Hasyim)

SANGATTA – Sebuah tonggak kebudayaan kembali ditegakkan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Peresmian Rumah Adat Kutai menjadi penanda awal bagi upaya menghidupkan kembali pelaksanaan Erau Adat Kutai, sebuah perhelatan budaya yang sarat makna bagi masyarakat Kutai. Momentum tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin bersama Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Rabu (22/4/2026).

Peristiwa itu bukan sekadar seremoni peresmian bangunan adat, melainkan isyarat dimulainya ikhtiar menghidupkan kembali denyut tradisi yang pernah mengakar kuat di tanah Kutim.
Ardiansyah menegaskan, setelah pengukuhan pemangku adat serta berdirinya rumah adat yang representatif, sudah waktunya Kutim menyelenggarakan Erau Adat Kutai sebagai bentuk penghormatan kepada pusaka budaya leluhur. Menurutnya, gagasan tersebut merupakan amanat langsung dari Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura agar kehidupan adat tidak berhenti pada simbol, melainkan hadir nyata dalam kehidupan masyarakat.

“Saya hanya ingat satu pesan dari Ayahanda Sultan Aji Muhammad Arifin, dengan telah dikukuhkannya pemangku adat, kemudian peresmian rumah adat, maka Pemangku Adat Kutai di Kutim silakan untuk mengadakan Erau Adat Kutai,” ujar Ardiansyah.

Bupati menyatakan pemerintah daerah siap memulai pelaksanaan Erau pada tahun ini dengan menyesuaikan kemampuan anggaran yang tersedia. Ia menuturkan, momentum pelaksanaannya masih akan dibicarakan lebih lanjut, termasuk kemungkinan diselaraskan dengan peringatan hari jadi Kutim atau agenda daerah lainnya.

Penandatanganan Prasasti Peresmian Rumah Adat Kutai oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Adji Muhammmad Arifin bersama Bupati Ardiansyah Sulaiman (hasyim)

“Saya berjanji dengan beliau (Sultan), InsyaAllah mudah-mudahan tahun ini dengan segenap kemampuan kita akan mulai. Tentang waktunya nanti kita menyesuaikan, apakah bertepatan dengan hari ulang tahun Kutim atau momentum lainnya,” katanya.

Bagi masyarakat Kutai, Erau bukanlah sekadar pesta adat atau perayaan tahunan. Tradisi ini menyimpan makna mendalam sebagai ungkapan syukur, ritual penyucian wilayah, serta sarana mempererat tali persaudaraan warga. Dalam khazanah budaya Kutai, Erau juga menjadi simbol penghormatan terhadap adat Kesultanan Kutai sekaligus medium untuk menjaga nilai-nilai budaya agar tidak tergerus arus zaman.

Ardiansyah menilai, kebangkitan Erau dapat menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Generasi muda diharapkan mengenali kembali akar budayanya, memahami jejak tradisi yang diwariskan, dan merawatnya sebagai bagian dari identitas masyarakat.

“Bukan hanya seremoni, tetapi ada nilai adat, nilai persatuan, dan penghormatan kepada warisan leluhur yang harus terus dijaga. Rumah adat ini jangan sampai sunyi, tetapi harus menjadi pusat kegiatan budaya,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya nanti, Erau akan dirangkaikan dengan berbagai agenda adat yang sarat simbolik, seperti pelas tanah, pelas pijak tanah, pelas laut, festival adat dan budaya, hingga festival olahraga tradisional. Istilah pelas dalam tradisi Kutai merujuk pada upacara penyucian atau penolak bala. Sebuah ritus sakral yang dipercaya menjaga keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat. Seluruh perangkat adat dan para punggawa disebut telah menyatakan kesiapan mendukung kegiatan tersebut. Mereka berharap Erau dapat kembali menjadi agenda kebudayaan yang berkelanjutan di Kutim, bukan sekadar peristiwa insidental.

Meski demikian, realisasi penyelenggaraan Erau masih menunggu kesiapan anggaran daerah. Program tersebut belum masuk dalam pembahasan APBD murni sehingga pemerintah daerah berharap dukungan dari DPRD melalui perubahan anggaran.

“Mudah-mudahan tahun ini, mungkin di perubahan anggaran, pemerintah akan menyiapkan pesta Erau. Ada hadir Wakil Ketua I DPRD Kutim dan para anggota legislatif lainnya, maka mudah-mudahan Erau ini bisa dimulai,” harapnya.

Selain dukungan pemerintah, partisipasi dunia usaha juga diharapkan dapat memperkuat penyelenggaraan kegiatan tersebut. Sinergi berbagai pihak diyakini akan mempercepat kebangkitan tradisi yang menjadi salah satu penanda jati diri masyarakat Kutai.

Dengan berdirinya rumah adat dan rencana pelaksanaan Erau, pemerintah daerah berharap kebudayaan Kutai tidak sekadar tersimpan dalam ingatan sejarah. Tradisi itu diharapkan tetap hidup. Menjadi penuntun identitas masyarakat di Tuah Bumi Untung Benua, serta menghadirkan manfaat kultural bagi generasi yang akan datang. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini