Beranda Kutai Timur Kolaborasi Jadi Kunci Kejar Eliminasi AIDS, TB, dan Malaria 2030 di Kutim

Kolaborasi Jadi Kunci Kejar Eliminasi AIDS, TB, dan Malaria 2030 di Kutim

6 views
0

Ketua PPTI dan TP PKK Kutai Timur, Hj. Siti Robiah memimpin Forum Kemitraan Penanggulangan Penyakit ATM. Foto: Vian/Pro Kutim

SANGATTA – Upaya mengakhiri penularan HIV/AIDS, tuberkulosis (TB), dan malaria memasuki babak yang semakin menuntut keterlibatan lintas sektor. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menegaskan, target eliminasi penyakit AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) pada 2030 tidak akan tercapai apabila hanya bertumpu pada layanan kesehatan. Dibutuhkan ikhtiar bersama yang merangkul keluarga, masyarakat, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, hingga pemerintah desa.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Forum Kemitraan Penanggulangan Penyakit AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) yang diselenggarakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim di Aula Dinkes Kutim, Kamis (6/8/2026).

Sebelum forum dimulai, ruang Aula Dinkes Kutim dipenuhi para pemangku kepentingan dari beragam latar belakang. Bukan hanya tenaga kesehatan, tetapi juga organisasi masyarakat, perangkat daerah, hingga perwakilan kecamatan. Pertemuan itu memperlihatkan satu kesadaran yang semakin menguat, memutus rantai penularan HIV/AIDS, tuberkulosis (TB), dan malaria tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi semata.

Forum itu menghadirkan beragam unsur, mulai dari Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia Daerah (KPAID), Dinas Tenaga Kerja, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes), hingga perwakilan Kecamatan Sangatta Utara, Sangatta Selatan, dan Bengalon. Kehadiran berbagai institusi tersebut mencerminkan bahwa pengendalian tiga penyakit menular itu telah menjadi urusan bersama yang menuntut keselarasan langkah.

Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kutim yang juga Ketua TP PKK Kutim, Hj Siti Robiah, mengatakan HIV/AIDS, TB, dan malaria masih menjadi persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian serius karena berpotensi menimbulkan dampak besar apabila tidak segera ditangani.

“Tiga penyakit ini menjadi perhatian bersama karena penularannya bisa terjadi dengan mudah, berbahaya, bahkan dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan baik. Karena itu, saya mengajak masyarakat jangan takut memeriksakan diri jika mengalami gejala atau merasa berisiko. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang untuk sembuh dan mencegah penularan kepada orang lain,” ujarnya.

Menurut Siti Robiah, keberhasilan mencapai target eliminasi pada 2030 tidak mungkin diwujudkan hanya melalui kerja pemerintah. Dukungan keluarga, kader kesehatan, tokoh agama, organisasi masyarakat, pelaku usaha, hingga pemerintah desa menjadi mata rantai penting dalam memperluas edukasi, menemukan kasus lebih dini, mendampingi pasien, sekaligus mengikis stigma yang masih melekat terhadap penderita.

“Kita harus menghilangkan anggapan bahwa penanggulangan HIV, TB, dan malaria hanya tugas Dinas Kesehatan. Semua bisa mengambil bagian. Semakin banyak yang peduli, semakin besar peluang kita mencapai target eliminasi pada tahun 2030,” katanya.

Ia juga menyoroti persoalan yang masih kerap dijumpai pada pasien tuberkulosis, yakni menghentikan pengobatan sebelum waktunya karena merasa kondisi tubuh telah pulih. Pasien TB merasa sudah sembuh lalu berhenti minum obat. Ini yang sangat berbahaya. Pengobatan TB harus dijalani sampai enam bulan sesuai anjuran tenaga kesehatan. 

“Jangan pernah menghentikan pengobatan sendiri hanya karena badan sudah terasa sehat,” tegasnya.

Siti Robiah menjelaskan, masa terapi TB yang relatif panjang memiliki dasar ilmiah. Bakteri penyebab penyakit tersebut, Mycobacterium tuberculosis, berkembang sangat lambat, bahkan sebagian dapat berada dalam fase dorman (kondisi tidak aktif). Oleh karena itu, seluruh rangkaian pengobatan harus dijalani sesuai standar Kementerian Kesehatan agar bakteri benar-benar musnah dan tidak kembali berkembang.

“Kalau pengobatan dihentikan di tengah jalan, bakterinya bisa tetap hidup, penyakitnya kambuh lagi, bahkan bisa menjadi kebal terhadap obat. Kalau sudah kebal obat, pengobatannya akan jauh lebih lama, lebih sulit, dan peluang sembuhnya juga menurun. Karena itu, disiplin minum obat sampai tuntas adalah kunci agar pasien benar-benar sembuh,” jelasnya.

Ia pun mengingatkan pentingnya kehadiran keluarga sebagai penyokong utama selama pasien menjalani proses penyembuhan.

“Jangan mengucilkan pasien. Dampingi mereka, ingatkan untuk minum obat, dan berikan semangat. Dukungan keluarga sangat menentukan keberhasilan pengobatan sekaligus melindungi orang-orang di sekitarnya dari penularan,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan forum kemitraan tersebut dibentuk untuk menyatukan komitmen seluruh pemangku kepentingan agar program pengendalian HIV/AIDS, TB, dan malaria tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, tantangan dalam mengendalikan ketiga penyakit tersebut tidak hanya berada pada aspek pelayanan medis, melainkan juga dipengaruhi perilaku masyarakat, rendahnya kesadaran melakukan pemeriksaan sejak dini, kepatuhan menjalani pengobatan, hingga stigma yang masih membayangi para penderita.

“Kalau hanya mengandalkan Dinas Kesehatan tentu hasilnya tidak akan maksimal. Karena itu kami mengajak semua pihak duduk bersama menyusun langkah yang sama. Melalui forum ini, setiap instansi bisa berkontribusi sesuai tugas dan fungsinya sehingga upaya pencegahan, penemuan kasus, pengobatan sampai pendampingan pasien dapat berjalan lebih optimal,” kata Yuwana.

Forum kemitraan ini menjadi langkah strategis Pemkab Kutim dalam mendukung target nasional eliminasi AIDS, tuberkulosis, dan malaria pada 2030. Lebih daripada ruang koordinasi antarlembaga, forum tersebut diharapkan menjadi wahana untuk menumbuhkan gerakan kolektif yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, organisasi masyarakat, tokoh agama, media, hingga keluarga.

Pada akhirnya, keberhasilan mengakhiri penularan HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria tidak semata diukur dari menurunnya angka kasus. Tolok ukurnya juga terletak pada tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjalani pola hidup sehat, berani melakukan deteksi dini, mematuhi pengobatan hingga tuntas. Serta menghapus stigma terhadap penyintas maupun pasien yang tengah berjuang memperoleh kesembuhan. Dengan kolaborasi yang terajut lintas sektor, harapan menuju Indonesia bebas penyakit ATM pada 2030 menjadi ikhtiar yang semakin nyata. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini