Teks foto: Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman bersama TPID mengikuti Rakor pengendalian Inflasi Daerah secara virtual. (Vian Pro Kutim)
SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) mulai menimbang langkah baru untuk menjaga kestabilan harga pangan menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Salah satu upaya yang tengah disiapkan ialah mengadopsi Program Cabai Champion, sebuah inisiatif yang mendorong lahirnya petani cabai unggulan agar pasokan komoditas tersebut tetap terjaga di pasar.
Gagasan itu disampaikan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, seusai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah dan Evaluasi Program Tiga Juta Rumah yang digelar secara virtual oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia pada Senin, 16 Maret 2026. Rakor nasional tersebut berlangsung dari ruang rapat Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfo Perstik) Kutim.

Pertemuan tersebut dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir, dan diikuti berbagai lembaga strategis. Antara lain Badan Pusat Statistik, Perum Bulog, Badan Pangan Nasional, serta Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, bersama jajaran forum koordinasi pimpinan daerah dari seluruh penjuru Tanah Air.
Usai mengikuti rapat koordinasi tersebut, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menilai Kabupaten Kutim perlu mulai menyiapkan penerapan Program Cabai Champion dengan melibatkan para petani lokal maupun kelompok tani sebagai penggerak utama produksi cabai di daerah.

Program tersebut dirancang sebagai strategi penguatan produksi hortikultura melalui pembentukan petani atau kelompok tani unggulan yang secara konsisten membudidayakan cabai. Dengan pola tanam yang tertata dan waktu panen yang lebih terencana, pemerintah berharap ketersediaan cabai di pasar dapat terjaga. Sehingga gejolak harga yang lazim muncul menjelang hari besar keagamaan dapat ditekan.
“Cabai ini sering memicu inflasi. Karena itu kita dorong petani di Kutim untuk ikut Program Cabai Champion supaya produksi cabai kita lebih terjaga dan harga di pasar tetap stabil,” ujar Ardiansyah.

Ia menilai penguatan produksi lokal menjadi kunci penting agar ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah berangsur berkurang. Selama ini, sebagian komoditas pangan di Kutim masih bergantung pada distribusi dari wilayah lain.
Di sisi lain, Ardiansyah memastikan bahwa hingga empat hari menjelang Lebaran, harga kebutuhan pokok di Kutim masih relatif terkendali. Ia menegaskan belum terdapat lonjakan signifikan pada berbagai komoditas sembako.
“Alhamdulillah sampai hari ini harga sembako di Kutim masih cukup stabil. Ini karena tim pengendalian inflasi terus bekerja memantau harga dan memastikan stok barang tetap tersedia,” tambahnya.

Stabilitas tersebut, kata dia, tidak lepas dari kerja berkelanjutan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kutim yang rutin memantau dinamika harga serta ketersediaan barang di pasar. Sejumlah langkah pengendalian telah ditempuh, antara lain menggelar operasi pasar, pasar murah, hingga memperlancar distribusi dan rantai pasok komoditas strategis.
Adapun komoditas yang menjadi fokus pengawasan meliputi beras, daging sapi, daging ayam ras, telur, minyak goreng, dan bawang merah. Pengawasan dilakukan untuk memastikan stok tetap tersedia sekaligus mencegah potensi lonjakan harga menjelang Hari Raya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kutim, Nora Ramadani, menyebutkan bahwa beberapa komoditas memang mengalami kenaikan harga menjelang Lebaran. Komoditas yang terpantau naik antara lain cabai, daging sapi, serta daging ayam ras. Meski demikian, kenaikan tersebut dinilai masih berada dalam taraf wajar.
“Ada beberapa komoditas yang naik seperti cabai, daging sapi dan ayam ras, tapi kenaikannya tidak terlalu besar,” ujarnya.
Menurut Nora, selama ini pasokan cabai maupun daging untuk kebutuhan masyarakat Kutim masih banyak didatangkan dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa dan Sulawesi. Kondisi ini membuat dinamika harga di daerah sangat dipengaruhi oleh rantai distribusi antarwilayah.
Melalui berbagai ikhtiar tersebut, Pemkab Kutim berharap stabilitas harga pangan dapat terus terjaga, sementara daya beli masyarakat tetap kuat menyongsong perayaan Idulfitri. Upaya menjaga pasokan, memperlancar distribusi, dan mendorong produksi lokal diharapkan menjadi penyangga agar gejolak harga tidak mengusik ketenteraman masyarakat di hari raya. (kopi4/kopi3)































