Wakil Bupati Kutim Mahyunadi saat membuka sekaligus memberikan arahan di Konfercab IX GMNI Kutim. Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi, mengajak seluruh kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) untuk menjadikan semangat persatuan, kolaborasi, dan keberanian menyampaikan kritik sebagai energi positif dalam membangun daerah. Ajakan tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan sekaligus arahan pada pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) IX GMNI Kutim di Ruang Panel Gedung Sekretariat DPRD Kutim, Jumat (10/7/2026).
Mengusung tema “Semangat Marhaenisme Menuju Kutai Timur Berdikari”, kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus GMNI, alumni, unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, serta tamu undangan lainnya.
Mengawali sambutannya, Mahyunadi menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Konfercab IX GMNI serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.

Menurutnya, meskipun tema konferensi menggunakan istilah “berdikari”, semangat yang dibangun memiliki tujuan yang sama dengan visi pembangunan Kabupaten Kutim sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), yakni mewujudkan Kutai Timur Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing.
“Yang terpenting adalah semangatnya sama, yaitu membangun Kutai Timur menjadi daerah yang lebih maju dan masyarakatnya semakin sejahtera. Pemerintah sangat mengapresiasi niat baik dan ketulusan adik-adik GMNI untuk bersama-sama membangun daerah yang kita cintai ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mahyunadi juga menegaskan bahwa pemerintah tidak anti terhadap kritik. Justru, menurutnya, kritik yang membangun merupakan obat yang mampu memperbaiki arah pembangunan daerah.

“Kritik itu ibarat obat. Kadang terasa pahit, tetapi menyembuhkan. Sebaliknya, pujian yang berlebihan justru bisa menjadi racun jika membuat kita terlena. Karena itu pemerintah selalu membuka ruang bagi mahasiswa untuk memberikan masukan,” katanya.
Mantan Ketua DPRD Kutim tersebut mengaku memiliki kedekatan emosional dengan gedung DPRD karena banyak perjalanan organisasi dan politiknya dimulai dari tempat tersebut. Ia mengenang masa-masa aktif membina organisasi kepemudaan hingga menyaksikan lahirnya sejumlah tokoh nasional dan daerah dari Kutim.
Mahyunadi menilai Kutim sejatinya memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat provinsi maupun nasional. Namun, menurutnya, salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah budaya perpecahan yang kerap muncul akibat perbedaan kepentingan politik.
Ia mencontohkan bagaimana tokoh asal Kutim pernah menduduki posisi strategis di tingkat nasional maupun provinsi. Namun dalam perjalanan politik, dukungan masyarakat sering kali terpecah sehingga potensi daerah tidak berkembang secara maksimal.

“Kita harus mulai mengurangi perpecahan. Jangan mudah terpecah hanya karena perbedaan pilihan. Mari biasakan tabayun, saling memahami, dan mendukung potensi yang dimiliki daerah sendiri. Kalau kita kompak, Kutai Timur akan semakin diperhitungkan,” tegasnya.
Mahyunadi menyambut baik pernyataan Ketua DPC GMNI Kutim, Deo Datus Feran Kacaribu yang menyatakan kesiapan organisasi untuk berkolaborasi bersama pemerintah daerah. Ia berharap sinergi tersebut tidak berhenti pada forum konferensi, tetapi diwujudkan melalui berbagai gagasan dan rekomendasi yang dapat mendukung pembangunan daerah.
Pada kesempatan itu, Mahyunadi juga menyinggung pentingnya memperkuat kemandirian fiskal daerah. Menurutnya, Kutim tidak boleh selamanya bergantung pada Dana Bagi Hasil (DBH), meskipun pemerintah daerah tetap memperjuangkan hak daerah agar pembagian DBH sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Ia menjelaskan bahwa anggaran daerah harus mampu diarahkan untuk mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pembangunan sektor pariwisata, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pembangunan infrastruktur penunjang ekonomi masyarakat.
“APBD harus benar-benar kembali kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan dan pembangunan. Kita ingin pendapatan daerah semakin kuat sehingga pembangunan dapat berjalan berkelanjutan,” ujarnya.
Selain itu, Mahyunadi mengingatkan pentingnya pengelolaan aset daerah agar mampu memberikan kontribusi terhadap PAD. Menurutnya, seluruh fasilitas milik pemerintah harus dimanfaatkan secara optimal sesuai ketentuan yang berlaku sehingga dapat mendukung pembiayaan pembangunan.
Di bidang pendidikan, Mahyunadi menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan, termasuk berbagai fasilitas yang dimanfaatkan mahasiswa.
Ia juga mengajak generasi muda agar tidak hanya aktif menyampaikan kritik, tetapi juga menghadirkan solusi dan terus menjaga semangat persatuan.
“Silakan datang menyampaikan aspirasi. Pemerintah terbuka menerima masukan. Yang penting kita bersama-sama menjaga persatuan dan membangun Kutai Timur dengan semangat kolaborasi,” pesannya.
Menutup sambutannya, Mahyunadi mengucapkan selamat atas pelaksanaan Konferensi Cabang IX GMNI Kutim. Ia berharap forum tersebut mampu melahirkan kepengurusan yang solid, rekomendasi organisasi yang konstruktif, serta kader-kader muda yang kelak mampu berkiprah hingga tingkat provinsi maupun nasional.
Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai mitra kritis pemerintah sekaligus agen perubahan yang mampu menghadirkan gagasan bagi kemajuan daerah.
“Pemerintah Kabupaten Kutai Timur siap menerima setiap rekomendasi yang dihasilkan Konfercab ini. Semoga GMNI terus melahirkan kader-kader terbaik yang mampu mengabdikan diri untuk daerah, bangsa, dan negara,” pungkasnya.(kopi15/kopi13/kopi3)
































