Jalannya acara Laporan Hasil Survei IKM RSUD Kudungga tahun 2026. Foto: Miftah/Ronny Pro Kutim
SANGATTA – Tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan RSUD Kudungga Sangatta belum sepenuhnya menutup sejumlah pekerjaan rumah yang masih dirasakan pasien. Meski Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) secara keseluruhan meraih nilai 95 atau masuk kategori Sangat Baik, persoalan waktu tunggu pelayanan masih menjadi sorotan utama.
Temuan tersebut terungkap dalam paparan hasil Survei Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) RSUD Kudungga Sangatta yang disampaikan akademisi Universitas Mulawarman (Unmul), Ratno Adrianto, dalam acara di Ruang Tempudau, Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim), Kamis (23/7/2026).
Dari sembilan unsur pelayanan yang dinilai, unsur waktu tunggu pelayanan menjadi indikator dengan nilai paling rendah, yakni 3,447. Kendati masih berada dalam kategori Baik, capaian tersebut menunjukkan adanya ruang perbaikan yang perlu mendapat perhatian serius dari manajemen rumah sakit.
Keluhan masyarakat terutama berkaitan dengan waktu tunggu di sejumlah titik layanan, mulai dari loket pendaftaran, poliklinik, hingga instalasi farmasi.

Untuknmenjadi perhatian, persoalan waktu tunggu dan kondisi ruang tunggu juga tercatat sebagai keluhan yang konsisten muncul dalam hasil survei selama dua tahun berturut-turut, yakni pada 2025 dan 2026.
“Ini menandakan perlunya intervensi struktural yang menyeluruh dan berkelanjutan dari manajemen RSUD, bukan sekadar perbaikan sesaat,” ujar Ratno saat memaparkan hasil evaluasi.
Temuan tersebut menjadi catatan penting di tengah capaian positif RSUD Kudungga yang berhasil mempertahankan tingkat kepuasan masyarakat pada kategori sangat baik. Artinya, secara umum masyarakat telah memberikan penilaian positif terhadap layanan rumah sakit, namun masih terdapat titik-titik pelayanan yang perlu dibenahi secara lebih spesifik.

Direktur RSUD Kudungga, dr Muhammad Yusuf, mengatakan pihaknya tidak menutup mata terhadap persoalan waktu tunggu yang masih menjadi keluhan masyarakat.
Menurutnya, capaian IKM sebesar 95 merupakan hasil yang patut diapresiasi. Namun, angka tersebut tidak boleh membuat manajemen berpuas diri, terutama karena survei juga menunjukkan adanya indikator pelayanan yang perlu segera diperbaiki.
“Secara akumulatif nilai IKM kita memang cukup bagus di angka 95. Tapi kita tidak menutup mata, unsur waktu tunggu ini adalah indikator utama yang masih membutuhkan perbaikan nyata,” ujar Yusuf.
Ia menjelaskan, persoalan waktu tunggu tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah satu atau dua fasilitas. Manajemen perlu terlebih dahulu memetakan alur pelayanan secara menyeluruh untuk menemukan titik yang menyebabkan terjadinya penumpukan antrean.
“Kita harus gali dulu penyebab pastinya. Apakah kendalanya ada di kerumitan alur pendaftaran, keterlambatan jam praktik dokter spesialis, atau kendala teknis lainnya. Solusinya harus tepat sasaran berdasarkan akar masalahnya,” tegasnya.
Untuk itu, RSUD Kudungga kini mulai mengkaji sejumlah opsi perbaikan. Di antaranya dengan mengevaluasi kapasitas dan alur loket pendaftaran, termasuk kemungkinan penambahan maupun pemisahan loket pada layanan dengan volume kunjungan tinggi.
Selain itu, optimalisasi layanan digital juga menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk memangkas proses administrasi dan mengurangi antrean secara langsung di rumah sakit. Pemanfaatan sistem pendaftaran online, termasuk penguatan penggunaan layanan digital seperti Mobile JKN, dinilai dapat membantu mempercepat proses pelayanan pasien.
Evaluasi juga akan dilakukan pada alur pelayanan di poliklinik, termasuk memastikan kesesuaian antara jadwal pelayanan dengan waktu kedatangan pasien.
“Begitu akar masalah di tiap lini baik di pendaftaran, poli, maupun dokter terpetakan dengan detail, kami akan langsung mengeksekusi solusi terbaiknya,” pungkas Yusuf.
Hasil survei tersebut, kata dia, akan menjadi bahan evaluasi manajemen dalam menyusun langkah perbaikan layanan ke depan. Dengan demikian, capaian IKM yang sangat baik tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diikuti dengan pembenahan pada titik-titik pelayanan yang masih dikeluhkan masyarakat.
Bagi RSUD Kudungga, hasil survei tersebut menjadi dua sisi evaluasi. Di satu sisi, tingginya nilai IKM menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan rumah sakit. Di sisi lain, temuan mengenai waktu tunggu menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas pelayanan harus dilakukan secara berkelanjutan. (kopi8/kopi13/kopi3)































