Beranda Kutai Timur Menginspirasi, Cabai dari Pekarangan Sueb jadi Nafas Ekonomi Keluarga

Menginspirasi, Cabai dari Pekarangan Sueb jadi Nafas Ekonomi Keluarga

4 views
0

Kebun cabe serta pembakaran arang secara tradisional yang dikelola oleh Pak Sueb “Pak De Pentol”. (Vian/Pro Kutim)

SANGATTA – Di tengah denyut ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan harga kebutuhan pokok yang terus beranjak naik, usaha kecil berbasis rumah tangga masih menjadi penyangga utama keberlangsungan hidup banyak keluarga. Di sudut Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), kisah itu tampak nyata dalam perjalanan hidup Sueb, yang lebih akrab disapa warga sebagai Pak De Pentol.
Sore itu, Selasa (19/5/2026), lelaki paruh baya tersebut terlihat sibuk di kebun cabenya yang berada tidak jauh dari rumah. Pada lahan sekitar setengah hektare, ia menanam kurang lebih 300 batang cabe jenis kaliber. Tanaman hortikultura itu kini menjadi salah satu sandaran nafkah keluarganya.

Perjalanan Sueb di perantauan bermula pada 2009, ketika ia meninggalkan kampung halamannya di Lamongan, Jawa Timur (Jatim). Setibanya di Sangatta, ia memulai kehidupan dari bawah, berkeliling menjajakan pentol, makanan sederhana berbahan dasar tepung dan daging yang populer di banyak daerah Jawa, di sekitar Kampung Kajang, Sangatta Selatan. Dari profesi itulah warga mulai memanggilnya “Pak De Pentol”, julukan yang hingga kini masih melekat erat. Langkah hidupnya tidak selalu mulus. Namun perlahan, ia menekuni sektor lain yang lebih menjanjikan, pertanian cabai dan usaha arang kayu. Kini kedua bidang itu menjadi tumpuan utama perekonomian keluarganya.

Selain bertani, ayah dua anak gadis tersebut juga memproduksi arang kayu dari bahan baku kayu alaban yang banyak ditemukan di kawasan hutan Sangatta dan sekitarnya. Proses pembakaran masih dilakukan secara tradisional menggunakan tungku tanah sederhana. Meski demikian, hasil produksinya terbilang signifikan.
Dalam satu siklus produksi selama empat hari, ia mampu menjual sekitar 300 karung arang dengan harga Rp60 ribu per karung. Pembeli datang dari berbagai wilayah, mulai Sangatta, Bengalon, Sangkulirang, Wahau, Kongbeng, hingga Kota Bontang.

Jika dihitung secara sederhana, omzet dari penjualan arang saja dapat menembus lebih dari Rp100 juta per bulan. Sementara dari kebun cabenya, setiap batang rata-rata menghasilkan sekitar seperempat kilogram dalam satu kali panen. Dengan total 300 batang dan harga cabai yang kini berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram, hasil panen tersebut turut menambah pemasukan keluarga.

Seluruh proses produksi itu tetap dikerjakan dengan cara sederhana dan berbasis usaha rumahan. Namun dari jerih payah tersebut, Sueb bahkan telah mampu membeli satu unit mobil pick up yang kini digunakan untuk menunjang operasional usahanya. Mulai dari mengangkut hasil panen hingga mendistribusikan arang kepada para pelanggan di berbagai wilayah Kutim.

Kisah Sueb menjadi cermin bahwa sektor pertanian skala kecil dan ekonomi rumah tangga masih menyimpan daya tahan tersendiri. Di tengah gejolak ekonomi global serta kenaikan harga bahan bakar minyak yang turut memengaruhi harga kebutuhan masyarakat, usaha semacam ini tetap mampu menjadi penopang ketahanan pangan keluarga.

Tungku arang modern yang dirancang meminimalkan polusi asap. (Istimewa)

Menurut Pak De Pentol, memulai usaha dari skala kecil bukanlah sesuatu yang patut dipandang rendah. Baginya, ketekunan adalah kunci yang lambat laun dapat membuka jalan keberhasilan.

“Yang penting jangan malas. Sedikit-sedikit kalau ditekuni bisa jadi besar. Daripada menunggu bantuan terus, lebih baik mulai dari apa yang ada di sekitar kita,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat di Sangatta dan Kutim memanfaatkan pekarangan rumah maupun lahan yang belum digarap secara optimal. Tanah kosong, menurutnya, dapat menjadi sumber penghidupan apabila dikelola dengan baik.

“Kalau ada tanah kosong jangan dibiarkan semak terus. Tanam saja cabe, tomat, sayur atau apa yang bisa dimakan dan dijual. Sekarang apa-apa mahal. Walaupun sedikit, kalau dirawat bisa bantu dapur di rumah,” ungkapnya.

Meski usahanya terus berkembang, Sueb mengakui proses pembuatan arang dengan metode tradisional sering menghasilkan asap tebal yang kadang mengganggu lingkungan sekitar. Karena itu, ia berencana beralih ke teknologi pembakaran yang lebih modern.

“Kalau tungku modern sudah ada, kualitas arang bisa lebih bagus dan tetangga juga tidak terganggu asap lagi. Harga tungku arang modern bisa mencapai Rp50 juta per unit,” katanya.

Di sektor pertanian, Sueb tergabung dalam kelompok tani yang beranggotakan sekitar 24 petani. Kelompok tersebut secara rutin mendapatkan dukungan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim.

Berbagai bantuan telah diterima para petani, mulai dari pupuk, herbisida, alat semprot, coper (alat pencacah), mesin pompa air atau alkon, hingga plastik mulsa untuk budidaya tanaman. Menurut Sueb, dukungan tersebut sangat berarti bagi petani kecil agar tetap mampu bertahan dan meningkatkan produksi di tengah meningkatnya biaya pertanian.

Di balik kepulan asap tungku arang dan barisan tanaman cabai yang tumbuh di pekarangannya, perjalanan Sueb menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi keluarga sering kali lahir dari kerja sunyi. Dari usaha kecil yang dijalankan dengan ketekunan, kesabaran, dan kemauan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar.(kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini