Beranda Kutai Timur Kawal Wajib Belajar 13 Tahun, Orang Tua Diminta Ciptakan MPLS Menyenangkan 

Kawal Wajib Belajar 13 Tahun, Orang Tua Diminta Ciptakan MPLS Menyenangkan 

25 views
0

Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah dalam pembukaan MPLS se-Kutim. Foto: Awal/Pro Kutim

SANGATTA – Hari pertama sekolah selalu menjadi momen mendebarkan, baik bagi anak maupun orang tua. Menyadari pentingnya fase krusial ini, Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Siti Robiah, turun langsung memantau hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (13/7/2026) di SDN 006 Sangatta Utara.

Didampingi Wakil Bupati Kutim Mahyunadi dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Mulyono, kehadiran Siti Robiah membawa pesan penting mengenai transformasi sistem pendidikan daerah. Kutim kini tengah gencar mengimplementasikan program Wajib Belajar 13 Tahun.

Dalam arahannya, Siti Robiah memaparkan alasan mendasar di balik perubahan regulasi tersebut. Jika tahun-tahun sebelumnya wajib belajar hanya menyasar usia 9 dan 12 tahun, kini anak-anak diwajibkan mengikuti satu tahun pendidikan prasekolah di TK sebelum melangkah ke jenjang Sekolah Dasar (SD).

“Kenapa sekarang menjadi 13 tahun? Karena satu tahun di prasekolah sangat penting untuk memaksimalkan masa keemasan (golden age) pertumbuhan otak anak. Di fase itulah kita mempersiapkan karakter, mental, dan kemampuan sosial mereka. Sehingga saat waktunya masuk SD seperti hari ini, anak-anak sudah siap secara mental dan spiritual,” jelas Siti Robiah secara mendalam.

Di hadapan ratusan orang tua wali murid dan majelis guru, perempuan yang dikenal hangat ini menitipkan pesan mendalam. Ia berharap pelaksanaan MPLS tahun ini benar-benar berjalan dengan suasana yang ramah dan menyenangkan, guna mengantisipasi terjadinya trauma sekolah pada anak.

“Saya titip pesan kepada para pendidik, jadikan sekolah ini sebagai rumah kedua bagi anak-anak kita, penuhi dengan kasih sayang. Susun kurikulum MPLS yang kreatif, edukatif, dan rekreatif. Kenalkan ekosistem sekolah siapa gurunya, siapa temannya, bahkan di mana letak toiletnya melalui metode bernyanyi dan bermain,” cetusnya.

Siti Robiah juga menekankan agar proses adaptasi ini bebas dari pemaksaan akademis yang kaku. Selaras dengan program Transisi PAUD ke SD yang menyenangkan, anak-anak usia dini tidak boleh dibebani dengan target wajib membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Sebaliknya, sekolah harus menjadi lingkungan inklusif yang memuliakan hak anak serta bersih dari segala bentuk kekerasan dan perundungan (bullying).

Tidak hanya menyasar pihak sekolah, Siti Robiah mengingatkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Sinergi yang kuat antara rumah dan sekolah sangat menentukan keberhasilan masa depan anak, mengingat keterbatasan waktu anak yang hanya menghabiskan beberapa jam saja di sekolah.

Namun, di luar urusan akademis, Bunda PAUD Kutim ini juga menyelipkan imbauan serius terkait maraknya fenomena penyimpangan perilaku di era modern. Ia meminta orang tua dan guru lebih ketat mengawasi tumbuh kembang mental dan spiritual anak agar tidak salah orientasi, termasuk dalam hal sederhana seperti cara berpakaian anak.

Lebih jauh, ia meminta agar anak-anak mulai diajarkan batasan tubuh sejak dini demi keselamatan mereka sendiri. 

“Dari usia dini, kita harus berikan edukasi dan pendampingan. Kenalkan kepada anak-anak kita bagian tubuh mana saja yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Ini penting agar mereka paham cara melindungi diri dan menjaga kehormatan mereka,” tegasnya.

Melalui pendekatan yang humanis dan sinergi yang kokoh antara orang tua dan pihak sekolah, Siti Robiah optimis anak-anak Kutim dapat tumbuh menjadi generasi pembelajar sepanjang hayat, sekaligus menjadi tumpuan utama dalam menyongsong Indonesia Emas tahun 2045.(kopi5/kopi13/kopi3) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini