Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman saat memberikan sambutan di peresmian Jembatan Nibung. Foto: Irfan/Pro Kutim
KAUBUN – Penantian panjang masyarakat di pedalaman Kabupaten Kutai Timur (Kutim) untuk memiliki akses darat yang mumpuni akhirnya berbuah manis. Peresmian Jembatan Kaubun oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur Pemprov Kaltim) tidak hanya menyambungkan dua wilayah yang terpisah sungai, tetapi juga memangkas jarak tempuh darat hingga 100 kilometer.
Proyek infrastruktur yang berlokasi di Kecamatan Kaubun ini memiliki sejarah panjang yang berliku. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, mengungkapkan bahwa perjalanan jembatan ini dimulai sejak tahap perencanaan dan pemancangan fondasi pertama pada tahun 2014. Namun, pengerjaannya sempat mengalami mati suri.
“Sempat terhenti selama lima tahun sejak 2016. Saat itu di lapangan baru terbangun sebagian fondasi bawah tiang pancang,” ujar Ardiansyah dalam sambutannya di lokasi peresmian, Selasa (24/2/2026) disaksikan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud didampingi Anggota Komisi VI DPR RI Sarifah Suraidah Harum, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, jajaran Anggota DPRD Kaltim Dapil Kutim, Bontang dan Berau yakni Budianto Bulang, Apansyah, Agus Aras, Agusriansyah Ridwan dan Arfan, Wakil Ketua I DPRD Kutim Sayid Anjas hingga undangan terkait yang hadir.

Kemudian ditambahkan Bupati Ardiansyah, titik balik pembangunan baru terjadi pada tahun 2021 melalui audit teknis, yang kemudian disusul dengan kelanjutan fisik pada 2022 hingga tuntas sepenuhnya pada awal tahun ini. Untuk itu, kehadiran jembatan ini membawa dampak signifikan bagi mobilitas warga Desa Pelawan dan sekitarnya. Sebelum jembatan ini berdiri, warga harus memutar melalui jalur Karangan dengan selisih jarak mencapai 100 kilometer. Pilihan lainnya adalah menggunakan transportasi air yang sangat bergantung pada alam.
“Kalau lewat sungai, waktunya tidak menentu. Jika air surut, warga bisa menunggu hingga empat jam sampai pasang lagi agar bisa melintas. Dengan jembatan ini, efisiensi waktu yang didapatkan masyarakat sangat besar,” tambah Ardiansyah.
Secara teknis, total struktur yang dibangun mencapai panjang 1,2 kilometer. Konstruksi ini mencakup jalan akses sepanjang 3,5 kilometer di satu sisi dan 1,5 kilometer di sisi lainnya. Struktur jembatan menggunakan kombinasi pile slab sepanjang 135 meter dan 700 meter, serta jembatan pendekat dengan struktur girder beton.

Pembangunan jembatan ini menelan anggaran yang tidak sedikit, mencerminkan komitmen pemerintah dalam memeratakan infrastruktur. Pada kontrak tahun jamak 2025, penyelesaian bangunan atas di sisi Kadungan mencapai Rp 42 miliar, sementara di sisi Pelawan mencapai Rp 135 miliar. Adapun bentang tengah jembatan menelan biaya sebesar Rp 98 miliar.
Meski fisik bangunan sudah rampung 100 persen, otoritas setempat masih akan melakukan uji beban (load test) untuk memastikan keamanan kendaraan berat yang melintas.
“Untuk kendaraan roda empat biasa tanpa muatan dan sepeda motor, silakan mulai besok sudah bisa melintas. Hari ini kami mohon waktu untuk membersihkan area panggung peresmian terlebih dahulu,” kata Bupati sembari berseloroh kepada warga yang antusias.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud yang hadir meresmikan jembatan tersebut menekankan bahwa infrastruktur ini adalah urat nadi ekonomi baru. Dengan terhubungnya jalur ini, distribusi logistik diharapkan lebih cepat dan murah, sehingga mampu menekan disparitas harga kebutuhan pokok di wilayah pelosok Kutim.
“Kini, jembatan yang sempat mangkrak itu telah berdiri kokoh, menepis jarak, dan mengalirkan asa baru bagi warga Kaubun dan Sangkulirang,” urainya singkat.(kopi13/kopi3)





























