SANGATTA – Upaya memperluas literasi kesehatan bagi masyarakat terus bergulir di ruang tunggu lobi rawat jalan rumah sakit umum daerah (RSUD) Kudungga, Sangatta, Rabu, (11/3/2026). Di sela waktu menanti pelayanan medis, para pengunjung kembali mengikuti sesi edukasi kesehatan yang kali ini mengangkat tema seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK). Periode penting yang dimulai sejak 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari setelah bayi lahir.
Kegiatan ini masih dipandu oleh pemateri yang sama pada sesi sebelumnya, yakni Kepala Bidang Keperawatan RSUD Kudungga, Yuliana Kalalembang. Ia menyampaikan materi di hadapan para pengunjung rawat jalan yang tengah menunggu giliran pemeriksaan. Ruang tunggu yang biasanya dipenuhi percakapan ringan para pasien dan keluarga perlahan berubah menjadi ruang pembelajaran sederhana yang sarat manfaat.
Sebagian peserta yang hadir tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Sangatta. Beberapa di antaranya datang dari kecamatan lain di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), seperti Rantau Pulung, yang kebetulan sedang menjalani pemeriksaan kesehatan di rumah sakit tersebut.
Dalam penjelasannya, Yuliana Kalalembang menekankan bahwa masa 1000 hari pertama kehidupan merupakan fase yang sangat menentukan kualitas kesehatan anak pada masa mendatang.

“Seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Masa ini sangat penting karena menjadi fondasi bagi pertumbuhan dan perkembangan anak,” ujarnya di hadapan para pengunjung.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan pemenuhan kebutuhan pada periode tersebut tidak hanya bergantung pada ibu, melainkan juga memerlukan dukungan keluarga, terutama suami.
“Peran suami sangat penting dalam menyiapkan masa 1000 hari pertama kehidupan. Dukungan kepada ibu hamil, baik secara fisik maupun psikologis, akan membantu ibu menjalani kehamilan dengan lebih tenang,” kata Yuliana.
Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek yang perlu diperhatikan keluarga selama masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Salah satunya adalah pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan bayi, yang menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan anak sejak dalam kandungan.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya pemberian ASI eksklusif, pelaksanaan program keluarga berencana (KB), serta pemeriksaan kesehatan secara rutin selama masa kehamilan.
“Pemeriksaan selama hamil sangat penting untuk memantau kondisi ibu dan janin. Begitu juga dengan imunisasi bagi ibu hamil dan bayi, yang menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan keduanya,” tuturnya.
Edukasi tersebut juga menyinggung berbagai persiapan menjelang persalinan, mulai dari pemilihan tempat bersalin, penolong persalinan, hingga kesiapan kebutuhan pendukung seperti transportasi dan biaya persalinan.

“Semua persiapan ini diharapkan dapat memberi ketenangan bagi keluarga dalam menghadapi persalinan hingga bayi berusia dua tahun,” ujarnya.
Kegiatan edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pengunjung rumah sakit. Di sela waktu tunggu pelayanan kesehatan, mereka memperoleh tambahan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Harapannya, ruang tunggu rumah sakit tidak hanya menjadi tempat menanti layanan medis, melainkan juga menjadi ruang edukasi yang terus menghadirkan pengetahuan kesehatan bagi masyarakat yang datang silih berganti setiap hari. (kopi3)































