Tokoh Adat Wehea Christian Hasmadi (dua dari kanan) dalam puncak pesta adat wehea Lom Plai.Foto: Irfan/Pro Kutim
MUARA WAHAU – Di balik kemeriahan ritual sakral Lom Plai yang digelar masyarakat Dayak Wehea di Lapangan Sepak Bola Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau pada Rabu (22/4/2026) terselip kegelisahan mengenai masa depan pelestarian budaya. Di tengah upaya menjaga keaslian tradisi yang diwariskan turun-temurun, masyarakat adat kini berhadapan dengan kendala infrastruktur dan keterbatasan sarana pendukung yang mulai usang.
Christian Hasmadi, perwakilan masyarakat Adat Dayak Wehea, mengungkapkan bahwa tantangan fisik menjadi beban berat dalam pelaksanaan festival tahunan ini. Salah satu kebutuhan mendesak adalah peremajaan armada perahu yang digunakan untuk berbagai prosesi penting, seperti ritual Seksiang (perang air), lomba dayung, hingga panggung tari di atas air.

“Perahu-perahu yang kami gunakan sangat terbatas. Kayu-kayu perahu itu sudah mulai lapuk dimakan usia karena sudah dua tahun lebih digunakan. Kami sangat memohon dukungan pemerintah, khususnya Wakil Bupati, untuk membantu pengadaan perahu baru,” ujar Christian dalam sambutan di atas panggung Lom Plai.
Selain perahu, keterbatasan jumlah rakit juga menjadi kendala bagi para seniman muda Wehea. Saat ini, pertunjukan tari di atas sungai hanya bisa dilakukan pada satu unit rakit secara bergantian. Padahal, kekayaan seni Dayak Wehea sangat beragam. Jika dukungan unit rakit memadai, Christian meyakini setiap kontingen dapat menampilkan berbagai varian tari secara serentak di sepanjang aliran sungai, yang sekaligus dapat melibatkan etnis lain dalam bingkai persatuan.
Persoalan infrastruktur jalan juga menjadi sorotan tajam. Pesta adat Lom Plai digelar secara bergiliran di enam desa adat. Namun, akses penghubung dari Desa Nehas Liah Bing menuju Desa Bea Nehas (Benhes) masih berupa jalan tanah. Kondisi ini menjadi tantangan berat, terutama saat hujan turun yang menyebabkan mobilitas warga dan anak sekolah lumpuh akibat jalan yang berlumpur.

Meskipun beberapa ruas jalan telah masuk dalam proyek tahun jamak (multiyears), masyarakat berharap percepatan pembangunan segera menyentuh urat nadi desa-desa adat ini. Harapan serupa juga ditujukan pada pola pendanaan kegiatan.
Selama ini, panitia lokal masih kerap kesulitan menggalang dukungan dana. Meski ada bantuan dari pihak ketiga, jumlahnya dinilai belum mencukupi untuk skala festival yang masuk dalam kalender pariwisata nasional.
“Kami sangat berharap Lom Plai tidak lagi bergantung pada bantuan yang tidak pasti, melainkan bisa dianggarkan secara tetap melalui APBD setiap tahunnya,” tegas Christian.

Bagi masyarakat Wehea, Lom Plai bukan sekadar tontonan, melainkan identitas yang tidak boleh lekang oleh zaman. Christian menekankan komitmen masyarakat adat untuk tetap menjaga ritual ini sesuai aslinya tanpa ada “polesan” yang mengubah substansi.
“Inilah ciri khas kami. Kami tidak mengubah apa yang sudah diwariskan oleh leluhur. Tugas kami hanya melestarikan dan memastikan generasi penerus tetap bangga memegang teguh tradisi ini,” tuturnya.
Keaslian inilah yang diharapkan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, sembari menunggu langkah konkret pemerintah daerah dalam membenahi fasilitas penunjang dan aksesibilitas menuju jantung kebudayaan Kutim tersebut.(kopi13/kopi3)





























