Beranda Kutai Timur Rumah Adat Kutai Diresmikan, Sultan Ingatkan Budaya Harus Tetap Hidup

Rumah Adat Kutai Diresmikan, Sultan Ingatkan Budaya Harus Tetap Hidup

54 views
0

Momen peresmian Rumah Adat Kutai di Sangatta. Foto: Vian Prokutim

SANGATTA – Pesan kuat mengenai kewajiban menjaga adat, budaya, dan warisan leluhur menggema dalam rangkaian penyerahan Sabda Pandita Ratu, penyerahan Surat Keputusan Bupati Kutai Timur (Kutim) kepada Pemangku Adat Istiadat Kutai Kutim, pengukuhan pengurus pemangku adat, sekaligus peresmian Rumah Adat Kutai di Sangatta, Rabu, (22/4/2026). Pesan tersebut berasal dari Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Sultan Aji Muhammad Arifin, yang amanatnya dibacakan oleh Pangeran Notonegoro di hadapan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman beserta istri Siti Robiah, para pemangku adat, tokoh masyarakat, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Kutim.

Dalam amanatnya, Sultan menegaskan bahwa kehadirannya dalam peresmian rumah adat tidak semata-mata memenuhi undangan seremonial. Kehadiran tersebut, kata Sultan, merupakan bentuk tanggung jawab moral dan adat sebagai pemimpin tertinggi Kesultanan Kutai.

“Peresmian rumah adat ini bukan sekadar memenuhi undangan resmi, tetapi merupakan wujud tanggung jawab sebagai pemimpin tertinggi Kesultanan Kutai dalam menjaga kesinambungan adat dan warisan leluhur,” demikian pesan Sultan yang dibacakan Pangeran Notonegoro.

Penyerahan Sabda Pandita Ratu, lanjutnya, menjadi pengingat bagi para pemangku adat agar tetap memegang teguh serta merawat pusaka nilai yang diwariskan para leluhur dari masa ke masa. Warisan tersebut, dalam khazanah kebudayaan Kutai, dipandang sebagai pusaka luhur yang dititipkan lintas generasi.

Sultan juga menegaskan bahwa pembangunan Rumah Adat Kutai bukan sekadar pembangunan fisik atau karya arsitektur belaka. Rumah adat, menurutnya, adalah lambang jati diri masyarakat Kutai sekaligus penanda keberlangsungan budaya yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Rumah adat bukan sekadar bangunan, tetapi simbol jati diri dan cerminan warisan budaya yang harus terus dilestarikan dari generasi ke generasi,” pesannya.

Dalam pandangan Sultan, gelombang modernisasi yang bergerak cepat tidak boleh menjadikan masyarakat tercerabut dari akar budayanya. Kemajuan, ujar beliau, hendaknya berjalan seiring dengan pelestarian adat. Keseimbangan itu penting agar masyarakat tidak kehilangan identitas kebudayaannya.

“Modernisasi jangan sampai menghapus akar budaya. Kemajuan harus berjalan seiring dengan adat, karena di situlah jati diri masyarakat tetap terjaga,” demikian amanat Sultan.

Rumah Adat Kutai, menurut Sultan, memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar ruang simbolik. Bangunan itu diharapkan menjadi pusat kegiatan budaya, wahana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal adat istiadatnya, sekaligus tempat mempererat tali persaudaraan masyarakat. Selain itu, rumah adat juga berpotensi menjadi tujuan pariwisata budaya yang memperkenalkan khazanah tradisi Kutai kepada khalayak luas. Potensi tersebut, apabila dikelola dengan arif, dapat menghadirkan manfaat sosial dan kultural bagi masyarakat. Ia pun mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga, merawat, serta memanfaatkan Rumah Adat Kutai sebagai simbol persatuan dan identitas daerah.

Kesultanan Kutai sendiri berdiri di atas empat fondasi utama, yakni adat, adab, berbudaya, serta bersyarak atau beragama. Keempat sendi tersebut menjadi pedoman kehidupan masyarakat agar tetap berada dalam tatanan yang rukun dan harmonis. Di dalam falsafah hidup masyarakat Kutai, dikenal pula ungkapan “Hidup Berkalang Amanah, Mati Berkalang Tanah.” Ungkapan ini menggambarkan nilai kesetiaan pada amanah selama hidup, hingga kembali ke tanah sebagai asal kehidupan.
Sementara itu, semangat “Bhinneka Tunggal Suaka” sebuah ungkapan lama yang mengandung makna perlindungan dalam keberagaman. Menjadi penegasan bahwa masyarakat Kutai memandang perbedaan sebagai kekayaan yang dirawat dalam kebersamaan.

Melalui pengukuhan pemangku adat serta peresmian Rumah Adat Kutai di Sangatta ini, adat istiadat Kutai di Kutim diharapkan semakin kukuh, tetap hidup dalam denyut masyarakat. Serta menjadi pusaka budaya yang diwariskan kepada generasi mendatang.
(kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini