Beranda Kutai Timur Ajak “Healing” ke Alam dan Sembuh dalam Keheningan 

Ajak “Healing” ke Alam dan Sembuh dalam Keheningan 

15 views
0

Ustaz Hanan Attaki dalam tausiahnya di hari kedua di Masjd Agung Al Faruq Sangatta.Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA – Pelataran ruang utama di dalam Masjid Agung Al Faruq di kawasan Bukit Pelangi, Sangatta, pada Minggu pagi, (26/4/2026) dipadati ribuan jemaah. Mereka datang dari beragam lapisan usia, dari kawula muda hingga orang tua. Datang untuk menyimak tausiah yang disampaikan oleh Ustaz Hanan Attaki. Di antara jemaah tampak hadir Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman bersama istrinya, Siti Robiah.

Pagi itu, ruang ibadah yang luas tersebut menjelma seperti hamparan samudra manusia. Ribuan pasang mata tertuju pada panggung sederhana tempat sang pendakwah memyampaikan tausiah. Suasana aktivitas kawasan Bukit Pelangi itu berubah menjadi ruang khidmat yang sarat perhatian. Para jemaah menyimak dengan saksama uraian yang tidak hanya bernuansa religius, tetapi juga mengajak merenungkan ulang hubungan manusia dengan alam dan kesehatan batin.

Dalam kajian tersebut, Hanan Attaki menguraikan apa yang ia sebut sebagai life hacks (kiat hidup) ala Nabi Muhammad SAW. Sebuah cara hidup yang sederhana, namun menurutnya sangat relevan dengan kegelisahan manusia modern. Ia menyinggung kecenderungan manusia masa kini yang semakin terjerat dalam kebisingan digital, seolah hidup di tengah arus informasi tanpa jeda yang perlahan menjauhkan manusia dari ketenangan alam.

Sehari sebelumnya, Sabtu malam (25/4/2026), Hanan juga menyampaikan tausiah di Gedung Buana Mekar, Jalan Yos Sudarso I, Sangatta Utara, yang dihadiri Mahyunadi. 

Dalam ceramah sesi kedua ini, Hanan mengajak jemaah mengubah cara pandang atau point of view (sudut pandang) mengenai standar kemewahan. Menurutnya, rumah mewah bukan sekadar bangunan bertingkat dengan tembok beton tebal. Kemewahan yang sejati justru terletak pada hunian yang selaras dengan alam—nature friendly (ramah lingkungan).

“Rumah yang mewah adalah rumah yang banyak pohonnya,” kata Hanan Attaki.

Ia membedah sirah Nabi melalui sudut pandang yang jarang dikemukakan, memadukan pendekatan etologi (ilmu tentang perilaku makhluk hidup) dengan gagasan arsitektur sehat. Serta ekologi, yaknk ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan kondisi alam sekitar.

Rumah Nabi yang dibangun dari unsur tanah, menurutnya, bukan semata lambang kezuhudan. Di balik kesederhanaannya tersimpan konsep hunian yang menunjang kesehatan jasmani sekaligus ketenteraman batin.

“Bangunan yang paling sehat itu terbuat dari unsur tanah yang belum bercampur elemen kimia. Itulah kenapa Nabi sehat dan bahagia, karena rumahnya grounding (teknik menghubungkan diri dengan bumi atau momen saat ini untuk meredakan stres, kecemasan, dan emosi meluap),” ungkap Hanan.

Ia kemudian menyinggung paradoks modernitas, zaman yang menawarkan berbagai kemudahan teknologi, tetapi secara perlahan mengasingkan manusia dari alam. Menurutnya, penyejuk udara buatan tidak akan mampu menggantikan kesegaran oksigen dan keteduhan yang dihadirkan oleh pepohonan yang rimbun.

Karena itu, ia menganjurkan jemaah menjadikan pohon sebagai “penyejuk alami” di lingkungan rumah.

“Kenapa hari ini kita terluka secara mental susah sembuhnya? Karena kita healing-nya di ruang ber-AC, pakai sepatu, dan jauh dari alam. Harusnya healing itu dengan angin dari pohon,” tambahnya.

Dalam bagian lain tausiah, Hanan menyinggung relasi manusia dengan makhluk hidup lain. Ia mengajak hadirin menghentikan kebiasaan mengeksploitasi hewan demi kesenangan pribadi. Ia mencontohkan kegemarannya mengamati burung. Alih-alih memelihara burung dalam sangkar, ia memilih menciptakan ekosistem kecil di sekitar rumah dengan menanam pohon serta menyediakan air minum agar burung liar datang dengan sendirinya.

“Kalau ingin dengar kicauan burung, tanam pohon, nanti mereka datang. Itu jauh lebih indah daripada melihat burung yang stres di dalam sangkar. Itu cara yang lebih friendly,” tuturnya.

Menjelang akhir kajian, Hanan Attaki memperkenalkan kembali konsep khalwah, sebuah istilah dalam tradisi spiritual Islam yang kini sering disepadankan dengan me time (waktu menyendiri). Namun, ia menegaskan bahwa esensi khalwah bukan sekadar menyendiri sambil tetap sibuk dengan gawai.

Rahasia utamanya, kata dia, adalah keheningan.

Ia menyoroti derasnya arus informasi di media sosial yang sering dipenuhi perdebatan, kontroversi, dan ujaran yang memicu kegaduhan pikiran. Aktivitas scrolling (menggulir layar), menurutnya bukan bentuk kesunyian, melainkan justru menambah kebisingan atau noise (keriuhan informasi) di dalam benak manusia.

“Otak kita akan sembuh dalam keheningan, dalam diam, dan kesendirian. Ia tidak bisa sembuh jika penuh dengan noise toksik di sekelilingnya,” tegas Hanan.

Ia kemudian merujuk pada kisah Nabi yang memilih tahannuts (menyendiri untuk merenung) ketika menghadapi tekanan mental dari masyarakat jahiliah. Dalam sunyi yang mendalam, saat malam telah larut dan kegaduhan dunia mereda, manusia, menurutnya, lebih mudah memahami kata-kata yang baik dan menjalin dialog batin dengan Tuhan.

Di tengah dunia yang semakin riuh oleh notifikasi dan percakapan digital, pesan itu terasa seperti ajakan sederhana, kembali kepada alam, kembali kepada sunyi. (kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini