Beranda Kutai Timur Partisipasi Posyandu Rendah, Pemkab Kutim Lakukan Strategi Jemput Bola

Partisipasi Posyandu Rendah, Pemkab Kutim Lakukan Strategi Jemput Bola

11 views
0

Kabid Kesmas Dinkes Kutim, Irma Aryani dalam Rakorev TPPS. Foto: Fathul/Bagus Pro Kutim

SANGATTA — Tingkat kehadiran masyarakat ke Posyandu masih menjadi tantangan mendasar dalam upaya percepatan penanganan stunting di Kutai Timur (Kutim). Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi (Rakorev) Tim Percepatan Penanggulangan Stunting (TPPS) di Ruang Arau, Kantor Bupati Kutim, Kamis (23/7/2026).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinkes Kutim, Irma Aryani, membeberkan bahwa angka kunjungan orang tua yang membawa balitanya ke Posyandu masih tergolong minim jika dibandingkan dengan total sasaran yang ada.

“Dari target sasaran sebanyak 35.000 anak, jumlah yang datang memeriksakan diri ke Posyandu baru sekitar 14.000 anak. Itupun kehadirannya cenderung hanya aktif di bulan-bulan tertentu saja,” ungkap Irma di hadapan peserta rapat.

Irma menjelaskan, salah satu pemicu rendahnya partisipasi ini adalah masih kurangnya pemahaman masyarakat, terutama di kawasan pedesaan, mengenai pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala. Selain itu, keterbatasan sarana dan alat edukasi di Posyandu juga menjadi faktor penghambat.

Merespons kondisi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) menyiapkan sejumlah langkah progresif. Selain menggalakkan pemantauan serentak yang melibatkan dinas terkait serta evaluasi data di bulan Agustus mendatang, Dinkes juga menyiapkan inovasi untuk menarik minat warga.

“Kami menempuh strategi jemput bola melalui kunjungan langsung ke rumah-rumah warga (door to door). Untuk memicu antusiasme masyarakat datang ke Posyandu, kami juga berencana menyiapkan program doorprize di tiap Posyandu,” jelas Irma.

Menanggapi fenomena rendahnya partisipasi warga tersebut, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, menegaskan bahwa keaktifan orang tua membawa anak ke Posyandu merupakan kunci utama dalam mendeteksi dan menangani kasus kurang gizi sejak dini.

Mahyunadi meminta seluruh jajaran dari tingkat kabupaten hingga desa untuk mengawal strategi jemput bola tersebut agar tidak ada anak terindikasi stunting yang terlewat dari intervensi medis.

“Pemberian nutrisi dan asupan gizi yang baik sangat penting bagi anak-anak yang memiliki masalah gizi, dan pemantauannya harus dilakukan secara rutin, tidak boleh terputus,” tegas Mahyunadi.

Untuk mendukung keakuratan data sasaran jemput bola di lapangan, Mahyunadi juga menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk menerbitkan Surat Edaran mengenai kewajiban penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dalam setiap pelayanan kesehatan masyarakat.

“Dengan pendataan yang presisi berbasis NIK dan aksi jemput bola yang masif di lapangan, kita harapkan seluruh balita di Kutim dapat terlayani dengan baik sehingga angka stunting bisa kita tekan secara optimal,” pungkas Mahyunadi.(kopi5/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini