Berbagai peralatan pertanian modern seperti drone, traktor, dan mesin perontok padi modern dipamerkan dalam rangkaian PENAS KTNA XVII 2026 di Gorontalo. Foto: Alvian/Pro Kutim
GORONTALO – Hamparan teknologi pertanian modern, jejaring kolaborasi lintas daerah, hingga pertemuan ribuan pelaku sektor pangan dari seluruh penjuru Nusantara akan berpadu dalam Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Kegiatan yang berlangsung pada 20–25 Juni 2026 itu bukan semata agenda tahunan insan pertanian, melainkan ruang temu gagasan dan inovasi yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan sekaligus kedaulatan pangan nasional.
Di tengah tantangan perubahan iklim, kebutuhan peningkatan produksi pangan, dan tuntutan modernisasi sektor pertanian, PENAS KTNA XVII hadir sebagai wahana pertukaran pengetahuan yang mempertemukan petani, nelayan, penyuluh, akademisi, pelaku usaha, hingga pemerintah dalam satu gelanggang pembelajaran bersama.
Menjelang pembukaan, berbagai persiapan terus dirampungkan panitia. Salah satu yang menjadi perhatian ialah penguatan jaringan telekomunikasi berbasis 5G di kawasan kegiatan. Kehadiran infrastruktur komunikasi tersebut diharapkan mampu menopang kelancaran arus informasi selama kegiatan berlangsung, sekaligus mendukung penyebarluasan berbagai inovasi yang dipamerkan kepada peserta dari seluruh Indonesia.

Ketua Panitia PENAS KTNA XVII, Darwin Romy Sjahrain, mengatakan persiapan pelaksanaan kegiatan telah memasuki tahap akhir.
“Saat ini berbagai persiapan teknis maupun nonteknis telah memasuki tahap akhir. Penataan venue, kesiapan pameran inovasi pertanian, akomodasi peserta, hingga dukungan jaringan telekomunikasi terus kami matangkan agar pelaksanaan PENAS KTNA XVII berjalan lancar dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi para petani, nelayan, penyuluh, dan seluruh peserta dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Darwin Romy Sjahrain.
Menurut Darwin yang juga menjabat sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Gorontalo, PENAS KTNA XVII merupakan momentum penting untuk memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
“Tinggal dua hari menjelang pembukaan, seluruh panitia bekerja maksimal untuk memastikan setiap rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Kami ingin para peserta tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi juga memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan akses terhadap berbagai inovasi pertanian yang dapat diterapkan di daerah masing-masing,” katanya.

Salah satu magnet utama dalam penyelenggaraan PENAS kali ini adalah Pameran Inovasi Produk dan Teknologi Pertanian. Di arena tersebut, pengunjung dapat menyaksikan berbagai perangkat modern yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani. Sejumlah perusahaan terkemuka seperti Shark, Corteva, Kubota, hingga STS yang mengembangkan teknologi drone pertanian turut ambil bagian menampilkan inovasi terbaru mereka.
Tidak hanya teknologi mekanisasi, beragam varietas unggulan tanaman pangan dan hortikultura dari berbagai daerah juga diperkenalkan kepada peserta. Cabai Lokal Samia, Mentimun Batara, hingga Kelapa Dalam Bido asal Morotai, Maluku Utara, menjadi sebagian contoh komoditas yang dipamerkan karena memiliki keunggulan produktivitas dan karakteristik budidaya yang menjanjikan.
Sorotan lain tertuju pada Pertanian Modern Model Advanced Agricultural System (PM-AAS), sebuah pendekatan budidaya yang mampu menghasilkan produktivitas padi hingga 10 ton per hektare. Model ini menjadi gambaran bagaimana penerapan teknologi dan tata kelola pertanian modern dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan.


Selain itu, terdapat pula pompa air tenaga surya submersible yang menawarkan solusi penyediaan air bersih sekaligus irigasi berkelanjutan bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik. Teknologi tersebut menjadi ikhtiar penting dalam menjawab kebutuhan petani di kawasan terpencil yang selama ini menghadapi keterbatasan akses energi.
Di bidang pengelolaan lahan, teknologi Surjan turut diperkenalkan sebagai salah satu inovasi yang relevan untuk berbagai kondisi agroekosistem. Metode ini mengombinasikan budidaya padi dengan tanaman hortikultura dalam satu hamparan lahan melalui pengaturan kontur tanah secara berselang-seling. Bagian yang lebih rendah dimanfaatkan untuk sawah, sedangkan bagian yang lebih tinggi digunakan untuk palawija maupun sayuran. Sistem tersebut dinilai mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan sekaligus mendorong diversifikasi produksi pertanian.
Dari Kalimantan Timur (Kaltim), Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengirimkan 60 peserta yang terdiri atas petani, nelayan, penyuluh pertanian, pelaku agribisnis, serta pengurus KTNA. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperluas cakrawala pengetahuan sekaligus menyerap berbagai teknologi yang dapat diterapkan di daerah.
Sebelum bertolak menuju Gorontalo, para peserta dilepas secara resmi oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, pada Kamis, 18 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, peserta diharapkan memanfaatkan PENAS sebagai ruang belajar, bertukar pengalaman, serta membawa pulang berbagai inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas sektor pertanian di Kutim.
Selama kegiatan berlangsung, peserta Kutim yang tergabung dalam Kontingen Kaltim, dijadwalkan mengikuti beragam agenda strategis, mulai dari Rembug Madya, Rembug Utama, temu profesi, pameran produk dan teknologi pertanian, hingga forum diskusi yang mempertemukan petani, nelayan, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah.

Perhatian juga mengarah pada Lomba Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa), salah satu agenda prestisius dalam rangkaian PENAS KTNA XVII. Pada ajang tersebut, Kelompencapir Kutim dipercaya mewakili Provinsi Kaltim untuk bersaing dengan peserta terbaik dari berbagai provinsi di Indonesia.
Turut mendampingi kontingen Kutim dalam kegiatan tersebut yakni Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, Asisten Sekretaris Kabupaten bidang Perekonomian dan Pembangunan Noviari Noor, serta Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kutim Dyah Ratnaningrum.
Sebelum pembukaan resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, rangkaian PENAS KTNA XVII telah diawali dengan sejumlah agenda penting, termasuk Rembug Madya KTNA Nasional yang digelar pada 18 Juni 2026. Forum tersebut menjadi ruang musyawarah strategis yang membahas berbagai isu organisasi sekaligus menentukan arah penyelenggaraan PENAS berikutnya. Dalam forum itu, Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Maluku Utara mulai mengemuka sebagai kandidat yang paling serius mengajukan diri menjadi tuan rumah PENAS KTNA XVIII Tahun 2029.
Melalui perjumpaan gagasan, demonstrasi teknologi, serta jejaring kolaborasi yang terbangun selama kegiatan, PENAS KTNA XVII di Gorontalo diharapkan menjadi simpul penting transformasi pertanian Indonesia. Bukan hanya menghadirkan etalase inovasi, melainkan juga membuka jalan bagi lahirnya praktik-praktik pertanian yang lebih maju, modern, adaptif, dan berdaya saing dalam mewujudkan swasembada serta kedaulatan pangan nasional. (kopi4/kopi3)






























