Beranda Kutai Timur Distribusi Tersendat, Disperindag Kutim Sidak Agen Minyak Goreng

Distribusi Tersendat, Disperindag Kutim Sidak Agen Minyak Goreng

28 views
0

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim turun langsung ke lapangan melakukan inspeksi mendadak (sidak). Foto: istimewa

SANGATTA – Riak kegelisahan pasar mulai terasa di sejumlah sudut perdagangan bahan pokok di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Ketersediaan minyak goreng yang biasanya hadir tanpa jeda di rak-rak distributor, belakangan tampak menipis. Situasi ini mendorong Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim turun langsung ke lapangan melakukan inspeksi mendadak (sidak), Rabu (13/6/2026).

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi riil pasokan kebutuhan pokok sekaligus memantau pergerakan harga komoditas strategis yang mengalami kenaikan, terutama minyak goreng dan telur ayam ras. Tim monitoring menyambangi beberapa distributor besar di Sangatta, antara lain Top 88, Merdeka, serta Pulau Mas.

Dari hasil penelusuran lapangan, sejumlah merek minyak goreng premium diketahui mulai jarang dijumpai. Produk seperti Bimoli, misalnya, menjadi salah satu yang paling sulit ditemukan akibat keterlambatan distribusi dari luar daerah.


Di distributor Top 88, stok minyak goreng yang tersedia tinggal beberapa merek dengan ukuran kemasan kecil, seperti Saro dan Rose Brand. Pemilik toko menyebut pasokan baru belum juga datang dalam sebulan terakhir, meski pemesanan telah dilakukan sejak menjelang Hari Raya Idulfitri.

Kondisi serupa terlihat di Toko Merdeka. Stok minyak goreng masih tersedia, tetapi dalam jumlah terbatas. Beberapa merek yang masih tersisa antara lain Sabrina, Sip, Jar, Heimark, dan Bimoli. Namun produk kategori premium cepat habis begitu tiba di gudang.

“Begitu barang datang langsung habis diborong pembeli,” ungkap petugas di distributor Pulau Mas.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim, Nora Ramadhani melalui Kepala Bidang Industri Achmad Donny Erviady menjelaskan bahwa sidak ini bertujuan memastikan kondisi pasokan di tingkat agen dan distributor sekaligus mengantisipasi kemungkinan penimbunan barang.

“Hari ini kami turun langsung mengecek agen dan distributor untuk memastikan stok minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya. Jadi kami ingin tahu langsung apa kendala sebenarnya di lapangan,” ujar Donny usai melakukan sidak.

Menurut Donny, tersendatnya distribusi sebagian dipengaruhi oleh meningkatnya biaya operasional serta ongkos pengangkutan barang dari luar daerah. Situasi tersebut tidak hanya memengaruhi minyak goreng, tetapi juga mulai berdampak pada komoditas lain seperti mi instan dan telur ayam. Harga telur ayam ras di Kutim, misalnya, masih berada pada kisaran relatif tinggi meski perlahan menunjukkan kecenderungan menurun. Keterbatasan produksi lokal menjadi salah satu penyebab utama.

Data yang dihimpun menunjukkan suplai telur dari peternak lokal baru mencapai sekitar 147 ton per bulan. Sementara itu, kebutuhan masyarakat Kutai Timur diperkirakan mencapai sekitar 470 ton per bulan. Ketimpangan pasokan tersebut membuat daerah ini masih bergantung pada distribusi dari luar wilayah.

“Distributor mengeluhkan ongkos angkut yang naik cukup tinggi. Jadi pasokan barang masuk lebih lambat dari biasanya. Tapi masyarakat tidak perlu panik karena stok sebenarnya masih ada, hanya beberapa merek tertentu yang terbatas,” jelas Donny.

Untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan pasokan pangan tetap terjaga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kutim menyiapkan sejumlah langkah intervensi. Upaya tersebut antara lain melalui Gerakan Pasar Murah (GPM), operasi pasar rutin, serta optimalisasi Warung Tekan Inflasi (WARTEK).

Selain itu, pemerintah daerah juga membuka kemungkinan pemberian subsidi ongkos angkut distribusi pangan dari luar daerah apabila kondisi distribusi memerlukan intervensi lebih lanjut. TPID juga melakukan pemantauan harian terhadap Indeks Perkembangan Harga (IPH) guna mendeteksi lebih dini gejolak harga di pasar. Pada saat yang sama, kerja sama pasokan antardaerah terus diperkuat agar aliran distribusi bahan pokok tetap terjaga.

Dalam horizon jangka panjang, Kutai Timur didorong memperkuat fondasi produksi pangan lokal. Pengembangan peternakan ayam petelur menjadi salah satu agenda penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah. Di sektor lain, pemerintah daerah juga mulai mendorong hilirisasi kelapa sawit guna menopang industri minyak goreng lokal.
Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan ketahanan pasokan pangan yang lebih tangguh, sehingga denyut ekonomi masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika distribusi komoditas pokok. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini