Suasana Kutim Berzakat. Foto: Vian Prokutim
SANGATTA – Ruang Meranti di Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim), Bukit Pelangi, Selasa (10/3/2026), menjadi saksi perbincangan mengenai satu potensi besar yang selama ini masih belum sepenuhnya terhimpun, yakni zakat. Dalam kegiatan Kutim Berzakat yang turut dihadiri Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, perhatian publik tertuju pada pemaparan Ketua Baznas Kutim, Masnip Sofwan, mengenai peluang filantropi keagamaan yang sejatinya amat menjanjikan di daerah ini.
Di hadapan para undangan, Masnip menguraikan bahwa berdasarkan perhitungan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kutim, potensi zakat di wilayah tersebut diperkirakan mencapai Rp 920,870 miliar setiap tahun. Angka itu menggambarkan betapa luasnya ruang partisipasi masyarakat dalam menunaikan kewajiban zakat sekaligus memperkuat jaring pengaman sosial. Namun realitas yang terhimpun di lapangan masih terpaut jauh dari estimasi tersebut.
“Sepanjang tahun 2025, zakat yang berhasil dikumpulkan Baznas Kutim baru mencapai sekitar Rp 21,919 miliar,” sebutnya.

Kendati demikian, dana yang berhasil terhimpun itu tetap memiliki makna penting bagi masyarakat yang membutuhkan. Melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan, dana zakat tersebut telah disalurkan kepada 28.161 mustahik. Penyaluran itu menjangkau beragam ranah kehidupan, mulai dari sektor pendidikan, bantuan sosial kemasyarakatan, hingga program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Masnip memaparkan, sepanjang 2025 Baznas Kutim menjalankan sejumlah ikhtiar programatik yang menyasar berbagai lapisan warga. Di bidang pendidikan, misalnya, Baznas menyalurkan beasiswa pendidikan tinggi bagi mahasiswa yang menempuh studi di STEI SEBI dan Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Program tersebut dimaksudkan untuk membuka jalan bagi generasi muda agar tetap dapat melanjutkan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi.
Pada ranah kemanusiaan, Baznas juga menyalurkan bantuan tanggap darurat bagi warga yang terdampak kebakaran di wilayah Sangkulirang dan Bengalon. Di samping itu, lembaga tersebut memberikan bantuan hidup bagi warga lanjut usia, dukungan terhadap upaya penurunan stunting, serta pemberdayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ikhtiar penguatan ekonomi turut diwujudkan melalui program Santripreneur di Pondok Pesantren Fahrisul Qur’an Bengalon. Dalam program tersebut, para santri mengelola usaha ternak ikan sebagai wahana pembelajaran kemandirian ekonomi sekaligus pengasahan keterampilan wirausaha.
Di balik deretan angka penyaluran bantuan itu, tersimpan kisah manusia yang merasakan secara langsung manfaat dari zakat. Nurimuri Supriahtin, salah seorang mustahik penerima bantuan kesehatan, mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan yang diterimanya.
“Alhamdulillah bantuan ini sangat membantu saya untuk berobat. Kami orang kecil kadang kesulitan untuk biaya kesehatan. Terima kasih kepada Baznas dan para pemberi zakat yang sudah peduli kepada kami,” ucapnya dengan haru.
Ungkapan serupa disampaikan Mariasih, pengurus Panti Jompo Al Maghfiroh. Ia menuturkan bahwa bantuan dari Baznas memberi arti besar bagi para lansia yang tinggal di panti tersebut.
“Di panti kami ada beberapa orang tua yang sudah tidak punya keluarga lagi. Bantuan dari Baznas sangat membantu kebutuhan mereka sehari-hari. Kami sangat bersyukur karena masih banyak orang baik yang peduli kepada mereka,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Pemaparan itu menjadi pengingat bahwa zakat bukan semata angka dalam laporan keuangan. Di dalamnya terdapat harapan, kepedulian, serta ikhtiar kolektif masyarakat untuk saling menopang. Potensi yang masih luas terbentang itu kini menunggu kesadaran dan partisipasi yang lebih besar agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak kehidupan. (kopi4/kopi3)
































