TPID Kutim Sidak Pasar hingga Agen LPG 3KG. Foto: Lintang Pro Kutim/Ekonomi Setkab Kutim
SANGATTA – Hujan yang mengguyur Kota Sangatta, Senin, (25/5/2026) pagi, tak menyurutkan langkah Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menelusuri denyut pasar dan jalur distribusi kebutuhan masyarakat. Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, pemerintah daerah mulai memperketat pengawasan terhadap stabilitas harga bahan pokok, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), hingga distribusi gas LPG 3 kilogram. Langkah itu ditempuh untuk meredam gejolak harga sekaligus memastikan rantai pasok kebutuhan masyarakat tetap terjaga di tengah meningkatnya permintaan menjelang hari besar keagamaan.
Inspeksi mendadak (sidak) dilakukan TPID bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Bagian Ekonomi Sekretariat Kabupaten Kutim. Pemantauan dipimpin langsung Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setkab Kutim, Noviari Noor. Rombongan menyisir sejumlah titik strategis, mulai dari Pasar Induk Sangatta, lokasi penjualan sapi kurban di Jalan AW Syahranie, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), hingga agen LPG 3 kilogram PT Anugrah Bustani Bersaudara di kawasan Yos Sudarso II, Sangatta Utara.

Di Pasar Induk Sangatta, denyut aktivitas perdagangan tampak masih bergerak normal. Pedagang daging sapi dan ayam tetap melayani pembeli dengan stok yang dinilai mencukupi kebutuhan masyarakat menjelang Idul Adha. Harga dua komoditas utama tersebut juga relatif stabil. Kendati demikian, perhatian TPID tertuju pada lonjakan harga cabai yang dalam beberapa hari terakhir merangkak naik akibat gangguan distribusi pasokan.
“Harga cabai di lapangan saat ini mencapai sekitar Rp90 ribu per kilogram, padahal dua hari sebelumnya masih berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut dipicu terganggunya pasokan distribusi,” ujar Noviari.

Ia menjelaskan, di tingkat agen harga cabai masih berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram. Selisih harga itu memperlihatkan adanya tekanan distribusi di tingkat pasar yang berpotensi memantik inflasi apabila tidak segera dikendalikan. Menurut Noviari, pemerintah daerah akan terus melakukan pemantauan terhadap komoditas strategis menjelang Idul Adha agar lonjakan harga tidak semakin membebani masyarakat.
Pemantauan berikutnya dilakukan terhadap hewan kurban di kawasan Jalan AW Syahranie. Di lokasi tersebut, tim memastikan sapi-sapi yang masuk dari luar daerah telah melewati proses karantina dan pemeriksaan kesehatan secara ketat.

“Seluruh hewan yang masuk sudah dikarantina dengan ketat. Tingkat kesehatannya aman dan bebas virus,” kata Noviari.
Pemeriksaan itu dinilai penting bukan hanya untuk menjaga keamanan pangan, melainkan juga memberi kepastian kepada masyarakat bahwa hewan kurban yang beredar layak dikonsumsi.
Sementara itu, suasana berbeda terlihat di SPBU Jalan AW Syahranie. Deretan kendaraan angkutan pengangkut solar subsidi mengular cukup panjang. Kondisi tersebut sempat memantik kekhawatiran masyarakat terkait ketersediaan BBM menjelang Idul Adha.

Namun setelah dilakukan pengecekan, antrean panjang itu diketahui menggunakan sistem nomor antrean yang dikelola organisasi perkumpulan truk guna menghindari penumpukan kendaraan sekaligus meminimalkan potensi penyalahgunaan distribusi solar subsidi.

Pengelola SPBU menjelaskan pelayanan solar subsidi dibatasi hingga pukul 12.00 WITA lantaran kuota yang tersedia belum sebanding dengan tingginya kebutuhan kendaraan angkutan. Meski demikian, stok BBM nonsubsidi dipastikan masih aman. Distribusi pasokan dari Samarinda menuju Kutim juga disebut berjalan lancar sehingga kebutuhan masyarakat diperkirakan tetap terpenuhi selama periode Idul Adha.
Pemerintah daerah, kata Noviari, terus mengupayakan penambahan kuota solar subsidi melalui Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) guna mengurangi tekanan antrean di lapangan.

Pemantauan kemudian berlanjut ke agen LPG 3 kilogram PT Anugrah Bustani Bersaudara. Dari hasil sidak, distribusi gas bersubsidi di Kutim masih berlangsung normal, bahkan menjangkau kecamatan-kecamatan terjauh seperti Wahau, Bengalon, Karangan, hingga Busang. Distribusi LPG dari pangkalan ke pengecer masih diperbolehkan, tetapi dibatasi maksimal 10 persen dari total kuota guna mencegah penimbunan maupun permainan harga di tingkat bawah. Untuk harga LPG 3 kilogram, di tingkat agen dijual sekitar Rp21 ribu per tabung. Sementara di wilayah kecamatan terjauh, harga dapat mencapai Rp35 ribu per tabung menyesuaikan biaya distribusi.

Secara umum, hasil sidak menunjukkan stok kebutuhan pokok, BBM, dan LPG di Kutim masih dalam kondisi aman menjelang Idul Adha. Meski begitu, pemerintah daerah menegaskan pengawasan distribusi akan terus diperketat, terutama terhadap komoditas yang rentan mengalami lonjakan harga maupun keterlambatan pasokan.
Di tengah cuaca basah dan jalanan yang dipenuhi kendaraan distribusi, sidak itu menjadi ikhtiar pemerintah daerah menjaga denyut kebutuhan masyarakat tetap terkendali. Sebab menjelang hari raya, kestabilan pasokan bukan semata perkara angka inflasi, melainkan juga menyangkut ketenteraman warga dalam menyambut hari besar keagamaan. (kopi17/kopi4/kopi3)





























